
Hari ini, adalah hari di mana aku diwisuda dengan mahasiswa/i lainnya. Di bangku, sudah ada kedua orang tua Pak Malik juga dirinya yang menemaniku.
Meskipun ada perasaan sedih, seharusnya Mama dan Papa bisa melihat anak tunggalnya ini di wisuda dan menyelesaikan skripsinya tepat waktu.
"Selamat, ya, Sayang," puji mertuaku dan memelukku erat. Mereka kembali ke Indonesia saat tahu bahwa Mama dan Papa meninggal karena korban kecelakaan.
Rencananya, mereka akan pergi kembali ke luar negri nantinya. Aku pun dan Pak Malik sudah disuruh untuk liburan dulu beberapa hari.
Agar, aku bisa kembali semangat menjalani hidup meski tanpa ada orang tuaku lagi di dunia ini.
"Kita foto-foto, yuk!" ajak mertuaku dan langsung kuangguki. Di luar gedung sudah ada tukang foto, sepertinya memang sengaja Mama sewa.
Kami berfoto dengan senyuman yang kupaksakan dan berkali-kali disuruh oleh Mama.
"Pak, habis ini kita ke makam, ya," ajakku dan langsung diangguki oleh Pak Malik.
"Jangan Bapak lagi, dong! Kan, udah gak jadi mahasiswi lagi," goda Mama dan membuat aku tersipu malu karena hal itu.
***
"Assalamualaikum, Ma. Apa kabar? Bagaimana di sana?" tanyaku menatap papan yang bertuliskan nama Mamaku.
"Abibah udah lulus, lho. Abibah udah jadi sarjana saat ini, seharusnya Mama dan Papa bisa liat Abibah dan kalian marahi Abibah karena pasti Abibah akan bujuk kalian agar beri izin untuk Abibah nyambung S2-nya."
"Tapi ... kalian sepertinya udah malas buat ladenin rengek-an dari Abibah, ya? Sampe pergi ke tempat yang jauh sekali." Aku bercerita dengan menatap ke sebelah kanan dan kiri. Kuburan Mama dan Papa sampingan, Pak Malik kusuruh menunggu di mobil saja karena aku ingin bercerita bertiga dengan gundukan tanah yang menutup jasad kedua orang tuaku.
Aku kembali runtuh dalam tangisan, terisak begitu memilukan. Kupeluk lututku dan membenamkan wajah ini.
Kuhela napas ketika merasa bahwa tak seharusnya aku begini, menghapus jejak air mata dan tersenyum menatap papan nama mereka satu per satu.
"Doakan Abibah, ya, agar bisa kuat dan kembali bangkit dalam menjalani hidup ini. Abibah sayang sama kalian berdua, terima kasih sudah menjadi orang tua terbaik. Abibah pulang dulu, ya, Ma, Pa."
Bunga yang sengaja kubeli sudah kutaburkan, dengan peralatan wisuda di atas kepala aku berjalan menjauh dari peristirahatan terakhir orang tuaku.
__ADS_1
Ternyata, Pak Malik tak benar-benar duduk di dalam mobil menunggu. Dia menatapku dari luar mobil dengan bersandar.
"Sudah?" tanyanya dengan raut khawatir dan langsung kubalas dengan anggukan.
"Kita ke rumah Mama dan Papa saya aja, ya, kita disuruh ke sana untuk beberapa malam sebelum mereka kembali pulang," jelas Pak Malik yang langsung kuangguki kembali dan tersenyum ke arahnya.
Ia langsung membukakan pintu samping bangku dan menyuruh aku masuk, setelahnya ia memutari mobil dan masuk ke bangku di sampingku.
"Abibah, hidup terus berjalan Nak. Kamu gak bisa terus-terusan terpuruk seperti ini, mulailah hidupmu kembali seperti dulu lagi. Kau tak sendiri, ada Mama, Papa dan suamimu yang akan selalu berada di belakangmu," kata mertuaku menasehatiku di pinggir ranjang kamar dengan mengusap tangan ini seolah memberi kekuatan.
Aku menatap ke arah tangannya tersebut dan melihat ke arah wajahnya, "Bismillah, Ma. Jangan berada di belakang Abibah karena sekarang sudah tak ada Mama dan Papa di depan Abibah yang melindungi. Tapi, berada di samping Abibahlah. Kuatkan Abibah dalam melangkah ke depan dengan kita yang bersama-sama," kataku dengan mata yang sudah berembun.
Mama Dwi mengangguk dan tersenyum padaku, dirinya lansung memeluk tubuh ini, "Menangislah, jadikan ini adalah tangisan untuk terakhir kalinya. Setelah ini, tak adalagi tangisan-tangisan tentang hal apa pun itu," lirih mama Dwi yang kudengar jelas.
Sekitar 5 menit kami berpelukan, mama Dwi melepaskan dan menghapus jejak air mata di wajahku.
"Yuk, kita makan!" ajak mama Dwi dan bangkit dengan tangan yang terulur. Aku langsung menyambut dan kami keluar dari kamar bersama-sama.
Hingga bulan pun menyinari langit aku baru keluar itu pun setelah dibujuk oleh mama Dwi karena saat Pak Malik mengajak aku menolak dengan keras.
"Mama dan Papa akan pulang lusa, setelah ini kalian akan liburan ke mana?" tanya Mama membuka pembicaraan di sela-sela makan malam dan suara dentingan sendok.
"Ke Bandung atau Bogor, Ma," timpal Pak Malik dan langsung kutatap ke arahnya yang ternyata ia juga menatap aku.
"Kenapa gak luar negri aja?"
"Gak perlu Ma, kita mau di dalam negri aja."
"Baik, mau berapa lama?"
"Mmm ... 4 hari cukup kayaknya," ujar Pak Malik menatap ke arahku dengan menaikkan alisnya seolah bertanya aku setuju atau tidak.
"Iya, Ma. 4 hari aja cukup," timpalku yang paham dan langsung menatap ke arah Mama.
__ADS_1
"Gak-gak-gak," potong Papa sambil mengunyah makanan, "4 hari mana cukup untuk buat cucu Mama dan Papa."
"Uhuk!" Aku tersedak mendengar kalimat Papa dan segera mengambil air minum agar makanan yang tersangkut bisa turun ke perut.
"Bener juga yang Papa bilang itu, sih! Mama setuju, seminggu aja kalian di Bandung atau Bogornya!" timpal Mama satu pemikiran dengan Papa.
Apa yang mereka bahas? Cucu? Cucu apa, siapa yang akan beri mereka cucu. Masa, aku? Yang bener saja astaga.
Kulirik ke arah Pak Malik, dia hanya diam. Apa dia setuju dengan ucapan orang tuanya tadi.
***
"Woy, Abibah! Kapan cafe akan buka?" tanya Aulia dari sebrang sana dengan aku yang sudah berada di kamar sendirian.
"Lah, masih butuh kerjaan jadi barista emangnya lu?" kekehku kecil diakhir kata.
"Ye, masihlah! Dari mana gue dapat duit, ntar kalo gak dari ntuh cafe?" ketus Aulia.
"Kenapa gak coba kerja di kantor aja? Kan, sayang tuh gelar."
"Lu kira ini negara apa? Kalo lu gak ada orang dalam, jangan mimpi akan mudah masuk ke dalam perkantoran!"
"Hmm ... iya, juga, sih."
"Eh, lu kenapa kagak cerita-cerita sih kalo nikah sama Pak Malik, ha? Kenapa gak ngundang gue juga? Astagfirullah, Abibah. Apa lu lupa sama sahabat dan temen lu sendiri ini?"
"Emang cuma khusus keluarga doang waktu itu yang diundang."
"Berarti akan ada resepsinya? Kapan?" tanya Aulia yang membuat aku berpikir, "mending buat, agar orang tau bahwa Pak Malik itu udah punya bini dan orang juga tau lu udah punya suami!"
"Lu juga lebih diakui oleh orang-orang kalo lu itu istrinya, agar pada minggir semua yang ingin mendekat. Emangnya lu mau bergelar istri tapi yang tau cuma keluarga doang sedangkan rekan kerja bahkan mahasiswa/i gak tau kalo Pak Malik tuh dah punya bini," sambung Aulia yang ada benarnya juga.
Namun, aku sebenarnya sama sekali tak masalah. Biarlah, jika mereka ingin mengadakan resepsi maka tak apa. Jika tidak pun tak apa juga.
__ADS_1