Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Kembali


__ADS_3

Pesawat baru mendarat di Indonesia, seorang wanita cantik dan pakaian yang lumayan seksi keluar dari pesawat tersebut.


Dengan kacamata yang bertengger di hidung mancung miliknya, ia berjalan masuk ke dalam bandara untuk menunggu jemputan.


"Aku sudah tak sabar untuk menemuimu, aku begitu rindu padamu," gumamnya dengan tersenyum merekah.


***


Aku dan Pak Malik sudah sampai di apartemen, kami kembali ke tempat ini meskipun mertuaku sudah menyuruh untuk tinggal di tempatnya saja.


Namun, aku menolak akan hal itu. Karena, lebih nyaman tinggal di sini. Selain tak terlalu besar, aku jadi mudah dan tak terlalu letih untuk membersihkannya.


"Abibah, apa kau masih marah padaku?" tanya Pak Malik dengan aku yang merebahkan tubuh akibat lelah.


"Hmm," dehemku dengan mata yang terpejam.


"Aku ikutan tidur di sini, ya," pintanya yang mungkin juga kecapean.


"Di sofa 'kan bisa!" ketusku membuka mata dan membelakanginya.


"Huft ... baiklah," pasrahnya dan berlalu keluar kamar.


Bukannya merasa iba, aku malah tertidur pulas tanpa merasa kasihan dengan laki-laki tersebut. Lagian, salah sendiri kenapa malah mau menjawab pertanyaanku soal mantan.


Mau tak mau Malik akhirnya merebahkan tubuhnya di sofa, ia memijit pangkal hidungnya merasa bingung dengan Abibah.


"Cewek sangat aneh, ya, dia yang nanya giliran dijawab dia juga yang marah. Mangkanya seharusnya jangan nanya biar gak dijawab. Oke, sekarang aku tau. Gak boleh bahas-bahas masa lalu meskipun dia nanya," kata Malik menatap platfon.


"Aku buatin makanan aja nanti, sebagai tanda minta maaf. Mana tau, dengan begitu dia luluh dan mau maafin aku."


"Eh, kenapa aku harus repot-repot cari cara agar dia mau maafin aku? Apa jangan-jangan aku beneran udah jatuh cinta sama tuh anak kelinci?" sambung Malik dan refleks duduk termenung.


"Iya, kayaknya gue udah jatuh cinta sama tuh anak kelinci. Argg ... dasar!" gerutu Malik menggaruk kepalanya frustasi.


Malik mencoba untuk tidur, berkali-kali dirinya mencoba untuk tidur di sofa. Biasanya, ia bisa tidur di situ.


Namun, entah mengapa untuk kali ini dirinya merasa kesusahan. Bangkit dari sofa membawa bantal dalam pelukan.


Membuka pintu kamar, melihat wajah teduh yang sudah terlelap. Malik mendekat setelah mengunci pintu kamar.


"Abibah," panggil Malik dengan nada pelan bahkan terkesan berbisik.

__ADS_1


Tak ada jawaban dari sang empu, Malik merasa kasihan sebenarnya. Namun, tubuhnya pun butuh istirahat.


"Abibah," panggil Malik lagi yang sudah jongkok di ranjang dan menatap lekat wajah istrinya.


Mata tersebut akhirnya mengerjap, menatap Malik yang langsung menampilkan senyuman keberhasilan.


"Hmm," dehem Abibah dengan mata yang sebenarnya malas.


"Saya mau tidur, boleh saya tidur sama kamu? Saya gak bisa tidur di sofa, atau kalau kamu mau. Kita tidur di sofa aja, saya gak bisa tidur gak ada kamu," pinta Malik dengan wajah memelas.


Ada perasaan bahagia mendengar ucapan dari Malik barusan, tapi sebisa mungkin Abibah menyembunyikan senyum yang ingin merekah.


"Saya janji deh, nanti saya yang masak dan beberes apartemen. Plis, kali ini izinkan tidur di sini. Besok saya harus kerja soalnya, kalo kecapean nanti gak fokus buat kerjanya," sambungnya lagi karena merasa lawan bicara tak ada tanggapan.


"Ya, udah. Naik aja Pak," kata Abibah singkat dan membalikan tubuhnya. Seketika Malik yang tadinya memasang wajah memelas langsung berubah gembira.


Laki-laki tersebut berjalan memutari ranjang dan naik di samping Abibah, ia memeluk wanita tersebut dan benar saja. Tak lama, dia pun sudah masuk ke alam mimpi bersama wanita itu.


Pukul 3 sore, Malik sudah sibuk di dapur sedangkan Abibah masih terlelap di kamar. Sesuai dengan janji laki-laki tersebut bahwa ia akan memaksa juga beberes.


Merasa terganggu dengan suara dari dapur, Abibah mengerjap melihat sekeliling dan bangkit karena tak merasa ada kehadiran suaminya.


"Wih ... masak apa, nih?" tanya Abibah duduk di meja makan dengan muka bantal dan rambut yang setengah acak-acakan.


"Kenapa pake kerudung Pak?" tanya Abibah menautkan alis, "kan, Bapak juga udah liat saya."


Malik mematikan kompor dan mendekat ke arah Abibah membuat wanita tersebut mendongak, "Karena saya udah liat kamu, mangkanya kamu harus hati-hati. Bisa jadi saya makan kamu tiap hari kalo kamu gak pake kerudung di rumah ini," papar Malik dengan setengah mengancam.


Abibah menelan salivanya mendengar ucapan Malik, "Bapak keterlaluan ternyata mesumnya, ya, saya baru tau, lho," kata Abibah bergedik ngeri pada suaminya sendiri.


Ia segera bangkit dengan perlahan dan pergi kembali ke kamar sambil berlari sedangkan Malik hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepala menatap kelakuan istrinya.


"Siapa yang gak akan mesum kalau istrinya secantik kamu, Abibah," jelas Malik sambil meletakkan makanan yang dibuatnya ke piring.


Abibah datang kembali ke dapur dengan mengikuti ucapan Malik tadi, ia menggunakan kerudung dengan mulut yang dimajukan.


"Kenapa?" tanya Malik menatap ke arah Abibah.


"Pak, saya bosen tau di rumah mulu. Besok, saya ke cafe, ya," pinta Abibah dan menjatuhkan bobotnya di kursi makan.


"Kan, udah ada karyawati baru. Ngapain lagi ke sana?"

__ADS_1


"Ya, saya ngapain di sini? Besok Bapak mulai masuk ke kampus, lah saya ngapain? Bosen tau, Pak!" keluh Abibah sambil memasukkan makanan buatan Malik ke dalam mulutnya.


"Kamu ini aneh, di luaran sana banyak istri yang ingin di rumah aja. Mengurus suami dan rumah, kamu malah pengen kerja."


"Ya 'kan gak ada suami yang di urus. Kalo rumah juga palingan berapa jam juga udah kelar diberesinnya."


"Kalo sore cafe buka, saya juga udah pulang."


"Ya ... ayolah, Pak!"


"Gak usah keras kepala, kamu di sini aja!"


Abibah mendengus kesal mendengar ucapan Malik barusan, ia tak bisa sama sekali membujuk agar laki-laki itu memberi izin.


"Baiklah, kalau nanti saya pulangnya sore sampai jam 6. Kamu baru boleh ke cafe dan jangan lupa pamit dulu sama saya, biar pulangnya bisa saya jemput."


"Oke, Pak. Makasih!" seru Abibah yang langsung tersenyum bahagia.


"Oh, iya, gimana sama rumah Mama dan Papa? Apa sudah di isi oleh penghafal atau belum?"


"Mm ... kata sepupu Abibah, kemungkinan akan di renovasi lagi."


"Emangnya ada bagian yang rusak?"


Abibah menggelengkan kepala, "tapi, kalo kamarnya cuma segitu. Ya, jelas kuranglah Pak. Mereka rencana mau nambahin kamarnya agar muat buat penghafal dan guru yang lain."


"Biayanya dari mana?"


"Kemarin Abibah udah nanya juga, kata mereka Abibah gak perlu bantu dana. Udah ada dana mereka memang."


"Hmm ... tapi, kalau mereka butuh kasih tau aja. Biar kita bantu sebisa mungkin."


"Iya, Pak. Abibah udah bilang ke mereka, kok. Abibah jadi kepikiran sesuatu, deh," jelas Abibah menatap lurus ke depan.


"Apa?" tanya Malik menatap ke arah Abibah.


"Pengen buat musala gitu, Pak. Biar orang-orang yang mau shalat gak harus jauh-jauh jalan kaki apalagi karena jauh musala jadi alasan mereka untuk gak shalat berjamaah."


"Hmm ... boleh, nanti kita nabung sama-sama buat wujudkan impian kamu."


"Impian kita, karena Bapak juga mau bantuin!" terang Abibah tersenyum. Malik akhirnya mengangguk dan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Ya, impian kita," katanya mengulang kalimat Abibah.


__ADS_2