
Hari bahagia yang ditunggu-tunggu oleh Aulia dan Erwin akhirnya tiba, di mana pernikahan akan dilaksanakan pagi ini pukul 9.
Aku dan Mas Malik sudah sibuk sendiri di rumah, pasalnya ia malah bangun jam 8 pagi setelah memilih tidur kembali sehabis salat.
"Mangkanya, jangan begadang mulu Mas!" geramku menatapnya dengan nyalang di dalam mobil.
"Ya, ini sekalian latihan Sayang. Biar bisa jaga anak kita nanti," jelasnya membela diri.
"Bisa aja ngelesnya!" sebalku bersedekap dada membuang pandangan ke arah lain.
Kami sampai di acara, Aulia sudah menghubungiku berkali-kali. Dia meminta agar aku menyaksikan akad nikahnya.
Jadi, mau tak mau kami harus datang sepagi ini. Syukur, Mas Malik mau-mau saja dengan keinginanku.
"Mas, saya masuk ke dalam kamar, ya," kataku sambil membawa papar bag.
"Iya, hati-hati," katanya dan kuangguki.
Aku berjalan masuk dengan sedikit membungkuk melewati tamu yang sudah menunggu mempelai pria juga keluarganya.
Tok tok tok.
Kuketuk pintu yang tertutup tirai warna putih juga dihias sebegitu cantiknya, pelaminan dan dekor di dalam rumah juga tak kalah cantik.
Ternyata, meski waktu yang singkat. Aulia bisa mendapatkan dekor terbaik seperti ini, aku lumayan takjub dengan pilihannya.
Ceklek.
Seorang perias sepertinya karena di tangannya memegang kuas wajah membuka pintu, "Masuk, Mbak," ajaknya dengan mengulas senyuman ramah padaku.
Kubalas dengan senyuman dan anggukan, masuk ke dalam dan melihat hanya ada dua orang perias juga Aulia.
Mamanya pun tak terlihat dari tadi, entah ke mana aku pun tak tahu. Duduk di pinggir ranjang dengan menghela napas.
Ternyata, cukup melelahkan juga meskipun calon bayi-ku belum besar. Entah karena ke-khawatiran yang membuatku agak takut atau memang aku yang sedikit kecapean.
"Lu kenapa? Kayak dari mana aja, emangnya jalan dari sono ke sini?" tanya Aulia menatapku dari pantulan kaca.
Make-upnya sudah hampir jadi dan bajunya juga sudah dipakai, baju pengantin warna putih sebagai tanda akad dipakainya kini.
"Banyak banget orang di depan, capek gue harus nunduk dan bungkuk," kataku.
"Lu udah makan?" Aku menggeleng pelan, tadi hanya bisa membuat roti saja karena bahan sayuran sudah habis.
__ADS_1
"Mau makan apa?"
"Yang ada apa?" tanyaku balik yang bingung mau milih apa sedangkan opsinya tak disebutkan.
"Daging mantan di sambel, gulai dan sop," jawab Aulia yang tak hilang gesreknya.
"Dih, gue mau yang tumis deh," jawabku mengikuti alur pembicaraan tak jelasnya.
"Sudah Mbak?" tanya Aulia menatap kedua orang yang menjauhkan tangan mereka dari wajah Aulia.
"Sudah, Mbak," balas mereka mengangguk.
"Boleh minta tolong Mbak? Ambilkan makan sekalian buat Mbak juga, bawa aja masuk ke sini," pinta Aulia dan mendapatkan anggukan karena para perias juga belum sarapan akibat pagi-pagi sekali sudah ke sini.
Mereka berdua keluar dan tinggallah Aulia juga aku di dalam kamar, Aulia mengangkat sedikit gaunnya dan berjalan untuk duduk di sampingku.
Aku tersenyum menatap wanita cantik di sebelahku yang sebentar lagi akan sah menjadi istri orang lain.
"Wah ... itu kado buat gue, ya?" celetuk Aulia menatap papar bag yang kupangku dari tadi. Aku mengangguk dan tersenyum.
Kebetulan ruangan hanya ada kami berdua, kuberikan papar bag tersebut padanya, "Buka sekarang?" tanya Aulia memastikan.
"Iya, sekarang aja," kataku menyuruhnya tak sabar untuk melihat ekspresi wajahnya saat tahu aku sedang hamil.
Aulia membuka box yang ada di dalam papar bag, "Hello Aunty," gumam Aulia membaca tulisan di depan box.
Ia langsung kaget dengan menutup mulut tak percaya, aku hanya terkekeh menahan untuk tak ada air mata.
"Ini, maksudnya apa? Kok Aunty, sih?" tanya Aulia yang kebingungan.
"Buka aja," suruhku malas menjelaskan. Ia akhirnya membuka box tersebut, ada sepatu mungil juga foto dan alat tes kehamilan.
Mata Aulia melebar, ia terharu hingga air mata keluar dari ujung matanya. Aku yang berusaha menahan tangis akhirnya ikut meneteskan air mata.
"Lu hamil?" tanya Aulia menatap ke arahku. Aku mengangguk membenarkan ucapannya itu.
Dia memelukku dengan erat, menyalurkan kekuatan dan kebahagiaan atas akan hadirnya sosok pelengkap di hidupku juga Mas Malik.
"Selamat Abibah, selamat," bisik Aulia yang masih memelukku. Aku mengusap punggung dan mengangguk.
Pelukan dilepas oleh Aulia, ia beralih mengusap perutku, "Hello, Sayang. Ponakan Aunty, semoga kamu cowok, ya," kata Aulia berbicara pada calon anakku.
"Dih, kenapa emangnya kalo cowok?" tanyaku menautkan alis.
__ADS_1
"Ya, biar dia bisa jagain anak gue nanti. Kan, anak gue cewek dia pasti mau nungguin anak gue," jelas Aulia begitu pede-nya.
"Dih, PD banget dah lu. Lu kira anak gue apaan? Jagain anak lu segala!" ketusku tak terima.
"Beuh ... belum apa-apa udah kayak gini, lu! Auto gak boleh di sentuh dah ni ntar anak lu," cibir Aulia dan kembali duduk dengan tegap.
"Gaklah! Gue kurung dia sampe besar di rumah aja, gak boleh temenan apalagi sama anak lu!"
"Dih, dasar, ya, lu!" cetus Aulia tak terima.
Pengeras suara mulai terdengar, perias akhirnya masuk ke dalam padahal perutku sudah lama berdemo.
"Makasih, Mbak," ucapku dan mengambil piring yang di ulur oleh mereka.
"Sama-sama," kata mereka ramah menjawab.
"Eh, Mbak habis nangis, ya?" tanya perias ke Aulia sedangkan aku hanya sibuk mengunyah makanan sambil menatap ke arah mereka.
"Emangnya kenapa Mbak?" tanya Aulia balik. Bukannya menjawab, ia malah balik bertanya.
"Itu, bekas air matanya keliatan. Bentar, ya, saya rapihin."
Aulia mengangguk dan menatap ke arahku, ia membuka mulutnya lebar-lebar yang mungkin buaya saja bisa masuk.
"Ngapain tuh mulut?" tanyaku pura-pura tak tahu.
"Ais ... aku minta! Suapi, Abibah!" kesalnya karena aku tak peka.
"Nih, makan aja sendiri," suruhku dengan sendok yang kuletakkan di piringnya kembali.
"Dih, suapin aja kenapa, sih!" kesal Aulia dengan mengerucutkan bibir. Aku mendengus kesal melihat sikapnya yang seketika berubah setelah tahu aku tengah hamil.
"Siapa yang hamil, siapa yang sok manja!" sindirku dengan mengambil kembali sendok yang isinya sudah berada di dalam mulut Aulia.
"Biarin, kapan lagi manja sama bumil?" katanya dengan mengunyah makanan.
"Sah?" tanya Pak penghulu dengan kerasnya. Kami sampai lupa bahwa acara sudah mulai dari tadi.
Akibat fokus pada make-up Aulia yang dirapikan juga makanan, kami tak merasakan deg-degan bersama.
"Sah!" riuh orang-orang menjawab ucapan penghulu tadi. Aku menatap ke arah Aulia dengan berbinar.
"Yes! Gak tidur sendiri lagi gue," seru Aulia yang malah memikirkan hal itu setelah dirinya sah menjadi seorang istri.
__ADS_1
"Kirain udah waras, ternyata masih sama. Rada sengklek!" gumamku menggelengkan kepala menatap wajah Aulia dengan datar.