Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Ketahuan


__ADS_3

Kuberikan ongkos dengan tergesa karena melihat jam yang sudah di angka tengah sembilan, sambil memasukkan box makanan ke ransel aku berlari masuk ke dalam.


Brukk ...!


Tanpa sengaja, aku menabrak orang yang tengah berdiri di koridor, "Eh, maaf, Kak. Maaf, saya gak sengaja," kataku dengan menunduk.


"Hehe, tak masalah," ucap orang yang kutabrak tadi.


Aku menautkan alis seolah ada yang aneh dengan suara bariton itu, kuangkat wajah dan menatap ke arah suara.


"Kak Abil? Ngapain ke sini?" tanyaku sedikit menjauh dari jarak sebelumnya.


"Emangnya ada peraturan, ya, kalo orang asing gak boleh datang ke sini?" tanya Kak Abil balik dengan menaikkan satu alisnya.


"Eh, bukan gitu maksud Abibah, Kak," gugupku yang takut jika dia salah paham dengan pertanyaanku tadi.


"Haha, gak perlu gugup apalagi panik kayak gitu. Wajah kamu makin imut soalnya!" goda Kak Abil memegang perutnya yang mungkin sakit akibat tertawa.


Kumajukan bibir bawahku dan menekuk wajah ini, "Dih, jangan nyebelin deh Kak!" ketusku menatap tajam ke arahnya.


"Iya-iya, saya minta maaf. Oh, iya, saya ke sini cuma mau ketemu kamu doang, sih. Soalnya kemarin ke cafe kamu gak ada, saya kira kamu kenapa-kenapa mangkanya saya langsung ke sini," jelasnya dan langsung membuat mulutku terbuka.


Seromantis inikah dia? Andai saja Pak Malik bisa seromantis Kak Abil, beuh ... gelar 'Wanita Beruntung' akan tersemat padaku.


Aku menampilan senyuman, "Abibah gak papa Kak, emang lagi ada urusan keluarga kemarin dan kelarnya itu malam. Gak mungkin juga kalo malam-malam Abibah baru datang ke sana 'kan?" tanyaku dengan menaikkan satu alis.


Dia menampilkan senyum simpul yang membuat lesung pipinya keliatan dan mengangguk, "Yaudah kalau gitu, saya kembali ke kantor dulu, ya."


"Lah, Kakak belum ke kantor emang?" tanyaku terperangah kaget mendengar penuturannya.


Dia menggelengkan kepala dan membuatku membulatkan mata, "Kalau begitu, saya permisi Abibah. Assalamualaikum," salamnya dan beranjak pergi dari hadapanku.


"Waalaikumsalam," jawabku membalikkan badan dengan terpukau, terpesona dan ter lainnya.


Ini, kali pertama ada seorang laki-laki yang begitu khawatir denganku hingga menungguku seperti ini.


Padahal, dia pasti punya banyak pekerjaan di kantor tapi mau bela-belain untuk menunggu aku di koridor kampus.


Mobil yang dikendarai Kak Abil akhirnya pergi dari halaman kampus, aku langsung berbalik untuk ke kelas pertama di pagi ini.

__ADS_1


Seolah tengah kasmaran, inilah yang kurasakan. Tersenyum di sepanjang koridor dengan sesekali bersenandung.


"Ehem! Ada yang baru ketemu sama jodoh, nih!" sindir seseorang yang berada di sampingku. Aku langsung menoleh dan melihat Aulia sudah tersenyum-senyum ke arahku.


"Siapa?" tanyaku dengan mendatarkan wajah kembali sambil menautkan alis.


"Alah, udahlah! Gue duluan liat dia, gue ajak juga tadi ke kantin cuma dia gak mau," terang Aulia tersenyum sambil menaik-turunkan alisnya.


"Gue ketemu sama Kak Abil, bukan sama jodoh!" ketusku menatap lurus ke arah jalan.


"Emangnya, lu gak mau punya jodoh kayak dia? Udah ganteng, baik, kaya, romantis, lemah lembut, beuh ... kurang apalagi, coba?"


Aku terdiam, sebenarnya benar juga yang dikatakan oleh Aulia. Siapa yang tak mau jadi jodoh Kak Abil.


Cuma ..., "Dah, lu apaan sih! Pagi-pagi udah bahas dia ada!" Kami masuk ke dalam kelas dengan Aulia yang lagi-lagi tak berhenti mengoceh menggodaku.


Pelajaran pertama dimulai, hari ini aku hanya sampai jam 12 siang saja. Sedangkan Aulia akan sampai jam 1 karena dia ada kelas tambahan.


Beberapa bulan lagi pun kami akan fokus menyelesaikan skripsi bersama, semoga lulus tepat waktu, sih.


"Permisi, Pak!" ucap suara bariton yang tak asing di telingaku, kami tengah mencatat pelajaran yang disuruh oleh dosen.


Aku sedikit mengangkat kepala untuk memastikan pemilik suara tersebut, benar saja dia adalah Pak Malik.


"Mm ... saya mau nyampaikan buat Abibah untuk datang ke ruangan saya setelah jam Bapak," jelas Pak Malik memberi tahu maksud tujuannya datang ke kelas kami.


Gleg ...!


Kutelan salivaku, apa yang kulakukan emangnya? Hari ini tak ada jadwal kelas dia, mau apa dia denganku.


"Sutt ... sutt," panggil Aulia yang berada di samping mejaku meskipun berjarak tapi tak terlalu jauh.


"Itu Pak Malik mau apa?" tanyanya dengan suara yang amat pelan padaku.


Aku hanya menaikkan bahu acuh, "Gak tau!" jawabku singkat dan kembali menatap ke arah depan.


"Buat Abibah, nanti datang ke ruangan Pak Malik setelah selesai kelas saya!" tegas Pak dosen yang sekarang tengah berdiri dan menatap ke arahku.


Tak hanya satu orang, bahkan beberapa orang menatap ke arahku, "Baik, Pak!" sahutku dengan menggenggam kuat pulpen yang kupegang.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak. Maaf mengganggu, saya permisi!" pamit Pak Malik dengan melirik ke arahku sekilas.


Sedangkan aku sudah emosi dengan wajahnya itu, entah apa yang dia mau padaku. Aku tak melakukan kesalahan padahal, jika masalah nasi goreng. Kalau memang tak mau tinggal dibuang saja, apa salahnya?


Sesuai perintah Pak dosen amanat Pak Malik tadi, kini aku sudah ada di depan pintu Pak Malik. Menarik napas dalam-dalam agar diri dan jiwa bisa lebih sabar nanti berada di dalam.


Aulia menungguku di taman, karena kelas kedua agak lama jadinya kami akan nongkrong di taman lebih dulu.


Tok ...!


Tok ...!


Tok ...!


"Permisi, Pak. Ini saya, Abibah. Boleh saya masuk?" tanyaku dengan sedikit berteriak.


"Masuk!" titahnya dari dalam dan membuatku memegang gagang pintu dengan membuang napas kasar lebih dulu.


Ceklek ...!


Kututup kembali pintu setelah berada di dalam ruangannya, kali ini tak ada Mis Vilo. Tapi, aku enggan untuk mendekat ke arahnya.


"Pintu itu tak akan hilang, mendekatlah!" perintahnya yang mengalihkan pandangan dari laptop.


Aku mendekat dengan ragu, tangan keduanya kubuat ke belakang dan mengamati setiap inc ruangan ini.


"Ada apa Bapak panggil saya ke sini? Saya masih ada urusan lain," ujarku tanpa basa-basi setelah berada di depannya yang terhalang meja.


Ditutupnya laptop dan menopang dagu menatap ke arahku lekat, aku sedikit salah tingkah dan takut dengan tatapan itu.


"Ada apa, ya, Pak?" tanyaku ulang mana tahu dia pikun dengan apa yang kukatakan tadi dengan meremas tangan yang berada di punggung.


"Siapa tadi?" tanyanya dengan dingin membuat aku kaget seketika.


"Apanya, Pak?" tanyaku yang masih belum paham ke mana arah pembicaraan.


"Siapa yang kau temui tadi pagi? Kenapa dia bisa datang ke sini? Apa kalian pergi bersama-sama? Apa kau juga memberikan sarapan untuknya? Atau ... dia duluan yang merasakan sarapan darimu baru aku?" tanya Pak Malik dengan pernyataan yang begitu banyak.


Aku terperangah dan mengerjapkan mata berkali-kali sambil menatap ke arah Pak Malik. Senyuman akhirnya tercipta di wajahku dan dengan cepat kututupi darinya.

__ADS_1


"Aku serius! Kenapa kau malah tersenyum?" tanya Pak Malik ketus dengan menautkan alisnya.


"Bapak cemburu, ya?" tanyaku dengan menggoda dirinya menaik-turunkan alisku.


__ADS_2