
"Kak Abil kemarin bilang apa sama lu?" tanya Aulia dari sebrang.
Aku tengah masak untuk makan malam nanti, kalau makannya dingin tinggal dipanaskan saja nantinya.
"Mmm ... gak ada apa-apa, sih, dia cuma ngobrol sama Mas Malik doang," jawabku seadanya.
"Dia kayaknya masih sayang, ya, sama lu."
"Gak."
"Tau dari mana?"
"Sorot matanya."
"Lu liat matanya kemarin."
"Iyalah!"
"Oh, masih memperhatikan ternyata. Kirain udah gak peduli," ujar Aulia berniat menggodaku.
"Apaan, sih! Udah sana masak lu, sore-sore malah ngomong beginian," ketusku yang tak habis pikir dengan wanita ini.
"Yaudah, deh. Bye ...."
"Hmm."
Panggilan diakhiri oleh Aulia lebih dulu, aku kembali sibuk melanjutkan memasak hingga akhirnya selesai di jam 5 sore.
Merasa bosen dengan apa yang harus dilakukan selanjutnya, aku ke kamar untuk melihat-lihat kado yang belum kami buka.
Kucari kado dari seseorang yang datang dengan seorang diri, setelah mendapatkan kadonya dengan sedikit usaha yang lumayan besar.
Aku duduk di tepi ranjang melihat kado yang berbungkus kertas motif batik. Kubuka perlahan dan di dalamnya ada box juga merk terkenal.
Terdiam beberapa saat ketika mendapati di dalamnya ada dua buah jam tangan yang pasti satu untukku dan satu untuk Mas Malik.
Kubuka kembali box di jam tersebut untuk melihat bagaimana tampilan jam tangan pilihan laki-laki tersebut.
"Waw ...," gumamku takjub dengan pilihan Kak Abil yang bisa kubilang lumayan berkelas.
Di bawah box tersebut ada kertas yang terselipkan, aku langsung meletakkan box-box jam tangannya ke samping dan lebih tertarik dengan kertasnya sekarang.
[To ; Abibah ....
Kau tau? Bertemu denganmu adalah suatu hal yang tak kuduga sebelumnya, seolah bertemu dengan penyemangat hidupku kembali.
Aku menyukaimu? Ya, sangat! Namun, aku telat untuk menyadari dan mengungkapkannya sedangkan kau telat berani untuk mengatakan dan menolak perjodohanmu.
Sakit? Sangat! Saat tau bahwa kau ternyata sudah menikah dengan seseorang yang jauh lebih dariku.
__ADS_1
Awalnya aku mengira bahwa kau sama seperti wanita lainnya yang ada di luaran sana, matre. Namun, aku baru tau sebenarnya saat aku melihat bahwa kau beda dari yang lain.
Aku mencintaimu tapi bukan berarti aku harus melakukan hal bodoh layaknya orang lain atau di film-film.
Dengan merebutmu dari orang lain akibat cinta yang begitu besar ini, bukankah cinta artinya pengorbanan?
Dan sekarang, aku sudah melakukannya. Berkorban demi orang yang aku cintai, aku bahagia mengenalmu.
Doakan, semoga aku dapat wanita yang jauh lebih baik darimu dan memang jodohku agar tak lagi kurasa sakit ini.
Terima kasih, sudah pernah ada di dalam hari-hariku dan jadi bagian yang membuat hidupku jadi lebih berwarna Abibah ....]
Aku tertegun membaca isi suratnya, terakhir kali kami bertemu memang sedikit berdebat bahkan gelang yang dulu ia berikan kukembalikan.
Kubuang kertas karena takut akan terjadi masalah nantinya, memang aku pun sempat menyukai Kak Abil waktu itu.
Tapi, yang namanya wanita akan mencintai suaminya seorang pada akhirnya nanti dan akan menganggap bahwa suaminyalah yang paling ganteng di dunia ini.
Aku dan Kak Abil hanyalah dua orang yang dipertemukan tanpa sengaja saja, tak ada hubungan serta ikatan apa pun.
Meskipun ada, jika memang tak jodohnya pasti akhirnya akan sama saja perpisahan yang akan terjadi.
Kuusap perutku yang semakin hari semakin membesar, tersenyum hangat ke arah perut ini dengan tulus.
Tak ada kehidupan yang mudah, semua pasti akan ada saja ujian dari berbagai hal. Mau itu; pertemanan, rumah tangga, keluarga, pekerjaan atau lainnya.
Namun, percayalah dan lihatlah di balik itu semua sudah ada jawaban dan solusi yang Allah berikan pada kita.
Tok tok tok
Suara pintu utama terdengar diketuk, aku yang tengah menatap ke jalan dari jendela tersadar dan segera membuka pintu yang kukunci.
Mengulas senyum untuk laki-laki yang sudah lelah seharian mencari nafkah untukku, ia membalas senyumanku dan mengusap kepala tak lupa mengecup perut ini.
Aku bahagia, sangat! Meski di awal, aku begitu menentang dan tak terima dengan takdir yang sudah ditetapkan.
Bahkan, aku sampai melakukan hal-hal bodoh karena begitu keras menolak bersama dengannya yang sekarang menjadi sumber bahagiaku.
Kata orang, jangan pernah mau menikah dengan orang yang tak kau cintai karena pada akhirnya akan hanya ada tekanan dan kesedihan di dalamnya.
Namun, kataku tak ada salahnya menikah dengan seseorang yang belum kita cintai. Karena cinta, akan tumbuh seiring dengan waktu dan sikap dia yang membuat kita menjadi mencintainya.
"Kamu kenapa? Kok natap Mas gitu banget? Pake senyum segala pula," kata Mas Malik menatap wajahku yang tersenyum ke arahnya.
Aku menggelengkan kepala, "Gak papa, kamu ganteng banget Mas dan Abibah beruntung banget bisa menjadi istri kamu."
"Mulai lagi nih kelinci, ya! Awas ... nanti malam pokoknya Mas akan buat kamu gak tidur."
"Ih, apaan! Gak ada, ya, jangan macam-macam," tegurku menunjuk ke arahnya.
__ADS_1
"Emangnya kenapa? Siapa yang takut? Gak takut tuh Mas," katanya mendekat.
"Stop Mas! Jangan di gelitiki, ih!" keluhku.
"Hahaha." Suara tawa keluar dari bibirku kala dia sengaja menjahili aku dengan menggelitiki pinggangku ini.
****
Selesai salat Magrib, kami akhirnya makan bersama di meja makan. Suara sendok saling sahut-sahutan.
"Mas, udah lama kita gak ke makam, ya," ucapku mengingatkan.
"Eh, iya, ya. Kapan kita ke sana lagi?" tanya Mas Malik menatap ke arahku.
"Pas satu tahun pernikahan aja, gimana?" saranku dan mendapat anggukan dari Mas Malik.
***
Sesuai kesepakatan kami beberapa bulan yang lalu, hari ini aku dan Mas Malik sudah berada di makam orang tuaku dengan sedikit kesusahan akibat perut yang semakin membesar.
Gundukan tanah yang menanam orang tuaku sedikit berumput, aku dan Mas Malik mencabuti rumput tersebut.
Menabur bunga juga air tak lupa mengirim doa yang dipandu oleh Mas Malik, air mataku sudah luruh sejak pertama menginjak TPU ini.
"Mas, biarin Abibah sendirian sebentar, ya," pintaku tak mengalihkan pandangan dari papan bertuliskan nama Mama.
"Baik, nanti kalau kamu kesusahan untuk bangkit. Panggil Mas, ya," ujarnya dan langsung kuangguki meski tak terlalu paham dengan apa yang baru dia katakan.
Laki-laki tersebut berjalan menjauh dari kuburan Mama dan Papaku, aku terduduk lemas. Menangis sejadi-jadinya mengeluarkan kerinduan yang tak bisa kuutarakan melalui dekapan lagi.
"Ma ... sudah satu tahun pernikahan Abibah dan Mas Malik, dulu Abibah mendapatkan dua opsi dari Mama.
Kalau selama dua tahun tidak ada cinta di rumah tangga kami, Abibah boleh mengugat cerai Mas Malik atau bertahan dengan pernikahan ini.
Dan sekarang, Abibah memilih opsi yang kedua Ma. Abibah akan bertahan karena sudah ada cinta juga kebahagiaan di pernikahan kami.
Mama ... Papa ... sebentar lagi Abibah akan menjadi seorang ibu, doain Abibah agar bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak Abibah.
Ternyata benar yang orang-orang katakan, ya, Ma. Orang tua pasti akan memberikan yang terbaik untuk anaknya.
Dan itu nyata adanya, Mama dan Papa memberikan suami yang terbaik untuk Abibah. Suami yang begitu tulus dan menjaga Abibah sepenuh hatinya.
Makasih, Ma ... Pa. Maafkan Abibah yang masih banyak salah dulu sama kalian berdua, Abibah masih menjadi anak yang membangkang.
Hiks ... hiks ... Ab-abibah sayang sama kalian. Abibah pengen peluk kalian, Ma ... Pa." Tangisanku semakin tak terkontrol, aku menyandarkan kepala di papan nama yang bertuliskan nama Mama.
Mas Malik akhirnya menyusul dengan suara panik, kulihat ada raut khawatir di wajahnya, "Udah, ya, ayo, kita pulang!" ajaknya dengan nada lembut.
Aku mengangguk dan dibantu berdiri oleh Mas Malik, berjalan ke arah mobil dan berhenti menatap ke belakang.
__ADS_1
'Terima kasih Ma ... Pa, terima kasih. Abibah akan selalu mengirim doa dan menyayangi kalian, tunggu Abibah di surga-Nya, ya,' batinku tersenyum dan menatap ke arah depan.
T A M A T