Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Menurut Atau Membangkang?


__ADS_3

"Sebelum balik ke apartemen, kita makan dulu, ya," ajak Pak Malik tapi tak kuhiraukan. Aku masih mode marah dan ngambek dengannya.


"Huft ... apa perlu rumah itu kujual dan beli rumah baru buat kita?" tanya Pak Malik yang sepertinya frustasi menghadapiku.


Aku tak menjawab lagi dan lagi, biarin saja. Emangnya enak dikacangin! Biar dia tahu bahwa cewek adalah makhluk yang mudah untuk ngambek.


Dia berhenti di warung bakso, entah siapa yang menyuruh untuk makan di sini. Aku langsung turun lebih dulu meninggalkan dirinya, memesan bakso kosong dan teh manis dingin.


Tak lama, dia terlihat menyusul duduk di sampingku setelah memesan bakso pada si Mamang penjual.


"Abibah, jangan diam seperti ini. Bukankah mulut diciptakan untuk berbicara?"


"Dan bukankah otak diciptakan untuk berpikir?" tanyaku dengan tegas dan menatap sinis ke arahnya.


"Baiklah, kita akan tetap di apartemen hingga rumah itu laku terjual. Maafkan aku."


"Mungkin, kalo si Om tadi gak ngasih tau tentang itu rumah impian kalian. Aku sudah merasa paling bahagia kayaknya, padahal itu hanya bekas keinginan wanita itu."


"Iya, maafkan aku," pasrahnya saat kuomeli.


Pesanan kami sampai, aku langsung menuang saos yang cukup banyak di mangkukku, "Jangan banyak-banyak, nanti sakit perutmu," larang Pak Malik.


"Daripada ke mulut Bapak saya buat, lebih baik ke bakso saya 'kan?" Dia diam, mungkin sekarang aku sudah seperti ibu tiri di matanya.


Kami sudah sampai ke apartemen, saat di perjalanan Pak Malik langsung menelpon entah siapa membahas soal rumah tersebut.


Mungkin, dia benaran akan menjual rumah itu dan membeli yang baru. Aku pun sebenarnya tak apa jika sederhana dan tak terlalu besar.


Bahkan, rumah seperti Pak Yanto pun tak masalah. Karena, bukan masalah rumahnya tapi masalah keluarga yang berada di dalamnya.


Buat apa rumah yang mewah dan megah tapi tak ada kebahagiaan di dalamnya? Lebih baik sederhana, bukan? Namun, berisi dengan cinta, canda dan tawa.


Aku langsung lari ke kamar mandi, padahal aku tak menaruhkan saos terlalu banyak, deh. Kenapa perut langsung mules, ya.


"Nih, minum," titah Pak Malik dan duduk di samping dengan aku yang sudah terkulai lemas karena menahan sakitnya perut.


"Gak usah, saya bisa beli sendiri!" ketusku dan ingin ke kamar mengambil minyak kayu putih.


Tanganku dicegat oleh Pak Malik dan membuat aku kembali terduduk di sampingnya, "Jangan terlalu keras kepala!" tekannya, "minum!"


Aku langsung mengambil pil dengan kasar dari tangannya dan mengambil minum yang ada di meja.


"Rumahnya sudah saya jual, besok kita akan mencari rumah yang lainnya. Terserah kamu mau rumah di mana."


"Mau rumah yang kayak Pak Yanto!"


"Ha?"

__ADS_1


"Rumah kayak Pak Yanto," ucapku mengulang kalimat dan menatap ke arahnya.


"Kita bisa beli rumah yang lebih dari situ meski tak di kawasan elit."


"Bapak nanya 'kan? Saya mau rumah yang kayak gitu!"


"Bagaimana nanti jika Mama dan Papa datang menginap? Mereka akan tidur di mana?"


"Rumah Pak Yanto 'kan bisa dua kamar."


"Kita akan tidur satu kamar selamanya?" tanya Pak Malik seolah ingin menjebakku dengan ucapanku tadi.


"Atau ... malah Bapak yang ingin satu kamar lagi di isi dengan anak kita? Mangkanya mau lebih dari dua kamar?" tanyaku menaik-turunkan alisku.


Dia gelagapan dan mendatarkan kembali wajahnya, "Gak usah kepedean!"


"Iya deh iya, gak mungkin juga akan terjadi hal itu," kataku.


"Yasudah, besok kita liat dulu rumah atau pergi liburan?"


"Liburan ajalah Pak, mumet saya liat Bapak mulu."


"Emangnya di sana kau tak akan melihatku?"


"Setidaknya bisa sambil cuci mata liat-liat Aa yang kasep pisan!"


"Hahaha, Aa-aa. Beuh ... kasep-kasep pisan euy!" teriakku agar suara terdengar hingga ke kamar.


"Makan apa ini yang enak, ya?" ucapku pelan dan menatap ke arah dapur.


***


"Kau sedang membuat apa?" tanya Pak Malik yang datang tiba-tiba membuat aku kaget dibuatnya.


"Jangan datang tiba-tiba gitu dong, Pak! Saya kaget jadinya!" omelku dengan mengusap dada dan menekuk wajah menatap dirinya.


"Maaf ... bukannya baru makan bakso tadi?"


"Dan apa Bapak kira bakso doang cukup di perut saya ini? Kan, tadi juga langsung dibuang!"


"Hmm ... baiklah, ini telepon dari Aulia," ujar Pak Malik menyerahkan handphone ke arahku.


Aku mengambil dengan perasaan yang bingung, "Ada apa?"


"Dia pasti mau nanya soal cafe kapan buka, Pak. Cafe udah lama tutup, lho. Kapan akan dibuka lagi?"


"Yaudah, suruh buka dan cari satu karyawati lagi untuk membantu dia. Saya tidak memberi izin untuk kau kembali bekerja di situ!"

__ADS_1


"Tapi Pak? Ntar, saya bosen dong," keluhku dengan wajah memelas. Dia malah maju mendekat ke arahku dengan wajah datar miliknya itu.


Sedangkan aku gelagapan dan langsung mundur ke belakang, "Pak, Bapak mau apa? Jangan macam-macam Pak! Saya bisa laporkan Bapak nanti!" tegasku mengancam dirinya.


Tubuhku mentok di dinding dapur, Pak Malik menunduk dan menatap wajahku seperti singa yang kelaparan, "Kalau kau tak ingin bosan, akan kubuat kau hamil agar memiliki kerjaan nantinya. Kau mau yang mana? Menurut atau membangkang ucapan suamimu?" tanya Pak Malik dengan menatap tajam ke setiap inc wajahku.


Ucapannya membuat aku langsung kaget dan membulatkan mata, bisa-bisanya dia berbicara sekotor tadi.


Apa katanya? Hamil? Wah ... itu sangat tidak benar! Dia menjauhkan tubuhnya dan segera berlalu dari dapur.


Aku membuang napas lega karena dirinya yang sudah pergi, suara masakan terdengar membuat aku langsung buru-buru mematikan kompor, "Untung aja gak gosong, dasar Pak Malik gelo! Sekalinya ngomong langsung ngelantur gak jelas!" paparku yang emosi melihat laki-laki itu.


Makanan kuhidangkan, ada ayam kecap, sayur sawi putih di gulai dan juga tempe serta kerupuk sebagai teman makan.


"Pak, makan yuk!" ajakku sedangkan Pak Malik tengah asyik dengan laptopnya mengerjakan tugas-tugas.


Dia menatapku dan mengangguk, "Ini makan apa, ya? Ini makan sore ngerangkap makan malam, ya, Pak," tuturku sambil melihat ke arah senja.


Ya, ini sudah hampir jam 6 sore. Entah kenapa aku malah kelaparan mungkin akibat ngambek pada Pak Malik tadi membuat perut ini tak merasa kenyang padahal sudah makan bakso.


"Ya, kalo saya lapar. Saya bangunkanlah kau," protes Pak Malik mengunyah makanan.


"Dih, stok mie banyak Pak. Kita baru beli satu dus kemarin!" kataku dengan memajukan mulut.


"Gak papa dong, masakan istri pasti akan jauh lebih enak daripada masakan sendiri," pujinya yang membuat aku ingin muntah.


"Heleh, gayamu Pak!" ejekku yang tak mau langsung terbuai dengan pujiannya tadi.


"Malam ini kita akan berkemas?"


"Saya aja Pak, bisa kok sendiri. Bapak beresin aja kerjaan."


"Hmm ... baiklah."


"Saya baik 'kan?"


"Apanya?"


"Mau beresin baju Bapak."


"Ya, kau sangat baik."


"Bilang apa?" tanyaku menaikkan alis bak sedang berbicara dengan anak kecil.


"Terima kasih."


"Ihhh ... pintel banget sih anak Mama Dwi ini," ejekku sambil mencubit pipi Pak Malik yang membuat dia menatap dengan kaget ke arahku.

__ADS_1


Eh, sangat tidak sopan dirimu Abibah!


__ADS_2