Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Aku sudah menghubungi Aulia agar membuat pamplet bahwa cafe akan libur selama seminggu ke depan.


Dia? Ya, tentunya sangat senang karena bisa jalan-jalan dengan pacar gak modal miliknya itu.


Aku bukan cewek matre sebenarnya, hanya saja tak pantas rasanya jika semua kebutuhan di saat jalan ditanggung oleh pihak wanita.


"Ya, ampun bosen banget di sini! Lompat dari balkon seru kayaknya, ya!" teriakku menatap gedung-gedung yang ada.


"Coba saja kalau memang mau," timpal seseorang yang langsung kulirik.


Dia membawa laptop kesayangannya itu begitu hati-hati, duduk di sofa dan meletakkan cemilan yang menggunakan toples.


Kuhampiri karena ada yang aku inginkan padanya, duduk agak jauh dan segera merebut toples kaca tersebut.


"Biasakan minta! Kau seperti pencuri saja!"


"Kalo mencuri gak akan mengambil pas ada pemiliknya dong!" sungutku dan memakan makanan ringan yang ada di toples.


Aku mengambil handphone dan menggeser-geserkan beranda media sosial, tak ada yang tampak menarik. Semua membosankan!


"Kenapa kau tak menyelesaikan skripsimu?" tanya Pak Malik memecah keheningan.


"Males," jawabku santai tak mengalihkan pandangan.


"Kenapa begitu?" tanyanya dengan suara serius. Kualihkan pandangan, aku ingin melihat ekspresi wajahnya terlebih dahulu.


Oh, dia sedang menautkan alis dan menatap sedikit marah padaku karena jawaban yang kuberikan tadi.


"Ya, buat apa semangat selesaikan skripsi? Orang tetap gak bisa lanjutin S2, kok, nanti!"


"Kata siapa?"


Mendengar ucapannya itu, aku yang duduk setengah merosot di sofa langsung tegap dan menatap ke arah dia tak percaya.


"Jadi, boleh nyambung S2 Pak?" tanyaku dengan mata berbinar.


"Ya, boleh. Kenapa enggak?"


"Aaa!" teriakku kegirangan dengan mengepal tangan.


"Tapi di sini," sambungnya seolah tanpa merasa salah yang membuat aku langsung menghentikan aktivitas bahagiaku tadi.


Menatap dia dengan tajam serta ekspresi wajah dingin, "Mending gosah kalo di sini mah!" ketusku memajukan bibir dan memasukkan cemilan kembali ke dalam mulut dengan kasar.


"Memangnya, ada apa sih dengan luar negri? Bukannya sama aja, mau di mana aja pendidikannya tetap akan ke situ-situ juga yang dibahas kalau yang kau tempuh jurusannya itu," ungkap Pak Malik melirik ke arahku sebentar.

__ADS_1


"Bedalah! Mana ada sama, dosennya aja beda pasti mata pelajarannya beda dong!" ketusku menjawab pertanyaannya itu.


Tak lama, suara ponsel yang tadinya kuletak di meja berbunyi menampilkan nama Kak Abil. Aku langsung membulatkan mata dan mengambil handphone dengan cepat.


Saat aku hendak mengangkat panggilan sedikit menjauh, tanganku di cegah oleh Pak Malik. Matanya memberi perintah bahwa aku harus mengangkat panggilan tetap di sampingnya.


Eh, dia cemburu juga ternyata sama aku. Iyalah, masa gak cemburu istrinya yang cantik ini di deketin sama cowok yang lebih cakep dari dia.


"Assalamualaikum, halo ada apa Kak?" tanyaku membuka panggilan lebih dulu.


"Waalaikumsalam, Abibah. Kamu kenapa? Lagi sakit, kenapa cafe tutup sampai seminggu saya liat ini," ucap Kak Abil dari sebrang. Ternyata, dia sudah sampai di cafe. Uwu banget 'kan!


"Mmm ... anu Kak, itu ... Abibah mau fokus selesai skripsi mangkanya tutup dulu cafe beberapa hari," ujarku berbohong.


"Oh, begitu. Kalau emang kamu sedikit kesusahan atau butuh bantuan, boleh langsung hubungi saya lho," timpalnya yang membuatku senyum-senyum salting lalu tak sengaja menatap wajah Pak Malik yang sudah bersedekap dada.


Auto mode datar deh wajah, daripada ribet ntar ujungnya, "Makasih, Kak. Makasih sebelumnya, tapi Abibah bisa kok. Gak perlu khawatir."


"Baiklah kalau gitu, saya matikan dulu, ya. Selamat belajar buat kamu, Abibah. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Kak."


Tut ...!


Kupeluk handphone ini sangking bahagianya di perhatikan oleh Kak Abil, eh, aku baru sadar tidak boleh melakukan hal seperti ini karena aku sudah menikah.


"Bukan pacar Pak, tapi masa depan yang tak sampai," kataku tersenyum menggoda dan menaik-turunkan alisku.


Suara bell berbunyi membuat aku memandangi wajah Pak Malik yang lagi-lagi hanya fokus pada laptopnya.


Terpaksa aku yang membuka pintu dengan menghembus napas kasar sebelum beranjak dari sofa.


Kuintip terlebih dahulu siapa yang datang, "Pak, nenek sihir datang ke sini!" pekikku dengan wajah kaget berlari ke arah Pak Malik.


"Ha? Nenek sihir siapa?" tanya Pak Malik menautkan alis sedang wajahnya hanya biasa-biasa saja.


"Itu, Mis Vilo di depan. Bapak ngasih tau apartemen Bapak ke siapa aja sih!" ketusku dengan setengah berbisik.


Pak Malik langsung bangkit, "Kamu sembunyi sekarang!" titah Pak Malik yang sudah mulai panik.


"Di mana?" tanyaku melihat-lihat tempat ini.


"Di kamar mandi aja, kamar mandi kamar. Atau di kamar aja sana!" perintah Pak Malik menunjuk kamar.


"Emangnya, Bapak dan dia gak akan ke kamar?" tanyaku menaikkan satu alis berniat mengintrogasi.

__ADS_1


Satu jitakan dihadiahi Pak Malik ke kepalaku ini, aku langsung memukul lengannya refleks membalas perbuatannya itu.


"Kamu jangan mikir yang aneh-aneh soal saya, saya gak pernah melakukan hal seperti itu!" terang Pak Malik membela diri.


"Hanya pelaku yang belum di introgasi sudah menjelaskan!" timpalku dengan mata sinis dan berlalu ke kamar.


Aku tak benar-benar masuk ke kamar mandi, kubuka sedikit pintu kamar agar ada celah melihat apa yang kedua orang sesepuh itu lakukan di luar nantinya.


Klik ...!


Pintu terbuka setelah dibuka kuncinya, Pak Malik membuka lebar pintu apartemen seolah memberi wanita itu izin masuk ke dalam.


Tanganku terkepal melihat apa yang dilakukan laki-laki tersebut.


Tuk tuk tuk


Sepatu hels wanita tersebut masuk ke dalam, benar yang kubilang bahwa Pak Malik seolah memberi celah untuk wanita itu masuk dengan membuka pintu apartemen dengan lebar.


Sedikit kututup kembali pintu kamar ketika mereka melewati kamar ini karena ingin ke sofa.


'Liat aja lu Pak, hari ini gue yang sembunyi layaknya tersangka. Besok atau lusa, lu yang akan ngerasain. Meskipun, bukan Kak Abil yang akan datang. Kesian tuh orang nanti, malah baper sama bini orang lain,' batinku yang tiba-tiba merasa kesian pada Kak Abil.


"Eh, kamu ada keperluan apa ke sini?" tanya Pak Malik yang memecah keheningan di antara mereka tadi.


Aku akhirnya tersadar dari lamunan dan menatap ke arah mereka yang tengah duduk di sofa.


"Gak papa, aku cuma gabut di rumah aja. Jadi, mutuskan buat ke sini," jawab Mis Vilo dengan anggunly-nya.


"Emm ... tapi, saya banyak kerjaan," tutur Pak Malik melirik ke arah laptopnya.


Aku membulatkan mata kala baru ingat bahwa handphone masih ada di sana, di samping laptop Pak Malik.


Semoga saja tak ada yang menelpon diriku, siapapun itu skip dulu telpon aku untuk beberapa menit saja.


Suara dering yang tak kuinginkan akhirnya bunyi, Pak Malik langsung gelagapan dan mengambil handphone yang berada di samping laptopnya.


Kupukul jidat ini karena merasa lalai, kugigit kuku agar sedikit menghilangkan rasa takut.


"Itu, handphone siapa?" tanya Mis Vilo menunjuk ke arah handphone-ku yang sudah di pegang Pak Malik.


"Eum ... handphone sepupu saya, tadi dia baru dari sini," kata Pak Malik mematikan panggilan yang entah dari siapa.


"Oh, cewek?"


Dengan enggan, Pak Malik mengangguk, "Maaf, Mis Vilo. Kalau tidak ada yang penting, lebih baik keluar saja. Saya masih banyak kerjaan dan gak pantas kalau dua orang apalagi berlawan jenis ada di tempat yang sama. Takutnya, yang ketiganya setan," sindir Pak Malik dengan menekan kalimat 'setan' sambil menatap ke arahku.

__ADS_1


What? Apakah dia mengira bahwa setan ada sebaik dan secantik aku? Eh, aku juga seksi tentunya!


__ADS_2