
Roda empat yang kami naiki telah sampai di rumah, aku dan Mas Malik langsung masuk ke dalam kamar miliknya dulu semasa lajang.
"Kamu kenapa, Sayang? Kok dari tadi diam aja, hm?" tanya Mas Malik saat aku duduk di tepi ranjang.
Aku diam beberapa saat dan menatap ke arahnya sebentar lalu ke arah perut yang belum terlalu terlihat membesar ini.
"Mas ... sebentar lagi kita akan setahun, apakah Mas sudah mencintaiku? Apakah cinta sudah ada di rumah tangga kita?" lirih aku bertanya sambil menatap ke arah wajahnya.
Mas Malik yang mendengar ucapanku barusan terlihat kaget, ia segera menutup pintu dan berlutut sambil menatap ke arah wajahku yang menunduk.
"Sayang ... ada apa? Kenapa kau tanya lagi soal hal konyol itu? Tentu saja aku sangat mencintaimu dan sudah ada cinta di rumah tangga kita, cinta yang akan segera mewarnai rumah tangga kita ini," jelas Mas Malik sembari mengusap perutku yang tertutup gamis.
"Lupakan janji dan persyaratan konyol itu semuanya, sekarang tidak ada lagi hal tersebut. Fokuslah pada bahagia kita dan jaga kesehatanmu, ingat di dalam sini ada cinta kita," sambungnya mendongak menatap wajahku dengan senyuman.
Aku tersenyum mendengar ucapannya, padahal tak pernah niat atau ingin menangis. Tapi, air mata dengan entengnya malah menetes.
Mas Malik langsung menghapus dan duduk di sampingku, ia menggenggam tangan ini dan menghadiahi ciuman.
"Abibah, apakah kau sudah cinta pada saya?" tanya Mas Malik dengan suara serius. Aku langsung mengangguk dengan malu-malu.
"Kau bahagia menikah dengan saya?"
"Awalnya enggaklah Mas! Orang Mas nyebelin!" sebalku sambil menarik tangan dari genggaman dia.
"Hahaha, maaf soal itu," ujarnya tulus terlihat dari raut wajahnya itu.
"Saya minta maaf atas kesalahan saya yang lampau, mungkin pernah buat kamu terluka atau apa pun itu namanya. Namun, sekarang saya baru sadar bahwa saya sudah jatuh cinta kepada seorang kelinci cantik yang bernama Abibah Eviza. Istri saya sendiri," ungkap Mas Malik yang membuat aku terharu.
Ini benar-benar seperti adegan di luar negri yang biasa kulihat, suaminya atau pasangannya pasti berucap dengan begitu manisnya.
"Mas liat drama judul apa?" tanyaku yang penasaran.
"Ha?" tanyanya dengan raut wajah tiba-tiba berubah bingung.
"Iya, liat drama judulnya apa? Sampe bisa se-oke ini ucapannya," paparku dengan menaikkan satu kaki ke kaki yang lain.
Bahunya merosot ke bawah dan wajah dialihkan ke depan, "Kau ini! Saya kira sudah berubah jadi kelinci baik, ternyata masih sama saja! Kelinci yang begitu menyebalkan!" cibirnya dengan memajukan bibir.
__ADS_1
Aku tertawa mendengar ucapannya barusan, ternyata dia bukan melihat drama sehingga bisa berucap sedemikian manis. Tapi, mungkin liat dari internet. Hahaha.
"Sudah, kau sekarang istirahat. Tidur siang, saya juga mau tidur siang," potong Mas Malik menatap ke arahku dan kuangguki cepat.
Ia meletakkan bungkusan obat di atas meja kecil yang berada di samping tempat tidur lalu ke kamar mandi.
Aku bangkit dari atas ranjang menuju jendela, ingin membuka jendela agar udara masuk dan juga sinarnya dapat masuk ke dalam kamar.
Kumatikan lampu kamar ini dan membiarkan hanya ada cahaya dari alam saja, Mas Malik keluar dari kamar mandi dan aku gantian yang masuk ke dalamnya.
"Kenapa belum tidur Mas?" tanyaku saat mendapati Mas Malik masih bersandar di kepala ranjang.
"Gimana mau tidur? Orang kamunya belum ada," keluh Mas Malik dengan cemberut.
"Mas masih mual, gak?" tanyaku naik ke atas ranjang.
Dia menggelangkan kepala, "Kamu, kok gak tau sih kalau hamil? Emangnya gak curiga gitu, cewek 'kan PMS."
"Kan, saya gak tetap tanggal PMS-nya Mas. Kadang di awal, kadang di tengah, kadang di akhir bulan baru PMS. Jadi, saya gak curiga. Emang pernah mual-mual dikit, sih, cuma ngira kalau itu masuk angin biasa aja," jelasku dan mendapatkan anggukan dari Mas Malik.
Dia akhirnya merebahkan tubuhnya di sampingku, menarik selimut hingga menutupi perut. Tangannya terulur mengusap perut yang masih rata.
"Anak!" ketusku yang sudah paham ke mana alur pembicaraan kami.
"Ya ... anak-anak dong, meskipun saya gak dosen lagi. Tapi, pasti akan bisa kok mencukupi kebutuhan kita," mohon Mas Malik dengan wajah memelas.
Kuturunkan tangan Mas Malik dari atas perutku dan membelakanginya, tak akan ada selesainya pembicaraan mengenai anak dan anak-anak ini sampai dia harus yang menang nantinya.
"Ya ... Ayang!" rengekan seperti anak kecil dari bibirnya membuat aku ingin tertawa dan menabok pipinya itu.
Apa dia kira itu menggemaskan? Sebenarnya, iya, sih sepertinya. Sayangnya aku tak melihat wajahnya itu karena sudah lebih dulu memunggungi suamiku sendiri.
***
"Mbak Aulia, kok Kak Abibah gak pernah ke sini lagi?" tanya sepupu Aulia sambil mengelap-ngelap meja cafe.
"Dia lagi sibuk," jawab Aulia dengan memegang sapu.
__ADS_1
"Kayaknya, enak jadi Kak Abibah, ya? Kalo orang kaya emang enak, tinggal di rumah aja. Uang bisa langsung mengalir begitu saja."
Aulia tak menyahuti lagi ucapan sepupunya itu, entah bagaimana caranya mengubah jalan pikirannya.
Bahwa, kesuksesan kita bukan hanya semata-mata karena kaya atau tidaknya. Namun, karena kegigihan dan niat ingin berusahanya.
"Maaf, belum buka," kata Aulia saat mendengar pintu di dorong sedangkan dia masih asyik menyapu lantai cafe.
"Mmm ... boleh saya tunggu sampai buka, Mbak?" tanya orang tersebut yang tak asing di telinga Aulia.
Ia mendongak dan tersenyum malu, "Ehem! Cie ... cie ... yang belum apa-apa udah diapeli sama calon Ayang aja," ejek sepupu Aulia dan berlalu dari mereka menuju ke belakang.
Aulia tersipu malu dan memegang sapunya, "Yaudah, lanjutkan aja," celetuk laki-laki itu mengingatkan Aulia bahwa kerjaannya belum selesai.
"Eh, iya!" kata Aulia saat tersadar bahwa kerjaannya masih setengah yang siap.
Laki-laki itu duduk di meja dekat tempat order sambil memperhatikan Aulia yang masih fokus menyapu.
Untungnya, wanita itu masih bisa profesional dengan kerjaan. Tidak sampai membuat kesalahan seperti dulu-dulu ketika ia pacaran dengan Irpan.
"Ada apa Kakak ke sini?" tanya Aulia saat cafe sudah mulai buka dan beberapa pembeli sudah mulai berdatangan.
"Saya mau bicara serius sama kamu Aulia," ujar Erwin dengan menatap Aulia serius.
"Bicara apa?" tanya Aulia menaikkan satu alisnya penasaran.
"Sejauh ini kita kenal dan dekat, apa kamu ada rasa sama saya?" tanya Erwin dengan berharap.
Aulia meremas ujung bajunya dan menunduk, "Emangnya kenapa, ya, Kak?" tanya Aulia menatap Erwin.
"Jawab pertanyaan saya dulu Aulia."
"Mmm ...." Aulia bergeming, ia mengangguk entah sebagai jawaban dan artinya apa.
"Kamu ada perasaan sama saya?" tanya Erwin dengan senyum mengembang mengulang kembali pertanyaan karena merasa belum puas dengan jawaban Aulia.
"I-iya Kak," kata Aulia terbata-bata, "tapi, bukan berarti kita harus pacaran atau saya berharap kita pacaran Kak. Gak papa kok kalau mau berteman aja, saya juga sadar diri, kok." Aulia langsung menjelaskan karena takut setelah ini Erwin akan menjauh darinya hanya karena tahu bahwa ia memiliki rasa pada laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Haha, tidak papa kalau bahkan rasa kamu itu ingin memiliki saya. Karena ... saya juga ingin memiliki kamu," terang Erwin membuat Aulia seketika melebarkan matanya dengan mulut terbuka tak percaya dengan apa yang baru diucapkan laki-laki di depannya.