
Saat tengah masak, suara mobil terdengar dari luar. Kulihat jam di dinding baru menunjukkan pukul 2 siang.
Belum waktunya pulang kerja, dia pasti pulang demi menjelaskan soal yang dijelaskan Papa tadi di telpon dan foto tersebut.
Aku pura-pura tak paham terlebih dahulu, ingin melihat kejujuran suamiku tersebut meskipun ada perasaan lucu nantinya karena harus berpura-pura marah padanya.
"Assalamualaikum," salam suara bariton sambil membuka pintu yang memang tak dikunci.
"Waalaikumsalam," gumamku sambil tetap fokus memotong sayuran.
Tak kulirik, tapi yang kudengar langkah kakinya semakin mendekat ke arahku.
"Sayang," panggilnya pelan sudah seperti pelaku yang ketahuan salahnya.
Aku hanya diam dan tak merepons bahkan sekadar melirik ke arahnya pun tidak.
"Sayang ... aku bisa jelasin," sambungnya lirih.
"Jelaskan!" tegasku menatap dingin ke arahnya. Ia tampak terkejut dengan suaraku yang tinggi. Melihat ekspresi kagetnya bahkan membuatku ingin sekali tertawa.
Sepertinya, aku harus meminta maaf setelah ini. Berdosa rasanya meninggikan suara pada suami apalagi membuat ia sampai kaget seperti tadi.
"Aku dijebak Sayang, entah bagaimana bisa dia memasukkan berkas ke kantor Papa dan emang jadwal meeting yang ditentukan mereka adalah di hotel tersebut.
Aku tidak memeriksanya kerena biasanya memang tak pernah terjadi hal seperti ini, aku percaya saja. Aku memang tolol Sayang, kau boleh benci samaku.
Tapi, tolong jangan diamkan aku apalagi ingin pisah dengan aku. Nanti, siapa yang aku peluk kalau mau tidur?"
"Bukankah ada wanita itu? Dia saja yang kau peluk dan ciumi!" ketusku yang tak habis pikir. Bisa-bisanya dia masih memikirkan hal tersebut, sangat menyebalkan!
Di luar perkiraanku, Mas Malik malah bersimpuh dan memegang tangan ini. Ia berlutut yang membuat aku langsung panik.
Mematikan kompor yang sedang menggoreng ayam, karena takut nanti akan gosong karena keasyikan dengan drama siang menuju sore ini.
Aku membantu Mas Malik bangkit, air mata tampak membasahi wajahnya. Sebegitu takutkah ia aku akan pergi?
Kutatap lekat nanar cokelat itu dalam, melihat ketulusan juga keikhlasan di dalamnya. Ia tak berdusta padaku.
Kupeluk tubuhnya tanpa berkata apa pun, "Mas ... Abibah percaya dengan yang Mas ucapkan, tak perlu takut. Abibah akan tetap ada di samping Mas sampai kapan pun itu. Sampai, yang memisahkan kita hanya kematian," kataku kepadanya.
__ADS_1
Tangannya mengusap punggungku, kecupan diberikan di kepala yang tertutup kerudung ini. Aku tersenyum dan bersyukur, secinta ini sekarang Mas Malik padaku.
"Terima kasih, terima kasih Abibah," bisiknya yang masih terdengar dengan jelas di telingaku. Aku mengangguk menjawab bisikannya itu.
Mas Malik tak kembali lagi ke kantor, lepas salat Asar. Kami memutuskan untuk menanam dan menata pot-pot yang akan di isi berbagai bunga.
"Mas, beli kelinci dong. Atau kucing, biar ada peliharaan," kataku memberi saran pada laki-laki yang masih fokus memasukkan tanah ke pot-pot.
"Mmm ... kan sudah ada ikan," ujarnya mengingatkan ikan hias yang ada di ruang tamu.
"Ya, itu mah gak bisa dipeluk-peluk atau diajak bicara. Bisanya dimakan dan buat kenyang!" ketusku dan memutar bola mata malas.
"Kan ada Mas, kamu peluk dan ajak bicara aja Mas," ucapnya dan menatap wajahku.
Aku mendengus kesal dan menggelengkan kepala agar menahan sabar untuk tidak menimpuk laki-laki di depanku ini menggunakan pot yang kupegang.
"Jadi kita pergi nanti malam?" tanya Mas Malik tiba-tiba yang membuat aku mengerutkan kening.
"Ke mana?"
"Lah 'kan Aulia lamaran. Masa kamu gak ingat, sih."
"Kamu ini, masih muda udah pelupa."
"Pelupa bukan cuma karena faktor umur Mas, tapi karena banyak yang dipikirin," jelasku dengan tangan sibuk memadatkan tanah.
"Emang apa yang kamu pikirin?" tanya Mas Malik menghadap ke arahku. Aku langsung menatap ke arahnya.
"Kamu," godaku dengan tersenyum manis. Dia terlihat salah tingkah dan membuat suara tawa seketika terdengar.
"Wow ... kelinciku mulai kembali ... enaknya dikasih hadiah apa, ya?"
"Dih, apaan! Jangan macem-macem, ya!" tegasku yang ketakutan jika dia melakukan hal mesum nantinya.
"Jangan salahkan saya dong, orang kamu yang menggoda saya."
"Gitu aja tergoda, lemah banget!" cibirku.
***
__ADS_1
Selepas salat Isya dengan aku yang di rumah dan Mas Malik di musala yang ada di sekitar kawasan rumah.
Kami akhirnya berjalan menuju rumah Aulia, dia sudah menghubungiku ternyata dari tadi sore untuk mengingatkan hal ini.
Namun, karena sibuk dengan calon bunga-bunga yang akan di isi nanti. Jadi, panggilan darinya tak terdengar olehku.
"Abibah ...!" teriaknya yang berada di ambang pintu saat melihat aku keluar dari mobil.
"Dih, bukannya masuk ke dalam kamar. Kenapa malah di depan pintu lu?" tanyaku dan berjalan berdua dengannya.
"Lah, gue mah nungguin lu. Lu yang spesial dari yang lainnya," jelas Aulia tersenyum.
"Heleh, sok banget lu!" Kami masuk ke dalam dan Mas Malik kutinggal begitu saja. Aku dan Aulia masuk ke dalam kamar.
Di kamar, hanya ada kami berdua. Tukang make-up kata Aulia sudah pergi lebih dulu dan di sini juga ada Mama Aulia serta adiknya juga Ayah barunya.
"You happy?" tanyaku menatap sendu ke arah Aulia. Entah kenapa, rasanya sangat sedih karena merasakan akan kehilangan seseorang yang dekat dengan kita.
Melepaskan dia untuk sibuk dengan dunianya sendiri nantinya, sibuk mengurus suami dan juga rumah tangganya.
Aulia mengangguk, "Udah, ah! Lu mah! Jangan gitu, jadi sedih gue!" sebal Aulia dan mengipas wajahnya agar air mata tak terjatuh.
Aku hanya tersenyum, Aulia memegang tanganku dan menatap lekat wajah ini, "Makasih, ya, makasih udah jadi sahabat ... yang begitu baik bagi gue. Sahabat yang membimbing gue meskipun gue kadang masih ngeyel dan susah dibilangin, makasih buat selalu ada saat gue sedih dan bahagia. Makasih. Makasih Abibah."
Air mata sudah memenuhi wajah, kubawa tubuh Abibah ke dalam pelukanku. Kami menangis bersama untuk pertama kalinya.
Menangis bahagia, menangis perpisahan. Meskipun masih ada waktu sebulan lagi acara pernikahannya.
Namun, itu bukanlah waktu yang lama dan belum tentu pihak Erwin setuju. Bisa jadi keluarganya ingin mempercepat pernikahan sebab merasa sudah cocok dengan Aulia.
Mix mulai terdengar dan suara riuh terdengar sampai dalam kamar, tanganku di genggam oleh Aulia seolah menjadi penenang dalam kegaduhan hatinya.
Bibirnya tak berhenti melafadzkan istighfar, sedikit lucu melihat wajah panik wanita yang biasanya selalu terlihat tenang ini.
"Irpan ntar lu undang apa kagak?" tanyaku mencoba mencairkan suasana.
"Undang, sekalian Tante-tante girang punyanya itu," celetuk Aulia yang kembali ngegas seperti biasanya.
Aku hanya terkekeh dan menutup mulut agar tak terdengar hingga ke depan, masih ada ternyata dendam pada laki-laki yang dulu selalu dibanggakannya. Aneh memang cinta. Bisa membuat kita bahagia, terluka bahkan hingga trauma.
__ADS_1