
Hari keenam kami di Bandung, aku lumayan suka dengan tempat ini dan juga lingkungannya. Beberapa kali aku bermain ke rumah Mbak untuk bertemu dengan anaknya.
Siang ini, Pak Malik tengah sibuk dengan laptop dan hanya ada kami berdua di ruangan. Aku baru ingat bahwa belum bertanya soal hubungan kami ini.
"Mmm ... Pak!" panggilku dengan bingung harus memulai dari mana.
"Ya, ada apa?" tanya Pak Malik dan melihatku hanya sekilas.
"Bapak ... udah cinta atau belum sama saya?" tanyaku tanpa basa-basi, seketika tangannya yang asyik menari di laptop terhenti.
"Maksudnya?" tanya Pak Malik yang entah memang tak paham atau pura-pura.
"Bapak masih ingat? Bahwa saya punya perjanjian dengan mending orang tua saya dulu, bahwa jika sampai 1 tahun pernikahan ini tetap tak akan ada cinta. Maka, saya mau menggugat cerai Bapak," jelasku dengan menunduk.
"Kenapa? Kenapa tidak dibiarkan saja?"
Aku mendongak melihat ke arah Pak Malik yang seolah tak setuju, "Buat apa pernikahan tanpa cinta Pak? Gak ada gunanya juga, saya juga mau bahagia pastinya di dalam rumah tangga tersebut dan Bapak juga sama 'kan?"
Pak Malik diam seolah tengah memikirkan sesuatu atau dia tengah merangkai kata-kata bahwa dia tak cinta denganku dengan baik dan manis? Agar, rasa nyeseknya tak terlalu terasa.
"Nanti malam, saya akan kasih jawaban dari pertanyaan kamu itu. Apakah saya sudah mencintai kamu atau tidak," jelas Pak Malik.
"Dih, sok banget. Gak usah kepedean saya mau banget sama jawaban Bapak itu!" ketusku yang emosi seolah dia paling penting banget. Tinggal jawab saja susahnya minta ampun.
"Hahaha, jangan keseringan marah-marah. Kau akan cepat tua nantinya."
"Biarin!" ketusku dan bangkit dari tempat duduk menuju dapur. Aku ingin membuat jus dan duduk di depan.
Sepertinya akan sangat menyenangkan, melihat orang-orang di sini pulang dari sawah atau kebun milik mereka.
Saat melewati Pak Malik, dia tak melihat diriku karena sibuk dengan istrinya itu. Aku juga sudah lama tak melihat handphone lagi.
Pengen tahu juga apa yang terjadi dengan cafe, memang tiap hari notif transfer masuk ke rekeningku dari Aulia.
Namun, aku tetap ingin tahu apa yang terjadi pada tempat pertama yang membuat aku menjadi semangat untuk mandiri dahulu.
"Ini masih siang, panas. Kalau mau duduk itu saat sore, aja," celetuk seseorang.
Aku langsung mendongak dan menautkan alis, "Maaf, siapa, ya?" tanyaku dan memilih berdiri.
"Saya penghuni rumah di samping. Kenalkan nama saya Angga," ucapnya ramah dan mengulurkan tangan di hadapanku yang masih duduk.
Aku berdiri dan mengungkapkan tangan, "Abibah." Dia terlihat seperti salah tingkah atau mungkin malu.
"Kau akan tinggal selamanya di sini?"
__ADS_1
"Tidak, besok sudah pulang."
"Sedang bulan madu?" tanyanya yang menurutku sedikit kepo dengan urusan orang lain.
"Tidak juga."
"Tapi, suami-istri?" Dengan malas aku tersenyum dan mengangguk, dia tampak sedikit kecewa dan mendatarkan wajahnya.
"Yaudah kalau gitu, permisi!" pamitnya begitu saja setelah tahu aku sudah jadi istri orang.
"Pria aneh!" umpatku dan duduk kembali.
Sesekali aku bersenandung dan mengayunkan kaki, menatap dan tersenyum menikmati suasana di sini.
"Siapa tadi?" tanya suara bariton yang tak asing di telinga ini.
"Angga," jawabku singkat.
"Wih ... udah tau aja namanya."
"Dia yang ngenalin diri tadi."
Suara bobot tubuh terduduk di sampingku, dengan santai mengambil gelas yang masih ada jus di dalamnya.
Ia menyeruput dan hanya kutatap dengan kesal, "Jangan terlalu ramah sama orang."
"Ya, kau langsung pergi atau lari seharusnya."
"Dan langsung nangis, gitu? Biar pas kayak ketemu sama setan atau aku yang kurang waras!" omelku tak paham dengan jalan pikiran Pak Malik.
"Tak lucu, aku serius!"
"Aku juga serius, Bapak masuk aja lagi sana! Temui istri Bapak itu!" usirku yang mendapatkan alis terangkat darinya.
"Istri? Di dalam, mana ada," tanya Pak Malik bingung.
"Laptop Bapak itu 'kan udah kayak istri Bapak! Tiap hari di liatin, di ajak bicara pula lagi sesekali."
"Terus, kamu apa?"
"Selir kayaknya!" ketusku dan memajukan bibir. Aku menepuk bahu pelan dan bangkit berniat meninggalkan.
"Mau ke mana?"
"Makan bakso!" ketusku dan berjalan tanpa mengajak Pak Malik.
__ADS_1
"Di sini banyak preman, jadi kalau mau pergi-pergi ada baiknya minta temani." Pak Malik sudah berjalan beriringan denganku.
"Serem preman, lebih serem lagi Bapak saya rasa."
"Iyakah? Apakah wajah seimut dan setampan saya ini pantas bergelar 'seram' darimu itu?"
Aku menoleh menatap ke arahnya setelah mendengar ucapan Pak Malik yang tak biasa tersebut.
Dia sudah berpose sok imut di sampingku, "Pak, plis deh. Jangan kayak gitu, yang normal-normal aja. Bisa 'kan?" protesku yang kesel tingkat akut melihat kelakuannya.
Suara tawa malah terdengar sedangkan aku menekuk wajah dan sedikit menghetak-hentakkan kaki sebal.
Kami akhirnya sampai di warung bakso yang lumayan ramai pembelinya, "Pak, mau mie ayam bakso satu, ya," pesanku dan berlalu masuk ke dalam mencari bangku.
"Saya juga, ya, Pak. Es teh manis dua," kata Pak Malik. Dia duduk di sebrang bangkuku dan menatap wajah ini.
"Apa, sih, Pak! Jangan liat-liat saya!" kesalku menepuk tangannya. Bisa-bisa salting nih diri dan gak jadi makan kalo dia natapnya kayak gitu banget.
"Oh, okey!" Dia malah natap cewek yang ada di belakang meja kami. Mana, cakep banget lagi tuh cewek. Kan, jadi insecure saya.
Dengan kesal, kutendang kaki Pak Malik. Dia langsung mengeluh kesakitan, "Kenapa Pak?" tanya pelayan bakso yang ternyata mendengar keluhan dari Pak Malik tadi.
"Ha? Gak papa, kok, Pak. Cuma tadi ada semut api kayaknya," jawab Pak Malik dengan menahan ringisan.
Aku hanya tersenyum dengan mengulum bibir, pelayan meletakkan pesanan kami di meja dan berlalu kembali.
'Lihat saja nanti malam, kau harus membayar semua ini Abibah,' batin Malik menatap sinis ke arah Abibah.
Aku yang melihat Pak Malik menatap sinis hanya tersenyum saja, kalau tak punya malu aku pasti sudah tertawa terbahak-bahak karena hal ini.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, makanan telah selesai berjalan beriringan ke arah kasih. Aku meraba kantong gamis, 'Mampus! Kagak bawa dompet,' batinku yang mulai kebingungan.
"Berapa Pak?" tanya Pak Malik dari belakang menatap ke arah penjaga kasir.
"46 Pak."
Pak Malik menyerahkan uang satu lembar berwarna merah muda dan langsung diberi kembalian oleh penjaga kasir.
Kami keluar dari tempat warung bakso, "Pak, maka---"
"Nih, dompetmu!" potong Pak Malik menyerahkan dompet milikku. Aku langsung berhenti.
"Ha? Jadi Pak Malik bayar baksonya pake duit saya?"
"Iyalah, duit siapa lagi?" Dia jalan lebih dulu dengan menaikkan bahu.
__ADS_1
"Malik ...!" pekikku kesal. Kirain dia akan seperti drama sebrang sana yang membayarkan istrinya. Eh, ternyata enggak dong. Menyebalkan!