
Selepas makan malam tadi, tanganku di tarik oleh Pak Malik sampai dalam kamar. Aku terduduk di tepi ranjang sedangkan dia berdiri.
"Kau mau jawaban dari pertanyaanmu tadi siang 'kan?"
"Gak juga, terserah Bapak mau jawabnya kapan aja. Saya gak maksa sekarang, kok," jawabku yang masih belum paham.
"Yasudah, tunggu sampai selesai salat Isya," ujarnya dengan tersenyum ke arahku.
Setelahnya Pak Malik langsung keluar dari kamar dan entah ke mana, aku cuma diam dan tak tahu apa maksudnya sebenarnya.
Kunaikkan bahu acuh mencoba tak terlalu memperdulikan apa yang diucapkannya tadi dengan mengambil handphone di nakas.
Segera kucari nomor Aulia, jujur aku sangat merindukannya. Entah apa kerja wanita itu saat ini.
"Lu masih ingat sama gu?" tanya seseorang dari sebrang dengan ketus. Bukannya jawab salam dariku malah langsung bertanya.
"Jawab salam dulu, kali!"
"Waalaikumsalam!"
"Ck! Ututu, temen gue kayaknya ada yang ngambek, nih?! Ntar, gue bawa oleh-oleh deh."
"Lu gila, ya, Abibah? Lu gak tau gue rindu setengah mati sama lu? Lu gak tau kalo Kak Abil sekarang udah gak di Jakarta dan dia mau pamitan waktu itu sama lu. Lu blok dia, ya, salah dia apa, cobak?"
Aku tertegun dan tak menyangka bahwa Kak Abil ternyata sudah pergi dari Jakarta, apakah dia marah denganku atau kenapa dia pergi?
"Lu tau 'kan gue udah jadi istri orang lain? Gak mungkin gue deket apalagi komunikasi sama dia. Kalau nanti ketauan sama Pak Malik bagaimana? Gue gak mau nambah masalah lagi."
"Haha, iya, gue lupa. Gue lupa bahwa lu bahkan gak akan pernah bisa lari dari pernikahan itu, ya? Bener kata Kak Abil, mungkin karena dia kalah dari segala hal itu sebabnya lu gak mau keluar dari pernikahan konyol tersebut!"
"Lu kenapa, sih? Kenapa lu sampe segini sama gue? Gue emang ada salah apa? Gue gak lakuin apa-apa sama Kak Abil, gue juga gak buat dia berharap. Kenapa lu banget yang marahi gue segininya? Kalo lu suka sama Kak Abil, ambil! Ambil dia sana dengan cara lu sendiri, jangan dengan cara mendekati dia pas dia mau deketin gue! Muak gue lama-lama liat sikap lu yang munafik jadi temen, lu mau semua yang deket dengan gue. Saat lu gak bisa? Lu akan marah sama gue semau lu!" murkaku yang sudah tak tertahan dengan tuduhan dan ucapan Aulia barusan.
Menurutku, dia sudah sangat keterlaluan. Aku tahu, dia menyukai Kak Abil dari pertama kali laki-laki itu datang ke cafe.
Dia juga menyukai Pak Malik semenjak Pak Malik menjadi dosen di kampus kami, bahkan yang aku tahu dia pernah ngungkapin perasaan ke Pak Malik.
__ADS_1
Namun, tentu saja laki-laki itu menolak perasaan Aulia hingga pas dia tahu bahwa aku sudah menikah dengan Pak Malik ada raut wajah marah juga kekecewaan tertampil di wajahnya.
Hanya saja, aku tak memperdulikan itu dan menganggap bahwa mungkin itu hanya kekecewaan karena tak kuberi tahu dari awal.
Panggilan langsung kumatikan, niat tadi ingin bercanda tawa dan melepaskan kerinduan seketika sirna.
Kubanting handphone ke kasur dengan sedikit kasar, aku bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi dan apa saja yang telah Kak Abil ucapkan pada Aulia.
Pantasan saja, Aulia tak pernah berkabar lagi denganku. Dia hanya mengirim uang dan menuliskan status pengiriman bahwa itu dari dia.
Selebihnya, kami tak pernah lagi bercengkrama. Mood-ku jelek, aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sudah kulakukan sehingga membuat Kak Abil pergi dari Jakarta.
Apakah suatu kesalahan untuk aku mempertahankan rumah tangga ini minimal hanya 1 tahun saja?
Suara seruan shalat menggema, adzan berkumandang dengan merdu dan indahnya. Kuusap kasar bulir bening yang lolos tanpa kupinta di pipi ini.
Masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, Pak Malik sekarang tak perlu lagi disuruh atau dipaksa untuk shalat.
Hanya perlu waktu sebulan, setelah itu dia tampak sudah terbiasa untuk melakukan wajibannya itu.
Aulia tanpa sadar telah menganggap aku sebagai wanita yang hanya mencintai seseorang karena uangnya.
Padahal dia tahu sejak lama, bahwa keluargaku bukanlah dari keluarga yang kekurangan. Alhamdulillah, bahkan tempat dia bekerja itu adalah usahaku.
Apakah dia lupa? Atau cinta membuat dia buta sehingga mampu berucap sedemikian rupa pada diriku.
Suara pintu terbuka dengan disusul salam, aku masih menangkup wajah dan membiarkan tangisan juga isakan tumpah.
"Kau kenapa Abibah?" tanya suara bariton yang terdengar seperti panik.
Aku tak merespons, membiarkan dada ini sedikit lapang dengan cara menangis. Hangat dan tenang saat tubuhku sudah berada di dalam pelukannya.
"Kau kenapa? Jangan buat aku khawatir, katakanlah!" lirihnya dengan mengecup pucuk kepalaku yang tertutup mukena.
Setelah tangisan mereda dan hanya tersisa suara sesenggukan, aku menatap wajah Pak Malik dengan mendongak.
__ADS_1
Lagi-lagi, ada perasaan aneh yang timbul dari dalam diri. Pak Malik menangkup wajahku dan menghapus jejak air mata di pipi ini.
"Kalau kau sudah merasa baikan, maka ceritalah denganku," ucapnya setelah sekian lama hanya ada sesegukan dari bibirku.
Aku menunduk dan menggeleng pelan, tangganya berada di daguku dan mengangkat membuat pandangan kami bertemu.
"Aku tak suka melihat kau menangis, jika tangisanmu itu karena ulahku. Maka, katakanlah aku berkata apa sehingga membuatmu menangis. Jangan membuat aku merasa bersalah karena telah membuat hatimu terluka."
Kutarik napas dalam agar sesenggukan ini segera reda, "Bapak tidak salah. Ini bukan karena Bapak," ucapku dengan wajah yang dingin.
Dia menatap sendu ke arahku, perlahan wajahnya mendekat dan mencium keningku. Tanpa aba-aba, tubuhku sudah berada di dalam gendongannya dan diturunkan di ranjang milik kami berdua.
SKIP
Handuk yang sudah ada di atas kepala membuat aku sebal dan kesal dibuat pelakunya, memang aku tak akan mengingat kesedihanku lagi.
Tapi, bukan dengan cara seperti itu juga. Pelakunya baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang juga basah sepagi ini.
"Apa senyum-senyum?!" ketusku menatap tajam ke arahnya yang duduk di dekatku.
"Bagaimana? Apa kau senang dengan jawaban yang kau inginkan, Khumairah?"
"Pak, jangan buat saya sampe melakukan KDRT terhadap Bapak, ya!" kesalku yang sudah emosi akibat ulahnya.
Mana air hangat tidak ada, terpaksa aku harus mandi air dingin dengan suasana yang dingin di daerah sini.
Sangat menyebalkan sekali, bukan?
"Haha, tenang saja. Saya tidak akan meminta lagi padamu, Sayang. Saya melakukannya hanya karena kau yang ingin meminta jawaban. Jadi, terpaksa saya lakukan."
"Ha? Terpaksa kata Bapak?" tanyaku dengan nada naik tiga oktaf dan menimpuk dia dengan bantal.
"Kalo saya bilang karena kemauan saya, ntar kamu takut lagi kalo saya peluk lain kali. Hahaha."
"Dasar, dosen mesum!" caciku dan membuang pandangan agar tak terlihat semu merah di pipi ini.
__ADS_1