Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Permintaan Maaf


__ADS_3

Hari ini adalah hari aku untuk periksa kandungan dan melihat apakah untuk 3 hari kedepan calon bayiku kuat menghadapi acara yang sudah disiapkan Mama.


Kami mencari perawat wanita yang setidaknya aman jika dia memegang atau melihat perutku, kami juga sudah bilang bahwa dengan dialah nanti aku akan bersalin.


"Gak papa kok, ini. Dede-nya baik-baik saja, aman kalau mau buat pesta," jelas dokter sambil melihat ke arah layar yang memperhatikan gerak calon anakku di dalam perut.


Ada perasaan sedih dan senang melihat ada kehidupan di dalam perutku, semoga dia tak merasa menyesal karena menjadi anakku nantinya.


Karena nyatanya, seorang anak tak bisa memilih dia akan lahir dari keluarga mana. Mungkin, jika ditanya satu per satu kepada anak-anak yang ada.


10% yang mengatakan ingin tetap bersama dengan keluarganya yang sekarang sedangkan 90%-nya lagi ingin dengan dilahirkan dari keluarga lain.


"Kamu kenapa, kok malah bengong?" tanya Mas Malik saat mendapati aku melamun di dalam mobil.


"Enggak papa Mas, cuma takut aja makin ke sini. Takut, gak bisa jadi orang tua yang baik untuk anak Abibah nanti," ungkapku dan mengelus perut yang sudah mulai terasa perubahannya.


"Tak ada orang tua yang langsung bisa menjadi orang tua terbaik, semua orang tua pasti akan belajar setiap harinya agar anaknya merasa nyaman dan bahagia terlahir dari keluarganya. Kita sama-sama belajar, belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik. Gak perlu khawatir, saya akan bantu dan selalu ada di samping kamu," jelas Mas Malik lagi dan lagi meyakinkan aku bahwa dia tak akan pergi dari sisi ini.


Aku mengangguk dan mengulas senyuman ke hadapannya, cafe sudah memiliki karyawan baru yang dicari oleh Mas Malik.


Sedangkan Aulia, dia tengah bulan madu katanya di Yogyakarta bersama dengan suaminya itu. Setiap hari dia akan bercerita dari hal yang aneh hingga sangat tidak masuk akal.


Kadang, aku suka jengkel ketika mendengar cerita yang sedikit tak masuk akal dari bibirnya itu. Namun, bukankah memang dirinya seperti itu?


Celsea dijatuhi hukuman karena terbukti ingin menjebak, ia hanya di hukum 1 tahun sedangkan setelah itu langsung dibawa ke luar negri untuk mempertanggung jawabkan kasusnya karena telah membunuh mantan suaminya tersebut.


"Mas, kita liat Celsea, yuk!" ajakku saat kami masih di perjalanan akan pulang. Ini hari Minggu, jadi kantor libur dan Mas Malik bisa menemani aku ke dokter.

__ADS_1


"Buat apa?" tanya Mas Malik melirik ke arahku, "mending kita belanja aja, nyari baju-baju atau kebutuhan si dede." Mas Malik mengusap perut ini gemes.


"Masih lama juga lahirnya, ngapain belinya sekarang?" tanyaku yang bingung kenapa Mas Malik yang lebih semangat soal membeli barang untuk bayi.


"Kalo pas mau lahiran baru dibeli bajunya, kamu gak bisa ikut beli dong. Mana kuat buat jalan lagi," jelas Mas Malik yang memang ada benarnya.


"Tapi, Mas. Katanya pamali, lho beli baju padahal anaknya masih bayi banget."


"Heleh, kamu masih percaya aja sama yang begituan. Udah 2023 ini, gak ada yang begituan. Dah, kalo emang kamu gak mau beli perlengkapan bayi. Kita makan atau belanja aja, deh," potong Mas Malik yang malas berdebat denganku.


"Mmm ... kita main aja deh," ucapku setuju pada sarannya. Ia mengangguk tersenyum dan melajukan mobil ke arah mall yang ada.


Saat tengah asyik dengan permainan campit boneka, mataku menangkap sosok seseorang yang sepertinya juga melihatku.


Ia mengayunkan kakinya ke arah kami dengan tangannya yang di gandeng oleh laki-laki dengan tubuh yang besar.


"Mau apa kamu?" tanya Mas Malik dengan nada tak ramah sedangkan aku hanya menatap ke arah mereka saja.


"Haha, santai saja Pak Malik. Saya tidak akan melakukan hal yang macam-macam lagi, tenang saja," ujarnya dengan tersenyum.


Aku dan Mas Malik hanya diam tak menjawab perkataannya, ingin tahu apa yang akan ia jelaskan sekarang.


"Saya cuma mau minta maaf, maaf karena waktu itu pernah melakukan kesalahan yang bahkan membuat Pak Malik risih atau bahkan ilfil dengan saya sampai Pak Malik memutuskan untuk berhenti dari kampus.


Saya tau, saya adalah wanita bodoh yang ingin mendapatkan balasan dari orang yang saya cintai tanpa saya sadari bahwa perasaan cinta tak akan bisa dipaksakan.


Saya juga menyesal karena pernah melakukan hal-hal yang berbahaya atau hampir mengancam kamu Abibah, sebagai seorang yang bergelar dosen tak seharusnya itu saya lakukan.

__ADS_1


Namun, cinta membuat saya buta dan bodoh. Tak bisa membedakan mana yang baik dan tidak, tapi beruntung saya tak sejauh itu melakukan segala cara demi mendapatkan Pak Malik.


Hingga akhirnya, saya tau bahwa Tuhan mendatangkan jodoh yang terbaik untuk saya. Jodoh yang bisa mencintai saya apa adanya dan tak menuntut saya harus jadi seperti orang lain," jelas Mis Vilo menatap laki-laki yang ada di sampingnya.


"Jadi, apakah kalian sudi memaafkan saya?" tanya Mis Vilo menatap ke arahku dan Mas Malik secara bergantian.


Aku tersenyum dan mengangguk, "Kenapa, tidak? Bukankah semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan? Itulah yang Mis lakukan dan hal yang seperti ini serta disebabkan cinta itu hal biasa. Namun, meskipun karena cinta kita harus tetap bisa mengendalikan diri agar tak melakukan hal yang tak seharusnya," ungkapku.


Dia mengangguk dan membalas senyumanku tak kalah tulus, "Terima kasih Abibah, kamu memang cocok dan pantas berada di samping Malik," puji Mis Vilo membuat aku menatap ke arah Mas Malik.


"Bukan dia, tapi saya yang cocok berada di samping dia dan pantas berada di sampingnya," ungkap Mas Malik menatap ke arahku dan meletakkan tangannya di bahuku.


Mis Vilo hanya tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan Mas Malik, "Oh, iya, ini," kataku teringat sesuatu, "jangan lupa datang, ya, Mis."


Aku menyerahkan kertas undangan yang kebetulan kubawa di dalam tas.


"Resepsi?" tanya Mis Vilo memastikan.


"Iya, Mis. Resepsi pernikahan kami," ujarku dengan mengangguk.


"Baiklah, saya pasti akan datang ke sana. Terima kasih untuk undangan juga maaf dari kalian, kami pergi dulu dan lanjutkan permainan kalian tadi."


Aku melambaikan tangan dan dibalas oleh Mis Vilo yang akhirnya pergi dari hadapan kami dengan laki-laki yang hanya diam saja tadi.


"Itu siapanya Mis Vilo, Mas?" tanyaku sedikit berbisik sedangkan Mas Malik kembali sibuk dengan mesin capit.


Dia menaikkan bahunya acuh dan menatap ke arahku, "Entah! Kenapa gak ditanya tadi?" ujarnya dan kembali menatap boneka-boneka yang ada di dalam box tersebut.

__ADS_1


Aku hanya memajukan bibir karena kesal pada sikapnya, sangat tidak asyik diajak untuk bercerita bersama.


__ADS_2