Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Salah Target


__ADS_3

Selesai makan bakso, ya, jadinya sarapan bakso yang beruntung sudah ada warung bakso buka. Kami melanjutkan perjalanan hingga roda 4 ini berhenti di kampus.


Mobil milikku dulu tetap kutinggalkan di rumah keluargaku, untuk kebutuhan atau ada kepentingan di sana nantinya.


Aku berjalan di samping Pak Malik meski tidak dengan gandengan tangan, aku pun malu jika harus gandengan.


Setiap yang papasan dengan kami pasti menatap dengan heran dan pasti bertanya-tanya, "Kamu ke ruangan saya, sekalian beresin barang-barang di situ. Saya mau ke ruangan pihak kampus dulu, mau menyerahkan surat pengunduran diri," jelas Pak Malik yang langsung kuangguki.


Kuayunkan kaki menuju ruangan Pak Malik, membuka pintu dan menutupnya kembali. Ruangan yang rapi dan dulu paling kubenci karena hanya akan ada tugas tambahan jika sampai masuk ke sini.


Kumulai dari buku-buku di rak, sudah ada kotak di meja ruangan ini. Aku menata buku tersebut dengan rapi agar muat banyak nantinya.


Asyik mengambil-ngambil buku dengan membelakangi pintu, suara pintu terbuka, "Pak, semua buku ini punya Bapak 'kan?" tanyaku tanpa menoleh ke belakang karena masih sibuk membaca satu per satu judulnya.


Klik


Suara kunci diputar membuat tubuhku seketika memegang, aku langsung menatap ke arah pintu yang terkunci.


Di sana, sudah ada Mis Vilo menatapku dengan menyeringai. Entah apa yang sedang dipikirkannya dan direncanakan wanita itu.


"A-ada apa, ya, Mis?" tanyaku dengan terbata-bata dan meletakkan buku di meja.


Wanita dengan menggunakan hels tersebut berjalan mendekat ke arahku, "Saya dengar, Malik akan berhenti bekerja di sini, ya?" tanyanya dengan nada yang sulit kuartikan.


Aku mengangguk dengan kesusahan, mengumpulkan kekuatan serta keberanian agar bisa melawan dan keluar dari sini nantinya.


"Kau tau sesuatu? Saya telah mencintai Malik jauh sebelum kamu ada di kampus ini! Tapi, kenapa bisa kamu yang jadi istrinya? Apa yang kurang dari saya?"

__ADS_1


"Ya, namanya juga jodoh Mis. Kita gak tau siapa jodoh kita, gak semua yang kita cintai akan menjadi jodoh kita 'kan?" tanyaku dengan menjawab ucapannya berani.


"Oh, tentu saja tidak begitu! Di dalam kamus saya, tidak ada istilah bukan jodoh dan jodoh. Namun, jika yang saya sukai tidak jodoh saya maka orang lain juga tidak akan berjodoh dengannya. Kau paham maksud, saya?" tanyanya menaikkan satu alis dan membelai pipiku dengan satu jarinya.


Aku menggelengkan kepala karena memang tak paham, "Jadi, Pak Malik harus meninggal gitu Mis? Biar dia gak jadi jodoh siapapun juga?"


Wajahnya berubah jadi datar, ia memegang daguku dengan begitu kuat membuat perih yang kurasa akibat kuku panjang milikku.


Segera kutepis dan kudorong tubuh kurusnya itu, "Mis apaan, sih! Mis gak berhak melakukan hal tersebut ke saya! Saya gak pegang Mis, jadi jangan pegang saya!" tegasku menunjuk ke arahnya.


"Hahaha." Tawanya terdengar dengan tepukan tangan mendekat kembali ke arahku, "Kalau saya gak mau, gimana? Kau mau berbuat apa?" tanya Mis mengancam.


Aku maju sedikit mendekat ke arahnya dan berjinjit agar tinggi kami sama, "Saya akan lakukan apa yang Mis lakukan ke saya! Karena dosen itu digugu dan ditiru. Kalau Mis seperti itu saya juga akan seperti itu!" terangku yang tak merasa takut sedikit pun pada perempuan di depanku ini.


"Kau anak kecil jangan sok, deh! Sekarang saya minta kau ceraikan Malik, atau ...."


Aku terdiam, menunggu apa yang akan dia tunjukkan. Ternyata, dia membawa pisau yang aku pun tak tahu apakah itu tajam atau tidak.


"Mis mau adu skill sama saya?" tanyaku dan menyodorkan pistol ke keningnya.


Dia seketika menampilkan wajah pasi, dirinya yang tadi terlihat seolah akan menang dariku kini menciut.


Aku maju perlahan dengan dia yang juga mulai mundur kembali ke arah pintu, "Ada hal yang harus Mis ingat baik-baik, atau sebaiknya gue gak manggil lu Mis, ya? Karena ... ngeliat kelakuan lu barusan gak mencerminkan seorang dosen banget!" cercaku menggelengkan kepala dengan tetap fokus agar tidak lengah dan menjadi kesempatan bagi Vilo nantinya.


"Pertama! Jangan pernah mengurusi hidup dan keluarga saya, itu bukan urusan Anda! Mau bagaimana pun kami itu tidak sama sekali urusan dirimu, jangan pernah urusin tentang kami.


Kedua! Pak Malik sekarang sudah jadi suami saya dan sebaiknya Anda menjauh dari dirinya, jangan mendekat apalagi berpikiran ingin mendapatkan dia dengan cara yang murahan.

__ADS_1


Ketiga! Meskipun Anda liat saya adalah wanita pendiam dan terlihat lemah, jangan pernah otak Anda itu berpikiran demikian. Karena sampai saya tau bahwa Anda masih saja mengikuti saya atau mata-mata Anda itu. Saya gak akan segan-segan bom rumah milik Anda!"


Akhirnya, kami sampai di pintu keluar-masuk ruangan Pak Malik, "Buka!" titahku dengan menggunakan dagu menunjuk ke arah pintu.


Dengan gemetaran dan pisau kembali di simpan, Mis Vilo membuka pintu yang dikuncinya tadi. Pintu terbuka dan dirinya keluar dari ruangan Pak Malik begitu saja.


'S*alan! Kenapa gadis jelek itu bisa ada barang terlarang! Argg ... batal jadinya niatku untuk mengancam dirinya!' batin Vilo berjalan dengan setengah berlari ke ruangannya. Wajahnya masih terlihat pucat akibat ulah Abibah tadi.


Aku menyandarkan tubuh di ambang pintu sambil menahan tawa melihat Mis Vilo yang kocar-kacir kabur dari ruangan ini.


'Dia kira dia siapa nyuruh orang pisah? Modelan kek badut banyak tingkah!' batinku mencibir wanita itu dengan menyunggingkan senyuman.


Kulihat pistol yang memang seperti asli tersebut di tanganku, "Ada juga manfaat kau mainan!" ujarku tertawa.


"Ada apa?" tanya suara bariton yang tiba-tiba saja datang membuat kaget. Ia melihat lurus tempat di mana Mis Vilo masih berjalan.


"Kenapa dia?" tanya Pak Malik kembali. Kuangkat pistol mainan yang ada di tanganku ini dan mengarahkan ke kening Pak Malik.


"Dor!" seruku seolah bunyi tembakan dan berjalan kembali ke dalam sambil tertawa.


Malik hanya menatap bingung dengan apa yang baru saja terjadi, ia memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan dan menutup pintunya.


"Ada apa? Kenapa pistol sitaan itu kau ambil?" tanya Pak Malik kembali yang ternyata masih kepo dengan apa yang baru saja terjadi di ruangannya ini.


"Biasalah Pak, namanya juga cewek!" jawabku singkat dan kembali menyusun buku-buku ke kotak tadi.


"Kalian berkelahi?"

__ADS_1


Kutatap wajah bingung Pak Malik, kubalas dengan senyuman dan menaikkan bahu, "Udah, mending Bapak bantuin saya deh!" potongku yang masih malas menceritakan apa yang baru saja terjadi.


"Hmm ... baiklah," pasrah Pak Malik dan mulai membantu mengambil barangnya yang ada di ruangan.


__ADS_2