Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Hotel


__ADS_3

Kami sudah kembali ke rumah setelah singgah sebentar ke dokter untuk bertanya soal kandunganku.


Katanya, bisa melakukan resepsi atau acara asal jangan terlalu kecapean saja. Ketika Mama tahu hal itu melalui telepon.


Dia sangat gembira dan berkata bahwa aku tak perlu harus ngapain-ngapain karena dia sendiri yang akan mengatur acaranya.


Mas Malik sudah pergi bekerja, aku ditinggal sendiri sekarang di rumah yang kami beli. Lebih tepatnya Mas Malik beli.


"Di sini ada tukang sayur keliling, gak, sih?" tanyaku sambil membuka pintu melihat ke jalan.


Aku baru tahu bahwa stok makanan sudah kosong, jika menunggu Mas Malik pulang kerja nanti bisa-bisa pasar sudah tutup atau sayuran tak lagi segar.


Kuambil kantong belanja, handphone dan juga dompet. Tak lupa mengunci pintu, berjalan ke luar kawasan rumah untuk mencari angkot.


Sudah kucari di internet, di mana pasar yang dekat dari sini dan apa nama pasarnya. Tinggal menunggu angkot yang jurusan ke sana.


Tanganku majukan untuk memberhentikan angkot yang searah ke sana, masuk ke dalam yang beruntung tak hanya aku sendiri orangnya.


***


"Malik, kamu ketemu klien di hotel ×××, ya," titah Papa Malik kepada anaknya itu.


"Baik, Pa. Jam berapa Malik ke sana?"


"Sekitar pukul 11 nanti." Malik mengangguk dan pintu ruangannya kembali di tutup oleh sang Papa.


Ia langsung menyiapkan dokumen yang sekiranya perlu untuk dibahas di hotel nanti dengan klien.


Memang pertemuan dengan klien bisa dilakukan di mana saja, tergantung apakah rekan kerja ini bisa di tempat tersebut atau tidak.


Malik melihat arloji di tangannya dan keluar dari ruangan berjalan ke area parkir dengan berkas di tangan.

__ADS_1


Menjalankan roda empat menuju hotel yang telah ditentukan, beruntung keadaan jalan tak terlalu macet.


Hanya perlu waktu 20 menit, ia sudah sampai di hotel yang dituju, "Kok di dalam kamar, ya? Biasanya juga di restoran hotel," gumam Malik menautkan alis berjalan di koridor hotel.


Ceklek


Pintu kamar hotel ia buka dan lihat siapa yang ada di dalam, "Permisi," kata Malik tapi tak ada sahutan dari dalam.


Ia masuk dengan hati-hati dan perasaan tak tenang, "Masuk saja Pak," suruh pelayan hotel dari belakang yang membuat Malik terlonjat kaget.


"Astagfirullah, kau buat saya kaget saja!" kata Malik mengusap dadanya menatap pria tersebut.


Ia tersenyum dan masuk bersama Malik, meletakkan minuman dengan 3 cangkir di atas meja tersebut.


"Bapak cepat sekali datangnya, silahkan minum Pak," titah pelayan hotel dengan ramah. Malik sibuk meletakkan berkas di atas meja dengan berdehem sebagai balasan.


Di depannya terpampang kaca besar yang membuat mereka mampu melihat keadaan luar dan bangunan dari tempat duduk.


Diedarkan pandangan menatap sekitar dengan perasaan yang masih tak enak, Malik mengirim pesan kepada Papanya.


Rasa haus menyerang tenggorokan Malik, ia menatap gelas yang ada di depannya. Digantinya gelas yang memang ada di depannya dengan gelas lain.


Minuman tersebut habis diteguk Malik, ia mengusap pinggir bibirnya bekas air tersebut. Tanpa ia sadari, ada seseorang yang tengah memperhatikan dirinya dari luar kamar.


Beberapa kali Malik menguap dan menutup matanya, memijat pangkal hidung agar terlupakan rasa kantuk di matanya.


"Kenapa aku malah ngantuk? Perasaan tadi gak seperti ini," keluh Malik dan menyandarkan punggung ke sofa.


Tak lama, Malik tertidur dan lupa dengan apa yang tengah terjadi saat ini bahkan ia lupa bahwa harus bertemu dengan klien.


Wanita yang dari tadi memperhatikan Malik dari luar kamar hotel tersenyum bahagia, ia langsung masuk dan menutup hotel tersebut.

__ADS_1


"Wah ... apa kabar, Sayang? Kau pasti sangat rindu denganku, bukan? Kau tau ... aku begitu merindukanmu," ucap Celsea yang duduk di samping Malik dengan bergelenjut manja.


"Eh, tunggu dulu! Kita foto untuk membuat iri istri tidak tau dirimu itu, biar setelah ini dia minta cerai sama kamu dan akhirnya kamu kembali dengan aku!"


Celsea mengambil handphone di dalam tas bermerek miliknya dan mencari aplikasi kamera, berbagai gaya ia ambil dengan Malik yang tetap memejamkan mata.


"Oke, udah Sayang. Setelah ini, kita akan lakuin apa? Hmm ... lakuin hal yang dari dulu aku inginkan denganmu, dong!" seru Celsea yang seolah tengah gila karena sudah bisa mendapatkan Malik.


"Kau pasti bertanya-tanya Sayang, apa sebabnya aku pergi darimu bukan? Aku pergi begitu saja dengan laki-laki brengsek itu, aku dipaksa olehnya. Jika aku tak menuruti agar menikah dengannya, maka video kami akan disebar luaskan oleh pria tersebut."


Celsea dan Vilo sebenarnya dua wanita yang tak beda jauh, mereka sama-sama anak korban broken home.


Mereka juga dua wanita yang begitu melekat dengan dunia malam, hingga akhirnya di waktu SMA guru menyuruh Malik untuk mengubah Celsea yang waktu itu begitu sering cabut bahkan lebih parah dari Vilo.


Karena Malik merupakan ketua osis dan aktif mengikuti kegiatan lainnya, hingga mau tak mau ia harus menuruti kata-kata guru.


Hampir seminggu sekali ia akan datang ke rumah Celsea untuk mengajari wanita itu, di rumah besar tersebut hanya ada Celsea dan pembantu serta supirnya saja.


Hingga akhirnya, Celsea mengungkapkan perasaannya lebih dulu dan berjanji akan giat belajar agar tak malu-malui Malik yang dikenal sebagai osis.


"Andai malam itu kau datang, Sayang. Kau datang meskipun hujan menghalangi, aku butuh dirimu saat orang tua monster itu memaksaku menikah dengan anak rekan kerjanya.


Tapi, kau tak datang dan membuat aku melampiaskan semuanya di tempat yang paling kau benci tersebut, tempat yang kau bilang sangat menyebalkan dan mengganggu.


Dan ... laki-laki brengsek itu mencuri kesempatan saat aku tengah dalam tak sadarkan diri, dia membawa tubuhku ke kamar yang ia pesan dan mengambil sesuatu yang seharusnya untukmu.


Maafkan aku, Sayang. Dan sekarang, aku sudah cerai dengan laki-laki brengsek tersebut, aku sudah menggugat dia atas kasur KDRT. Aku tak pernah bahagia dengan orang lain kecuali denganmu.


Hingga ketika aku kembali ke sini, kenyataan yang tak kuinginkan harus aku terima. Apakah aku harus membayar karma karena meninggalkanmu? Apakah semesta tidak tau bahwa aku pergi juga karena alasan yang tak bisa aku jelaskan, bukan karena inginku. Ini sangat tidak adil, Sayang ... hiks ... hiks." Celsea menangis setelah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Malik yang masih tidur.


Dirinya membenamkan wajah di dada Malik beberapa saat hingga akhirnya ia menatap wajah tenang sang empu.

__ADS_1


Jari lentik dengan kuku panjang tersebut membelai wajah Malik, dirinya tersenyum melakukan hal tersebut.


"Sayang ... kau harus menjadi milikku, kini dan nanti," bisik Celsea tersenyum menyeringai.


__ADS_2