
Tidak ada lagi pemaksaan kepada putranya, ayah Razen sama sekali tidak memaksa kehendaknya.
Kemudian, Tuan Garen bersama istrinya segera keluar dari kamar Razen untuk menemui kedua orang tuanya Venza.
Namun sebelumnya ibu dari Razen meminta kepada asisten rumah untuk memanggil Bi Darmi mengajak calon istrinya ke ruang tamu.
"Maaf, sudah menunggu lama." Ucap Tuan Garen saat hendak duduk.
"Tidak apa-apa, Tuan." Jawab ayahnya Venza.
"Kalau boleh tahu, nama anda siapa? perkenalkan, saya Garen dan ini istri saya Yolanda."
Tanya Tuan Garen yang sempat belum memperkenalkan diri.
"Nama saya Hantoro, Tuan. Kalau istri saya namanya Melani." Jawab ayahnya Venza memperkenalkan diri dan juga nama istrinya.
"Saya ibu tirinya Venza, Tuan." Ucap Ibu tirinya Venza yang juga mengakuinya.
"Oh, ibu tiri. Terus, ibunya Ven-Venz apakah masih ada?"
__ADS_1
Tuan Garen yang penasaran, akhirnya tanya lagi.
"Sudah meninggal lama, Tuan." Jawab ayahnya Venza dengan jujur.
"Oh, maaf jika pertanyaan dari saya tidak mengenakkan." Ucap Tuan Daren.
"Tidak apa-apa Tuan, juga penting untuk memberitahunya." Kata ayahnya Venza.
"Oh ya, silakan diminum Pak, Bu." Ucap Tuan Daren mempersilakan tamunya.
Tidak lama kemudian, rupanya Bi Darmi mengajak Venza untuk menemui pemilik rumah.
"Permisi, Tuan. Maaf, jika kami sudah membuat Tuan dan Nyonya menunggu." Ucap Bi Darmi yang tengah berdiri didekat Venza.
"Bibi boleh kembali ke belakang, dan untuk Nak Venza silakan duduk." Perintah ibunya Razen.
"Baik Tuan, permisi." Jawab Bi Darmi dan bergegas pergi ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya.
Venza yang dipersilakan duduk, pun nurut dan duduk di dekat ayahnya. Perasaan gugup pun tengah membuatnya tidak bisa berkutik sedikitpun.
__ADS_1
"Nak Venza, lihat ke kami, jangan malu." Panggil ibunya Razen dan meminta calon menantunya untuk menatapnya.
Dengan perasaan malu dan juga takut, sebisa mungkin untuk tidak grogi saat berhadapan calon mertua.
"Nah, gitu kan cantik. Benar kata Bi Darmi, kamu sangat cantik. Nama lengkap mu siapa Nak?"
Dengan ramah, ibunya Razen bertanya dengan senyuman yang ramah.
"Nama lengkap saya Venza Ratana, Nyonya." Jawab Venza dengan gugup, dan menggigit bibir bawahnya.
"Nama yang sangat bagus, dan juga cantik seperti yang mempunyai nama." Puji calon ibu mertua.
Venza yang mendapat pujian, malu malu. Karena tidak ingin lama-lama, Tuan Garen dan istrinya membahas soal pernikahan.
Begitu semangatnya si ibu tirinya yang sudah tidak sabar ingin cepat-cepat mendapatkan kompensasi seperti yang diharapkannya itu, yakni uang dengan jumlah nominal yang tinggi.
Venza yang merasa harga dirinya begitu rendah, betapa malunya di hadapan calon mertua bak barang yang dijual belikan.
Venza terus menundukkan pandangan, malu itu sudah pasti. Ingin menolak, tapi hati kecilnya tak kuasa karena sang ayah yang kelilit hutang d bank begitu besar. Tentunya, Venza tidak mempunyai cara lain selain menyetujui keputusan ayahnya.
__ADS_1
"Setelah menikah, Nak Venza diizinkan kuliah hingga selesai. Juga, biaya kuliah akan ditanggung oleh pihak keluarga laki-laki. Jadi, tidak ada yang perlu di khawatirkan." Ucap calon ibu mertuanya.
Venza yang mendengarnya, pun hanya tersenyum tipis di hadapan pemilik rumah yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya.