
Venza segera membantu suaminya untuk berpindah dari tempat tidur ke kursi roda.
"Katanya kamu mau bersiap-siap, kenapa tidak kamu lakukan?"
"Ya, nanti setelah sarapan pagi." Jawab Venza sambil membenarkan posisi duduk suaminya.
"Kamu tidak keberatan kan, kalau aku ikut bersamamu?" tanya Razen karena takut merepotkan istrinya dalam kondisi yang tidak bisa berjalan layaknya orang normal lainnya, pikir Razen.
Bukannya langsung menjawab, Venza tersenyum pada suaminya.
"Tentu saja kamu ikut, nanti apa kata orang kalau punya suami tapi gak ikut. Apapun keadaan kamu, tetap suamiku. Ya udah yuk, aku bantu kamu mandi dulu, setelah itu aku." Jawab Venza.
Razen mengangguk.
Seperti biasa dan dengan telaten, Venza membantu suaminya untuk membersihkan diri. Ketika sudah, giliran Venza untuk mandi. Selesai mandi, mengenakan baju, dan ritual lainnya, Venza menghampiri suaminya yang tengah duduk di kursi roda.
"Sudah waktunya untuk sarapan pagi, nanti sekitar jam sebelas siang kita bersiap-siap untuk berangkat." Ucap Venza didekat suaminya.
"Ya, aku nurut saja sama kamu." Jawab Razen dan meletakkan ponselnya.
Karena tidak ingin membuat yang lainnya menunggu, Venza dan Razen segera keluar dari kamar.
"Widih, ada yang lebih segeran nih pagi pagi begini, cie ...." Ledek Gilang pada Razen saat berpapasan.
"Makanya buruan kamu menikah, jangan kelamaan menjomblo. Jadi, kamu gak sendirian terus." Jawab Razen yang sebenarnya terasa berat untuk berbalik ngeledek, namun agar dirinya tidak terlihat kaku, meski suaranya sedikit tidak enak untuk didengar.
__ADS_1
"Ya juga ya, ok lah kalau gitu." Kata Gilang sambil berjalan beriringan dengan jalannya kursi roda kakaknya yang tengah di dorong oleh Venza.
Gilang yang sempat menatap Venza, segera mengalihkan pandangannya, takut jika apa yang dilakukan dapat dilihat oleh kakaknya.
Tetap saja, Razen sebenarnya mengetahuinya, namun dirinya berpura-pura tidak tahu.
Sampainya di ruang makan, Gilang tanpa sadar menarik kursi untuk Venza, hal tersebut tengah dilihat oleh Razen.
Saat itu juga, Venza menahan kursinya karena tidak ingin suaminya cemburu dan merasa sakit hati karena dirinya tidak bisa melakukannya seperti adik laki-lakinya.
"Tidak perlu, karena aku masih bisa melakukannya sendiri. Kamu duduk saja." Ucap Venza menolak, sedangkan kedua orang tuanya dan Nandin sebagai adiknya hanya bisa menyaksikan kakak beradik seperti tengah beradu perasaan.
Razen hanya diam, ia sadar akan kondisinya yang hanya bisa merepotkan orang lain, dan tidak bisa memberi perhatian pada istrinya sendiri.
Venza segera duduk di sebelah suaminya, dan Gilang sendiri memilih duduk di sebelah adik perempuannya.
"Ya Pa," jawab Gilang, Nandin, Razen, dan Venza.
Setelah itu, mereka semua menikmati sarapan pagi bersama. Razen yang tengah mendapat perhatian penuh dari istrinya, ada Gilang yang selalu memperhatikannya. Namun, tiba-tiba dirinya selalu mendapat peringatan dari Nandin agar tidak terus menerus memperhatikan kakak iparnya.
"Aw! Nandin, kamu ini ya, main injek kaki orang, sakit, tau, aih. Bocah ini, makan aja kakinya bisa kemana-mana." Pekik Gilang saat kakinya telah diinjak oleh adik perempuannya, tentu saja rasanya begitu sakit.
"Nandin, jangan usil sama kakak kamu." Ucap ibunya pada putrinya.
Nandin bukannya langsung menjawab, justru tersenyum lebar.
__ADS_1
"Habisnya Kak Gilang selalu ingkar janji, gagal mulu gak pernah mengajak Nandin keluar jalan-jalan, kan kesel, Ma. Selalu aja di ngasih harapan palsu terus."
"Itu mah derita mu, Nandin." Timpal Razen ikut nimbrung sambil menikmati sarapan paginya.
"Hem. Punya kakak laki-laki dua, tapi seneng banget ngasih harapan palsu, dih." Kata Nandin sambil memasang muka yang cemberut.
"Ya ya ya ya, besok malam minggu aku ajak kamu jalan-jalan, puas kamu." Ucap Gilang dan menoleh pada adik perempuannya.
Nandin pun tersenyum mengembang saat mendengar jawaban dari kakaknya.
"Awas loh ya, kalau sampai bohong." Kata Nandin seolah memberi ancaman pada adiknya.
"Ya ya ya, bawel. Habisin dulu tuh makananmu." Ucap Gilang sambil mengunyah.
"Kalian ini ya, selalu aja kalau lagi makan bikin berisik. Sudah sudah, habiskan dulu makanan kalian, hari ini Kakak kalian akan pergi ke kampung halamannya kakak ipar kalian. Jadi, cepetan habisin makanan kalian dan bantu untuk bersiap-siap." Timpal ibunya mengingatkan Gilang dan Nandin.
"Wah, bulan madunya di kampung nih. Cocok lah, kan di kampung biasanya aden, bikin betah keknya." Ucap Nandin sambil mengedipkan matanya pada Razen.
Razen yang mendapat ledekan dari adik perempuannya, ia langsung melemparkan dengan buah anggur, justru tertawa karena berhasil membuat kakaknya gregetan, Nandin kembali berulah dengan menjulurkan lidahnya.
"Aw! sakit, tau Kak." Pekik Nandin saat telinganya di jewer oleh Gilang.
"Habiskan dulu makanan mu." Ucap Gilang.
"Ya sih iya, Kak Gilang yang galak sekarang mah." Jawab Nandin dengan ekspresi dibuat sedih.
__ADS_1
Bukannya merasa kasihan melihat Nandin seperti bersedih, justru semuanya tertawa melihatnya, hingga tidak terasa sudah selesai sarapan paginya.