Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Pengakuan


__ADS_3

Saat berada dalam kamar, Venza membereskan bawaannya yang dibawa dari kota, yakni baju-baju suami dan juga baju-baju miliknya.


"Aku tinggal dulu ya, aku mau membuatkan kamu minuman jahe, biar badan kamu sedikit hangat. Soalnya di kampung aku lumayan dingin, takutnya kesehatan kamu menurun. Juga, kamu tadi habis dalam perjalanan jauh." Ucap Venza.


"Makasih. Maaf, sudah merepotkan kamu. Aku malu sebenarnya, tau begini aku gak ikut kamu." Jawab Razen merasa menjadi beban istrinya.


Venza tersenyum menatap suaminya.


"Tidak apa-apa, kamu suami aku, dan aku tidak merasa direpotkan. Ya udan ya, aku ke dapur dulu." Ucap Venza.


Razen menganggukkan kepalanya dan membalas senyum istrinya.


Venza yang tidak ingin kelamaan, ia segera membuatkan minuman jahe untuk suaminya. Sedangkan Razen tengah duduk di kursi roda sambil melihat di luar lewat jendela kaca kamar istrinya.


"Ternyata benar yang dibicarakan Venza, dia selalu mendapat omongan dari saudara tirinya, kasihan sekali dia. Ditambah lagi dengan kondisiku yang seperti ini, pasti akan lebih pedas lagi ucapannya. Aku harus segera sembuh, agar tidak ada yang meremehkan istriku, penghinaan untuknya sama halnya penghinaan kepadaku." Gumam Razen sambil mengepal kuat pada tangannya, dirinya merasa geram.

__ADS_1


Venza pun datang dengan membawa dua cangkir minuman jahe.


"Maaf, jika sudah membuatmu lama menunggu. Ini, minuman jahenya untuk menghangatkan badan." Ucap Venza sambil menyodorkan secangkir minuman jahe kepada suaminya.


Razen langsung mendongak menatap istrinya.


"Terima kasih ya, kamu sudah perhatian sama aku." Jawab Razen sambil menerima secangkir minuman jahe.


Venza tersenyum dan menarik kursi, lalu ikutan duduk di sebelah suaminya yang tengah duduk di kursi roda.


"Kamu tidak perlu berterimakasih, sudah menjadi kewajiban ku untuk merawat dan melayanimu. Maksudnya aku melayani seperti membantu mu mandi, terus membuat masakan untuk kamu, juga menyuapi kamu." Ucap Venza yang kini berubah menjadi gugup dan memilih untuk meletakkan cangkirnya.


"Kamu gugup?" tanya Razen saat memegangi kedua tangan istrinya yang berubah menjadi keringat dingin.


"Enggak, aku gak gugup, serius." Jawab Venza yang tetap saja terlihat gugup oleh Razen.

__ADS_1


Bukannya mengatakan sesuatu, justru Razen tersenyum lebar pada istrinya. Kemudian, dirinya dengan sengaja mendekatkan pada wajah istrinya.


Venza yang takut dan menjadi lebih gugup, memilih untuk memejamkan kedua matanya. Berharap, semuanya hanyalah mimpi yang datang ke alam sadarnya.


Razen yang melihat istrinya telah memejamkan kedua matanya, Razen langsung menyambar dan menc_ium bibir milik istrinya.


Sontak saja Venza langsung membuka kedua matanya dan melotot saat suaminya menc_ium bibirnya dengan meluma_tnya. Menyadari jika istrinya membuka kedua matanya, pun langsung dilepaskan.


"Udah gak gugup, 'kan?" tanya Razen masih memegangi kedua tangan milik istrinya.


Venza masih bengong, antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh suaminya padanya.


"Kita sudah menjadi suami istri, tidak perlu ada yang ditakutkan. Entah kenapa, aku merasa begitu nyaman bersamamu. Mungkin aku mulai sadar, bahwa kamu sudah membuatku seperti ini, mengakui perasaanku ini. Mungkin saja ini tidak masuk akal, tapi ya itu yang aku rasakan, aku merasa nyaman bersamamu." Ucap Razen yang akhirnya mengakuinya.


Venza menatap suaminya seperti tidak percaya.

__ADS_1


"Ah sudahlah, gak perlu kamu percaya dengan omonganku. Juga aku sadar diri, aku bukan lelaki normal." Sambungnya lagi.


Venza masih menatap wajah suaminya.


__ADS_2