Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Rasa ingin tahu


__ADS_3

Saat sudah berada di hadapan suaminya dan adik iparnya, Venza ikutan duduk di dekat suaminya.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? aku mendengar seperti tengah membahas tentang ku, benarkah?" tanya Venza pada dua laki-laki kakak-beradik.


Gilang masih diam, begitu juga dengan Razen.


"Kenapa kalian diam? jawab pertanyaan dariku."


Kali ini Venza menatap satu persatu diantara kedua secara bergantian.


"Ya, kami sedang membicarakan kamu." Jawab Razen yang akhirnya mengatakannya dengan jujur jika dirinya tengah membicarakan istrinya.


"Memangnya apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Venza yang ingin mendengar langsung jawaban dari suaminya sendiri.


Sedangkan Gilang masih memilih untuk diam, lantaran bingung harus mengatakannya apa.


"Kita sedang membicarakan kamu soal latihan berjalan, ya itu yang sedang kita bicarakan." Jawab Razen yang akhirnya beralasan.


"Serius? gak sedang berbohong, 'kan?" tanya Venza kedengaran mendesak dengan pertanyaannya.

__ADS_1


"Ya Kak, benar. Tadi kita itu sedang membicarakan tentang Kakak ipar soal memberi saran untuk menggunakan alat penyangga, serius." Timpal Gilang yang juga ikutan membuat alasan.


"Oh gitu, kirain ada hal lainnya." Ucap Venza dan justru langsung menoleh ke arah suaminya yang seolah tidak percaya dengan alasan yang diberikan.


"Kalau gitu aku pamit duluan ya, aku mau ke kamar, mau istirahat. Untuk Kakak ipar dan Kak Razen, selamat malam." Ucap Gilang yang memilih untuk pamit istirahat dari pada harus mendapat pertanyaan yang lebih berat lagi, pikirnya.


Kini tinggallah Razen dan Venza, keduanya sama-sama diam.


"Kenapa kamu mesti bohong? kenapa tidak mau mengakui kalau sedang membicarakan aku. Ah sudah lah, gak perlu kamu membahasnya. Sekarang sudah malam dan waktunya untuk istirahat, apakah kamu mau ke kamar?"


Razen mengangguk.


"Tentu saja aku tidak merasa keberatan, karena kamu suamiku." Ucap Venza dan langsung membantu suaminya berjalan dengan menggunakan alat penyangga.


Sampainya di dalam kamar, Venza juga membantu suaminya untuk ke kamar mandi melakukan ritualnya sebelum tidur. Setelah itu, Venza juga membantu suaminya naik ke atas tempat tidur untuk istirahat.


"Aku belum ingin tidur, tolong ambilkan laptopku." Perintah Razen meminta tolong istrinya.


Venza mengangguk dan mengambilkan laptopnya.

__ADS_1


"Ini laptopnya, aku mau tidur duluan. Jika kamu membutuhkan sesuatu, bangunkan aku." Ucap Venza sambil meraih bantal yang ada di dekat suaminya.


Dengan sigap, Razen langsung menahan bantalnya.


"Untuk apa kamu mengambil bantal? mau tidur di sofa? aku tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk tidur di sofa. Kamu istriku, dan aku bertanggung jawab penuh tentangmu meski aku sendiri tidak bisa berjalan. Tidurlah bersamaku, jangan membantah."


Venza yang tidak mau suaminya marah besar terhadap dirinya, mau tidak mau akhirnya menurutinya.


"Baiklah, aku akan tidur bersamamu." Jawab Venza dan akhirnya naik ke atas tempat tidur di sebelah suaminya.


Izinnya pamit untuk istirahat, justru Venza bersandar dengan kedua kakinya yang diluruskan. Diam, hanya itu yang dilakukan oleh Venza.


Razen yang mendapati istirahat tak kunjung tidur, pun langsung menoleh ke sampingnya.


"Kenapa kamu belum tidur? apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?"


Venza menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya tiba-tiba tidak mengantuk." Jawab Venza tanpa menoleh sedikitpun.

__ADS_1


Pandangan Venza lurus ke depan, namun pikirannya tetap apa yang ia dengar saat suaminya membicarakan dirinya di ruang keluarga bersama adik iparnya.


__ADS_2