Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Mengakui kebenaran atas statusnya


__ADS_3

Ibunya Ardo seperti mendapat gurauan dari Venza.


"Ma, diam. Jangan tertawa, tidak sopan di depan banyak orang, malu kita." Ucap Ardo merasa malu ketika ibunya justru mentertawakan ucapan dari Razen yang mengaku suaminya Venza.


"Kalau Ibu tidak percaya, boleh datang ke rumah asisten rumah saya, Bi Darmi. Silakan anda cek sendiri kebenarannya." Jawab Razen yang merasa kesal ketika mendengar hinaan dari ibunya Ardo.


Sedangkan Ardo sendiri yang seperti tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Razen, langsung menarik tangan Venza.


"Ardo, lepasin." Ucap Venza saat tangannya di tarik oleh Ardo dan sedikit menjauh dari hadapan suaminya.


Razen yang melihat istrinya ditarik paksa oleh Ardo, tidak mampu berbuat apa-apa untuk istrinya. Jangankan untuk berjalan pelan, bangkit dari posisi duduknya saja kesulitan, dan dirinya hanya bisa memperhatikan istrinya yang tengah berbicara dengan Ardo lewat kejauhan.


"Ven, katakan padaku, apa benar yang diucapkan laki-laki tadi, kalau kamu adalah istrinya, jawab."


Venza yang memang tidak mempunyai rasa apapun terhadap Ardo selain sebatas teman akrab, pun menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Benar, dia suamiku. Aku sudah menikah sejak kepergian ku ke kota, saat kamu menghampiri aku waktu aku mau naik mobil. Maaf, jika aku sudah menikah tidak bilang-bilang sama kamu."


"Tetapi kenapa kamu menikahnya dengan laki-laki seperti dia? kamu hanya akan menjadi babu oleh suami kamu, Ven. Juga, kamu hanya dimanfaatkan saja oleh orang kaya yang tidak mau mengurus anaknya."


"Cukup! Ardo, tujuanku menikah bukan itu. Kalaupun aku mau menolak, aku sudah kabur. Mungkin memang dia sudah ditakdirkan untuk menjadi jodohku, lelaki yang tak sempurna, tetapi mampu memberiku kenyamanan."


"Apa karena dia itu orang kaya?" tanya Ardo yang merasa cemburu karena cintanya tak pernah terbalaskan.


"Cukup! Ardo, jangan beranggapan yang kamu pikirkan itu. Aku menerimanya bukan karena hartanya, tapi bagaimana aku bisa menjadi istri yang baik dan pantas untuknya." Jawab Venza yang tidak terima ketika dirinya dianggap wanita pilih-pilih suami, pikirnya.


"Bukan itu tujuanku menikah, Ardo. Bukan karena harta ataupun tahta. Sekali lagi aku minta maaf sama kalau, kalau aku tidak bisa menerimamu, aku hanya bisa menjadikanku teman, sahabat, saudara, tidak lebih." Jawab Venza yang tetap dengan pendiriannya.


Razen yang tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya, susah payah menjalankan kursi rodanya.


"Venza, ayo kita pulang." Ajak Razen yang sudah hilang selera makannya.

__ADS_1


"Lepaskan tanganmu, Ardo. Aku harus pulang, maaf." Ucap Venza berusaha melepaskan tangannya Ardo.


Dengan hati yang terluka, Ardo terpaksa melepaskan tangannya. Sakit hati, kecewa, tengah dirasakannya.


Venza yang tidak masalahnya bertambah, memilih untuk meninggalkan warung makan. Dari kejauhan, Ardo memandangi Venza yang mendorong kursi roda hingga tak terlihat lagi bayangannya.


"Kita cari warung lain saja, bagaimana?" tanya Venza sambil mendorong kursi rodanya.


"Aku sudah kenyang, kita pulang saja." Jawab Razen sedikit kedengaran ketus.


Venza yang merasa tidak puas ketika dirinya belum menjelaskan semuanya pada sang suami, akhirnya berjongkok dihadapan suaminya.


"Di rumah tidak ada makanan, kan kita sudah pamit mau makan diluar, kelamaan kalau nunggu dimasakin. Sudahlah, kamu tidak perlu menanggapi masalah yang tadi. Aku sudah menjelaskannya pada Ardo, kalau aku sudah menolaknya, dan aku tetap bertahan dengan pernikahan kita, percayalah denganku." Ucap Venza menjelaskan, tak lupa tersenyum untuk menyenangkan hati suaminya.


"Aku percaya sepenuhnya sama kamu, terimakasih karena kamu sudah mau bertahan dengan pernikahan kita." Jawab Razen yang juga tersenyum menatap wajah ayu milik istrinya.

__ADS_1


__ADS_2