
"Sudah sudah, kalian berdua jangan berantem. Malu jika sampai suaminya Venza tahu. Sekarang Ersa minta maaf sama Venza, karena Papa sudah mendengarnya sendiri kalau kamu yang memulai."
"Aku gak mau, memang Venza sendiri yang udah kurang ajar denganku." Jawab Ersa dan bergegas pergi dari hadapan Venza maupun orang tuanya.
Venza yang merasa dongkol, ingin rasanya segera pergi dari rumahnya. Sedangkan ibu tirinya segera mengejar putrinya ke kamar.
"Sudahlah, tak perlu kamu tanggapi dengan serius. Ersa memang begitu, anggap saja suara radio." Ucap ayahnya sambil mengusap punggung putrinya.
"Pa, kenapa gak cerai saja sama Mama Melani. Papa bisa mencari pendamping yang lebih baik dari Mama Melani, dia sangat kejam, juga sama seperti Ersa."
"Tidak boleh bicara seperti itu sama Mama tiri kamu. Mau bagaimanapun, dia sudah menyelamatkan nyawa Papa. Mungkin memang seperti ini jalan hidup Papa, yang terpenting kamu sudah bersama dengan lelaki yang tepat." Jawab ayahnya.
"Tapi Venza sangat benci sama Mama Melan dan Ersa, mereka berdua itu seolah memanfaatkan kita, Pa. Sebenarnya Pape sadar gak sih, mereka itu sangat jahat. Venza benci sama mereka berdua, kebahagiaan Venza sudah direbut." Ucap Venza dan memeluk ayahnya, juga ia tengah menangis.
Razen yang mendengar ucapan dari istrinya, pun ikutan bersedih. Karena tidak ingin merepotkan ayah mertua, Arsen yang geram ketika melihat istrinya seolah tidak boleh bahagia, entah ada angin apa tiba-tiba Razen mencoba untuk bangkit dari posisi duduknya di kursi roda.
__ADS_1
"Tuan!" teriak Pak Erik.
Seketika, Razen yang hampir saja terjatuh dan juga hampir saja tersungkur, untungnya Pak Erik cepat tanggap dan menangkap tubuhnya.
Saat itu juga, Venza maupun ayahnya langsung menoleh. Venza segera menghampirinya.
"Aaaaaaaa!" teriak Razen meluapkan emosinya saat dirinya merasa tiada guna menjadi seorang suami.
Jangankan untuk menjadi pahlawan istrinya, untuk berdiri saja dirinya tak mampu.
"Kenapa kamu keluar? ayo aku bantu, kita masuk ke kamar. Pak Erik, tolong bantu saya."
"Maafkan Bapak ya, Nak. Ibu tirinya Venza dan saudara tirinya sering berantem. Biasalah, namanya juga beda ayah dan ibu, lebih banyak perselisihan ketimbang keakraban.." Ucap ayah Venza merasa tidak enak hati terhadap menantunya.
"Saya yang seharusnya meminta maaf, karena tidak bisa menjadi suami yang siap siaga." Jawab Razen merasa tiada guna.
__ADS_1
"Jangan bicara seperti itu, tidak baik. Sekarang lebih baik kamu istirahat saja, biar Venza yang akan menemani kamu." Ucap ayah mertua.
"Ya, Pa." Jawab keduanya serempak, dan Venza mengajak suaminya untuk kembali ke kamarnya.
Sedangkan Ersa dan ibunya justru tersenyum puas ketika melihat Venza dan ayahnya tengah membantu Razen untuk duduk di kursi roda.
"Lihatlah, mereka semua sangat cocok untuk menderita." Ucap ibunya Ersa.
"Ya, Ma. Apalagi kalau setelah Ersa nikah, dan Mama menceraikan Papa, dan surat tanah beserta rumah berada ditangan Mama, mereka akan kalang kabut nantinya." Jawab Ersa yang teringat akan rencana ibunya.
"Mama juga gak yakin kalau suaminya Venza sembuh dan masih mau menjadi suaminya Venza, palingan juga bakal diceraikan." Ucap ibunya penuh dengan percaya diri.
"Bener banget, Ma. Orang tajir mana yang mau bertahan punya istri kampungan dan miskin." Kata Ersa yang merasa yakin dengan apa yang ia bayangkan atas nasib saudara tirinya.
"Kalian sedang membicarakan siapa? lebih baik kamu itu fokus dengan pernikahan mu, karena tinggal beberapa hari lagi kamu akan menikah." Ucap ayahnya Venza.
__ADS_1
"Ya, Pa, ya." Jawab Ersa saat dipergoki ayah tirinya saat pintu kamar Ersa terbuka.
Sedangkan Venza tengah menenangkan pikiran suaminya agar tidak dikuasai emosinya.