
Waktu yang telah dilewati dalam seharian penuh di rumah Bi Darmi, tidak terasa sudah sore.
Bi Darmi yang baru saja masuk kedalam rumahnya, dikejutkan dengan sosok majikannya yang tengah berdiri layaknya orang normal.
"Tuan, Tuan Razen sudah bisa berdiri?"
Bi Darmi begitu terkejut ketika melihatnya.
Razen yang tengah dikagetkan, pun langsung menoleh ke sumber suara.
"Bi Darmi, ya Bi, saya sudah bisa berdiri. Juga, saya sudah bisa berjalan. Meski saya sudah bisa berjalan, saya akan memeriksanya ke rumah sakit terdekat di kampung sini." Jawab Razen sambil berjalan mendekati Bi Darmi.
"Bibi ikut bahagia, Tuan. Akhirnya Tuan Razen bisa berjalan lagi dengan normal. Benar-benar keajaiban, Tuan." Ucap Bi Marni yang masih seperti mimpi ketika mendapati majikannya yang sudah berjalan dengan normal.
"Makasih, Bi. Ini semua berkat istri saya, Bi, Venza. Gara-gara Venza mengajak saya main ke rumahnya Ibu Restum, saya bisa berjalan. Benar-benar seperti mendapatkan keajaiban, Bi." Jawab Razen berterus terang.
"Memangnya bagaimana ceritanya, sampai-sampai Tuan Razen bisa berjalan?"
Saat itu juga, Razen menceritakan awal mula pertemuannya bersama Ibu Restum dan sampai di rumahnya. Bi Darmi yang mendengar ceritanya, pun seperti tidak percaya. Namun, kenyataannya memang seperti itu kejadiannya dari awal hingga bisa berjalan dengan normal, meski masih harus hati-hati.
"Bibi ikut bahagia mendengarnya, Tuan. Semoga kaki Tuan benar-benar sembuh dan tidak lagi merasakan sakit. Oh ya, istri Tuan, mana? maksudnya Bibi, Nak Venza."
__ADS_1
"Ada apa, Bi?" tanya Venza yang baru saja keluar dari dapur.
"Akhirnya suami kamu bisa berjalan, Bibi ikut bahagia, Nak. Bibi doakan, semoga hubungan kamu dengan suami kamu langgeng, dan segera diberi momongan. Bibi udah gak sabar pingin punya cucu dari kamu, Nak."
"Bibi bisa saja, Venza kan jadi malu, Bi." Kata Venza sambil malu-malu saat Bi Darmi meledek keponakannya.
Saat itu juga, Razen langsung merangkul istrinya.
"Bi Darmi tenang saja, nanti akan kita buatkan cucu yang banyak untuk Bibi." Timpal Razen dan langsung mencium pipi sebelah kiri milik istrinya.
"Ya udah kalau begitu, Bibi mau mandi dulu. Nanti malam akan ada makan malam bersama di rumah orang tua kamu, tadi Bibi udah masak banyak. Juga, keluarga kita malam ini pada datang. Jadi, siapkan diri kalian untuk berkumpul bareng keluarga." Ucap Bi Darmi.
Bi Darmi mengangguk dan tersenyum.
"Ya, Nak. Nanti kita ke sana bareng, sekarang Bibi mau mandi dulu." Ucap Bi Darmi, Venza pun mengiyakan.
Kemudian, Venza masuk ke kamar dan diikuti suaminya.
"Bagaimana kalau nanti malam aku menggunakan kursi roda, bagaimana menurutmu?"
"Boleh, tapi ... untuk apa? bukankah kamu sudah bisa berjalan?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin bermain sandiwara di depan mereka saja. Ya bukannya ingin mengerjai, setidaknya aku tahu mereka bersikap padamu seperti apa. Kamu tidak mempermasalahkannya, 'kan?"
"Tentu saja tidak, aku hanya tidak ingin kamu yang dipermalukan." Ujar Venza yang merasa takut jika suaminya akan mendapat hinaan, pikirnya.
"Tidak masalah. Justru itu, mereka harus diberi pelajaran. Jadi, biar gak mudah menghujat atau menghina orang lain. Oh ya, dari tadi aku gak lihat pak Erik, kemana dia ya?"
"Ya ya, alu juga gak lihat dari tadi."
Suara ketukan pintu dari ruang tamu tengah mengagetkan Venza maupun Razen.
"Ada tamu, siapa ya? aku buka dulu pintunya. Kamu disini aja dulu."
"Aku gak izinin kamu membuka pintu, biar aku aja yang lihat. Nanti kalau orang jahat gimana, biar aku aja yang buka pintunya." Kata Razen dan bergegas untuk membuka pintunya.
Venza yang tidak bisa menolak, pun hanya bisa nurut. Kemudian, Razen membukakan pintunya.
"Pak Erik, kirain siapa. Dari tadi perasaan tidak melihat Pak Erik, kemana aja, Pak?" tanya Razen penasaran karena seharian tidak melihat bayangan dari orang kepercayaannya.
"Ini, Tuan. Saya diminta Nyonya untuk mencarikan bajunya Tuan Razen dan Nona Venza untuk menghadiri acara pernikahan adiknya Nona Venza." Jawabnya sambil menyodorkan bawaan yang baru saja didapatkan di butik yang terkenal di daerah yang cukup jauh jarak tempuhnya dari kediaman orang tuanya Venza.
Saat itu juga, Pak Erik baru menyadari kalau majikannya sudah berdiri tegak dihadapannya.
__ADS_1