
Tidak perlu menggunakan jasa mobil atau ojek, Razen dan Venza cukup berjalan kaki saja sudah sampai di kediaman orang tuanya.
"Nona, biar saya saja yang mendorong kursi rodanya. Dikhawatirkan penampilan Nona menjadi berantakan." Ucap pak Erik mengambil alih untuk mendorong kursi roda.
"Tapi, Pak." Jawab Venza merasa tidak enak hati.
"Pak Erik benar, nanti penampilan kamu berantakan. Nanti saja kalau sudah sampai, kamu boleh menggantikan Pak Erik. Untuk saat ini, biar Pak Erik saja yang mendorong kursi roda." Timpal Razen yang juga ikutan melarang istrinya.
Venza yang tidak diizinkan, pun mengiyakan dan nurut dengan suaminya.
"Baiklah, aku nurut saja denganmu. Untuk Pak Erik, maafin saya ya, Pak, kalau saya sudah merepotkan Bapak. Terima kasih." Ucap Venza.
"Sudah menjadi tugas saya, Nona. Mari, kita berangkat." Jawab Pak Erik, Venza pun mengiyakan karena tidak ada pilihan yang lain.
Tidak perlu memakan waktu lama, akhirnya sampai juga di kediaman orang tuanya Venza, begitu mewahnya acara pernikahan Ersa dengan lelaki yang katanya anak dari juragan tanah.
Venza yang tengah memperhatikan dekorasi mewah yang ada di halaman rumah orang tuanya, pun merasa sedih. Ingatannya pun tertuju saat dirinya dipaksa menikah, lebih menyakitkan lagi jika dirinya tengah ditukar dengan uang, sungguh sangat menyakitkan ketika cita-citanya lenyap begitu saja.
__ADS_1
Venza masih tengah melamun, begitu pahit perjalanan hidupnya hingga diujung hari pernikahannya.
Meski dirinya tengah mendapatkan cinta dari suami, tetap saja rasa kecewa kepada keluarga tak bisa untuk dilupakan begitu saja. Lebih lagi perhatian penuh kepada saudara tirinya, tentu saja ada rasa ingin merasakan hal yang sama dalam membagi kasih dan sayangnya. Namun, apalah diri Venza, seolah dirinya beban dan harus menjadi bahu dalam keluarga.
"Kamu kenapa, sayang? apa kamu tidak ingin masuk kedalam dan menyaksikan ucapan kalimat sakral oleh mempelai laki-laki?" tanya Razen yang tiba-tiba mengagetkan istrinya.
Anaya yang tengah dikagetkan, pun langsung tersadar jika dirinya melamun cukup lama.
"Maaf, aku terbawa suasana." Jawab Venza dengan lesu.
"Sudahlah, semua telah berlalu. Sekarang kamu harus fokus dengan masa depanmu bersamaku. Kamu tidak perlu menoleh ke belakang, cukup jadikan pelajaran. Ya udah yuk, kita masuk kedalam." Ucap Razen mencoba untuk meyakinkan istrinya agar tidak menyimpan rasa cemburu kepada saudara tirinya.
"Maaf ya, sudah membuatmu risih atas sikapku kepada siapapun." Jawab Venza, Razen sendiri tersenyum mendengarnya.
"Kalau suasana hatimu sudah agak mendingan, ayo kita masuk kedalam." Ucap Razen dan mengajaknya untuk masuk kedalam.
Sambil mendorong kursi roda, Venza celingukan.
__ADS_1
"Hei! Venza!" teriak salah seorang perempuan yang terlihat begitu mengenalinya, dan segera menghampiri dengan kedua temannya.
"Zera, Lela, Savi, kalian di undang?"
"Tentu saja, suaminya Ersa kan, saudara kita bertiga, tentu saja aku diundang."
"Saudara? memangnya juragan tanah itu saudara kamu?"
"Juragan tanah, siapa emangnya?"
"Ya, Ven, juragan tanah? siapa namanya?"
"Ya ih, aku gak ngerti yang kamu omongin, Ven."
Ketiga temannya, pun langsung melempar sebuah pertanyaan. Venza sendiri menjadi bingung.
"Erdiando, anaknya juragan tanah katanya." Jawab Venza.
__ADS_1
Sedangkan Razen yang hanya menjadi pendengar, pun sudah tidak sabar ingin segera masuk kedalam. Namun sayangnya, sang istri tengah sibuk mengobrol dengan ketiga temannya.