Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Merasa gugup


__ADS_3

Venza yang sudah selesai mandi, ia segera keluar. Namun, lagi-lagi dirinya dibuat bingung karena tidak tahu harus ngapain lagi.


"Mau ngapain lagi kamu berdiri di situ?"


Venza langsung menoleh ke sumber suara. Ada rasa takut, cemas, khawatir, gugup, itu sudah pasti.


"Sudah malam, tidurlah." Perintah Razen dengan tatapan yang membuat Venza ada rasa takut dan juga gugup.


Pelan-pelan ia berjalan menuju tempat tidur. Kemudian, Venza merai bantal dan selimut yang ada disebelah suaminya dengan kedua tangannya yang gemetaran.


"Mau kemana?" tanya Razen.


Sontak saja si Venza dibuatnya kaget, dan menggigit bibir bawahnya karena grogi.


"Em, itu aku." Jawab Venza dengan gugup, ditambah lagi mendapat tatapan dari suaminya.


"Kenapa lagi?" tanya Razen kembali.


"Aku mau tidur di sofa, soalnya aku takut mengganggumu. Juga, kamu menikahi aku karena terpaksa."


"Kata siapa?" tanyanya lagi semakin membuat Venza mati kutu.

__ADS_1


"Aku hanya menebaknya saja. Biasanya kan, emang begitu." Jawab Venza yang lagi-lagi terpaksa harus nyengir kuda di hadapan suaminya atas kekonyolan yang sudah ia lakukan.


"Begitu gimana?"


"Enggak jadi, aku tidur duluan." Jawab Venza yang semakin kehabisan kata-kata.


Tidak ada pilihan lain, akhirnya Venza melangkahkan kakinya menuju sofa dengan membawa bantal dan selimut.


'Sial banget ini malam, benar-benar aku sedang dikerjain.' Batin Venza sambil mengatur napasnya.


"Siapa yang suruh kamu tidur di sofa? kemarilah, dan tidur disebelah ku, dilarang protes."


Razen kini menatapnya dengan tajam, dan sama sekali tidak juga berkedip. Tentu saja membuat sosok Venza ada rasa takut.


Tidak ada pilihan lainnya, Venza akhirnya terpaksa berjalan mendekati tempat tidur.


Perasaan yang terasa campur aduk rasanya saat dirinya mau naik ke atas tempat tidur, susah payah untuk menelan ludahnya.


Venza yang sudah siap untuk istirahat, memilih untuk berbaring di sebelah suaminya dengan cara membelakangi. Sontak saja si Razen langsung menoleh.


"Tidak sopan seorang istri tidur membelakangi suaminya." Ucap Razen sambil menyibukkan diri dengan ponselnya.

__ADS_1


Venza yang menyadarinya, pun langsung membenarkan posisi tidurnya dengan berbaring, dan melirik ke arah suaminya.


Saat itu juga, kedua matanya saling menatap satu sama lain. Venza yang seperti tertangkap basah oleh suaminya, langsung menutup wajahnya dengan selimut untuk menghindari rasa malunya itu.


'Bodoh bodoh bodoh, kenapa juga aku melirik dia, aih! benar-benar sangat memalukan.' Batin Venza dengan perasaan gugup dan juga malu tentunya.


Seketika, Razen langsung menarik selimutnya.


"Tidak baik ketika tidur dengan cara seperti ini, lepaskan selimutnya." Ucap Razen sambil menarik selimut yang menutup wajah istrinya.


'Cerewet banget sih ini suamiku, alamak.' Batin Venza yang akhirnya membuka selimutnya.


Kemudian, Venza mendongak dan meraih bantal guling dan memeluknya untuk menghindari rasa malunya itu.


Razen yang merasa puas karena sudah mengerjai istrinya, langsung berbaring dan mengenakan selimutnya sampai di bagian dadanya. Setelah itu ia mencoba untuk menoleh pada istrinya yang terlihat memejamkan matanya, meski sebenarnya hanya pura-pura saja.


Razen yang merasa capek dan juga pegal, ia memejamkan kedua matanya hingga tidak sadarkan diri sudah terlelap dalam tidurnya.


Venza yang sebenarnya masih terjaga kesadarannya, menoleh pada sosok suaminya yang terlihat sudah tidur.


'Mimpi apa kemarin malam, sampai-sampai malam ini aku tidur dengan lelaki yang sama sekali tidak aku kenal.' Batin Venza yang akhirnya memilih untuk tidur.

__ADS_1


__ADS_2