Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Ada yang merasa disaingi


__ADS_3

Venza menghela napasnya, yakni mencoba untuk tidak ikutan emosi seperti suaminya.


"Terus, aku harus gimana?" tanya Venza pada suaminya.


"Terserah kamu, bukan urusanku. Sudah sana buruan mandi." Jawab Razen dengan ketus.


"Ya udah kalau gitu, aku mau mandi dulu. Kalau kamu memang bersedia ikut aku pulang ke kampung, gak masalah. Aku hanya tidak mau nantinya kamu mendapat cemoohan dari keluarga ku, itu saja sih. Kalau aku memang sudah terbiasa mendapat cemoohan dari keluarga maupun orang lain, jadi tidak membuatku kaget. Ya udah, aku mandi dulu." Ucap Venza dan bergegas ke kamar mandi.


Razen yang mendengar ucapan dari istrinya, pun merasa penasaran tentang hidupnya di kampung halamannya.


'Benarkah dia selalu mendapat cemoohan dari keluarganya dan orang lain? sepertinya memang benar, dia mempunyai beban yang begitu berat.' Batin Razen yang merasa bersalah ketika dirinya tengah emosi dihadapan istrinya.


Sedangkan di ruang makan, anggota keluarga sudah duduk dengan rapi sambil menunggu Razen dan Venza untuk makan malam bersama.


Tidak lama kemudian, rupanya Venza dan suaminya baru saja keluar dari kamarnya.


"Cie ... yang terlihat berbeda. Keknya udah mulai lepas dari kursi roda, nah gitu dong kakakku yang paling ganteng." Ledek Nandini saat melihat kakaknya yang baru keluar dari kamar bersama istrinya.

__ADS_1


Razen tidak menanggapinya, dan memilih fokus dengan langkah kakinya yang dibantu alat penyangga. Sedangkan Venza berada di dekatnya untuk berjaga-jaga.


"Nandin, diam. Nanti mereka menjadi risih kalau sering kamu ledekin gitu, gak baik ah." Ucap ibunya mengingatkan.


"Ya nih sih Nandin, dengerin tuh kata Mama." Timpal Gilang ikut berkomentar.


"Ada apa sih kalian, bisik bisik gitu, ngomongin Kakak ya?"


"Sok tahu, kita tuh lagi seneng bisa lihat Kak Razen ada perubahan. Biasanya kan, pakai kursi roda, nah tapi sekarang udah gak lagi. Jadi, udah ada perubahan kan Ma, Pa, Kak Gilang?" jawab Nandin.


"Tidak juga kok, Pa. Ini memang kesungguhan suami Venza yang mau berusaha untuk tidak ketergantungan dengan kursi roda. Jadi pelan-pelan untuk menghindari kursi rodanya, Pa." Jawab Venza berusaha untuk tidak terlihat gugup.


"Ya udah ya udah, kita makan malam dulu ya. Nanti kita ngobrol lagi, sekarang kita isi perut dulu. Tuh lihat, udah jam berapa tuh. Bentar lagi gelap, Mama sama Papa mau keluar soalnya. Jadi, makan malamnya dipercepat." Ucap ibunya yang mencoba untuk mengalihkan pembicaraannya.


Sedangkan yang lainnya hanya bisa nurut dengan ibunya.


Makan malam pun tengah dinikmati oleh anggota keluarga Pratama.

__ADS_1


Venza yang tengah melayani suaminya, rupanya tengah mencuri perhatian Gilang yang sedari tadi memperhatikannya.


Kecewa, itu yang tengah dirasakan oleh Gilang. Lelaki yang penuh harap untuk dipertemukan dengan pemilik gelang yang ia dapatkan di beberapa tahun lalu.


'Seharusnya aku pemilik hatinya, tapi kenapa Kak Razen yang selalu beruntung?' batin Gilang sambil melamun juga tengah mengunyah makanan.


Razen yang sempat melihat adiknya yang seperti memperhatikan istrinya sambil melamun, pun merasa risih. Tentu saja ada rasa takut jika istrinya akan direbut adiknya sendiri.


"Kak Gilang!" Panggil Nandin sambil menepuk lengannya, yakni sengaja untuk membuyarkan lamunannya.


Gilang yang tersadar dari lamunannya, semua tertuju padanya.


"Habisin dulu makananmu itu, Lang. Setelah itu, baru kamu melamun lagi." Ucap ayahnya.


"Ih Papa, apa apaan sih. Ini pasti gara-gara Nandin biang reseknya. Ngagetin aja kerjaannya, diam kenapa. Gak tahu apa kalau aku ini lagi ngelamun siapa, ganggu aja orang lagi melamun. Gagal kan, mimpi ku barusan, ih." Jawab Gilang merasa gregetan dengan adik perempuannya, juga tangannya terasa geram yang rasanya ingin menyentil keningnya.


Razen yang dapat mencerna ucapan dari adik laki-lakinya, pun merasa ada saingannya.

__ADS_1


__ADS_2