Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Sungguh malu


__ADS_3

Saat berada dalam kamar mandi, Venza sedikit gugup untuk membantu suaminya berdiri.


"Kamu gak perlu takut, pegangin aja pundak aku. Tenang aja, gak akan jatuh." Ucap Venza saat hendak membantu suaminya berdiri.


"Enggak gak gak, mendingan kamu panggil saja pak Erik. Bisa bisa aku jatuh karena mu, dan aku tidak mau mati sia-sia. Sudah sana cepetan panggil pak Erik sekarang juga." Tolak Razen sambil menepis tangan milik istrinya.


"Kalau aku panggil pak Erik, apa gunanya aku menjadi istrimu. Sudahlah, lebih baik kamu nurut saja denganku. Kalau sampai kamu jatuh dan sakitmu lebih parah, maka aku siap untuk dipenjarakan." Jawab Venza yang tidak mau dianggap sepele orang lain, meski ia sadar dengan status sosialnya.


"Kamu itu ya, benar-benar perempuan kerasa kepala."


"Aku tidak peduli dengan omongan kamu, tugasku hanya merawat kamu, tidak lebih. Sekarang ayo berpegang pundak ku, dan kamu bisa menekannya sekuat tenaga kamu." Ucap Venza dengan posisinya yang siap untuk menjadi alat bantu suaminya berdiri, lantaran tidak ada alat penyangga apapun di dalam kamar.


Razen yang masih sedikit kesal dengan sikap istrinya yang tiba-tiba berubah menjadi galak, terpaksa nurut meski sangatlah kesal.

__ADS_1


Dengan penuh hati-hati, Venza sedikit demi sedikit menyerong agar mudah memutarbalikkan badannya. Setelah itu meraih tangan suaminya dan diarahkan tepat pada tengkuk lehernya.


Dengan berat badan yang cukup lumayan beratnya, sebisa mungkin si Venza berusaha untuk kuat.


"Kata ibu kamu yang sakit bagian kaki yang kanan, benarkah? kalau iya, jangan sekali-kali dipaksa untuk ikutan mengimbangi kaki kiri, akibatnya bisa gatal dan sakitnya menjadi luar biasa."


"Sok tahu kamu. Sudahlah gak usah menjelaskannya padaku, dokter saja menyerah." Jawab Razen dengan ketus.


"Karena kamu terlalu dimanjakan oleh kursi roda, dan kamu malas untuk melakukan terapi." Jawab Venza dengan tegas.


"Kalau aku gak cerewet, mana mau kamu menuruti ku. Mulai sekarang jadwal kamu menggunakan kursi roda ada waktunya tersendiri, dan nanti akan aku pesankan alat bantu untukmu berjalan. Bila perlu kursi roda ini tidak perlu kamu gunakan, ini hanya akan membuatmu malas untuk terapi." Kata Venza sambil memapah suaminya berpindah ke tempat untuk membuang air kecil.


"Kalau sudah seperti ini, bagaimana aku bisa buang air kecil?"

__ADS_1


Seketika, Venza dibuatnya melongo dan bengong, lantaran apa yang sudah ia lakukan benar-benar sangat menggelikan. Bagaimana tidak menggelikan, dirinya harus membantu suaminya berada dalam kamar mandi, sedangkan pernikahan keduanya hanya sebatas merawat.


"Kenapa kamu diam? bukankah sudah aku bilang sama kamu untuk panggilkan Pak Erik, ini nih jadinya." Ucap Razen dan membuat Venza sangatlah malu.


"Tenang aja, aku gak akan melihat. Aku akan memejamkan kedua mataku. Percaya denganku, karena aku tidak tertarik dengan kepunyaan mu."


"Aku pegang omongan kamu, awas saja kalau kamu diam-diam penasaran."


"Dih! kepedean."


Razen hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis mendengar jawaban dari istrinya.


"Tutup kedua matamu, pastikan tertutup dengan benar. Aku berhitung, Satu, dua, tiga, tutup kedua matamu." Ucap Razen dan dengan terpaksa harus buang air kecil ditemani istrinya.

__ADS_1


Sedangkan Venza sendiri berusaha untuk tidak ceroboh, pastinya akan sangat memalukan jika dirinya melakukan kecerobohan.


__ADS_2