Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Menolak untuk dipertemukan


__ADS_3

Ayah Venza dan ibu tirinya yang sudah duduk di ruang tamu, benar-benar dibuatnya kagum dengan rumah yang begitu besar bak seperti istana.


"Gila Pa, rumahnya gede banget. Nanti tuh ya, jangan nanggung nanggung buat minta kompensasi dari pemilik rumah. Ingat, ini kesempatan emas untuk kita. Benar-benar tuh ya, Venza sangat beruntung dapetin suami dari kalangan orang tajir. Kita harus meraup kesempatan emas ini." Ucap Ibu tirinya Venza tengah Berbisik didekat daun telinga suaminya.


Saat itu juga, ayahnya Venza baru menyadari jika perbuatannya itu benar-benar salah besar karena telah menukar putrinya dengan uang.


"Kok diam saja sih Pa, jawab kenapa." Ucap Ibu tirinya Venza sambil menyenggol lengannya.


"Ma, sepertinya Papa tidak berani untuk meminta kompensasi. Papa malu di hadapan keluarga calon suaminya Venza jika meminta imbalan." Jawab ayahnya Venza yang sadar akan kesalahannya yang susah begitu tega telah menukar kebahagiaan anaknya dengan penderitaan yang entah seperti apa yang akan dijalaninya.


"Papa ini gimana sih, bukannya sudah sepakat untuk meminta kompensasi sama calon mertuanya Venza?"


Dengan kesal, ibu tirinya Venza merasa geram dan tetap pada tujuannya.


"Apapun alasannya, pokoknya Mama tidak mau tahu, kita pulang harus bawa uang, titik. Terserah Papa, Mama sendiri yang akan bicara sendiri kepada calon mertuanya Venza." Ucap Ibu tirinya dengan perasaan dongkol.


Saat itu juga, rupanya kedua orang tuanya Razen pun menemui orang tuanya Venza yang sudah duduk di ruang tamu hanya berdua saja.

__ADS_1


"Maaf, sudah membuat Bapak dan Ibu menunggu kami." Ucap calon ayah mertuanya Venza, yang tidak lain Tuan Garen Pratama.


"Tidak apa-apa, Tuan. Justru kami yang seharusnya meminta maaf karena sudah mengganggu Tuan dan Nyonya."


"Kami tidak merasa diganggu. Maaf sebelumnya, apakah Bapak dan Ibu sudah yakin untuk menikahkan putri Anda dengan anak kami?"


"I-i-iya, Tuan. Kami sangat yakin untuk menikahkan putri kami dengan putranya Tuan."


"Maaf Tuan, bukan maksud kami untuk menukarkannya dengan sesuatu. Namun, kami memang sangat membutuhkannya." Ucap ayahnya Venza ikut menimpali.


"Tidak masalah, karena kami tidak merasa keberatan. Justru itu, kami sangat senang dan juga sangat bersyukur, karena ada yang mau menikah dengan anak kami yang mempunyai banyak kekurangan. Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir, kami akan bertanggung jawab penuh atas putri Anda." Ucap Tuan Garen meyakinkan.


"Maafkan kami, Tuan." Ucap ayahnya Venza yang merasa sangat bersalah besar atas keputusan yang diambilnya.


Ingin rasanya mencabut ucapannya itu, namun nasi telah menjadi bubur.


"Bapak tidak perlu meminta maaf. Tunggu sebentar, saya akan mengambilkan sesuatu sekaligus mengajak putra kami untuk mempertemukannya dengan putri Bapak." Sambungnya lagi dan bangkit dari posisinya untuk mengambil sesuatu yang sudah dijanjikan.

__ADS_1


Sedangkan didalam kamar, rupanya sosok Razen tengah menyibukkan diri dengan laptopnya untuk menjadi obat kejenuhannya.


"Razen,"


"Papa, ada apa?"


Dengan reflek, Razen langsung menoleh ke sumber suara.


"Papa sudah janji untuk mempertemukan kamu dengan calon istrimu, juga dengan kedua orang tuanya." Ucapnya dengan serius dihadapan putranya.


"Maaf, aku tidak ingin menemuinya. Aku serahkan semuanya sama Papa, atur semua pernikahannya." Jawab Razen yang terang terangan menolak.


"Kamu yakin tidak ingin bertemu dengan calon istrimu?"


Razen menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kalau gitu Papa tidak akan memaksa mu. Yang terpenting siapkan diri mu sebaik mungkin, karena besok adalah hari pernikahan mu." Ucap Tuan Garen dan bergegas pergi dari kamar putranya.

__ADS_1


__ADS_2