
Dalam perjalanan pulang, Venza menatap lurus ke depan. Pikirannya, pun sudah berada di rumah dan memikirkan suaminya ketika hendak memarahinya.
"Kak, Kakak ipar." Panggil Gilang sambil melambaikan tangannya didepan wajah kakak iparnya yang sengaja membuyarkan lamunannya.
"Eh maaf, ada apa?"
Gilang pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada apa-apa, cuma mau ngagetin Kakak saja. Habisnya dari tadi tuh ngelamun terus, Kak Ipar lagi mikirin kak Razen kah? tenang aja, kak Razen orangnya galak didepan kita. Tapi sebenarnya dia tidak galak seperti yang kita lihat." Ucap Gilang yang tidak ingin membuat kakak iparnya kepikiran terus.
"Bukan itu, aku hanya sedang memikirkan mau masak apa nanti. Soalnya aku tidak tahu seleranya." Jawab Venza beralasan.
"Oh, soal itu mah nanti tanya aja sama Bi Darmi. Tenang aja, kak Razen juga bukan orang yang suka menghina masakan. Kalau lidahnya cocok, ya makan. Tapi, kalau tidak selera, dia akan pergi meninggalkan makanannya." Kata Gilang menjelaskan.
Venza hanya tersenyum dan mencoba untuk mencernanya.
'Semudah itu kah suamiku? aku gak percaya. Buktinya kata Bi Darmi gak galak, nyatanya barusan nelpon aku aja kek marah-marah gitu. Jadi, mana yang benar? mungkin juga mereka hanya tidak ingin aku takut.' Batin Venza sambil melihat lurus ke depan.
Perjalanan yang tidak begitu jauh antara rumah dan kampus, akhirnya sampai juga di depan rumah.
Venza maupun Gilang sama-sama melepaskan sabuk pengamannya, namun rupanya Venza tiba-tiba kesulitan untuk melepaskannya.
Gilang yang melihat kakak iparnya susah payah untuk melepaskan sabuk pengaman, langsung membungkukkan badannya dan membantunya.
"Sini, biar aku bantu Kakak ipar untuk melepaskan sabuknya." Ucap Gilang sambil meraih dan membantunya.
Saat itu juga, keduanya saling menatap satu sama lain ketika Gilang berhasil melepaskan sabuknya. Tatapan Gilang seolah tidak ingin berhenti.
"Sudah kan ya, aku mau turun." Ucap Venza yang takut terbawa suasana.
Lebih lagi dirinya sudah bersuami, tentunya harus menjaga sikapnya di dekat laki-laki lain meskipun itu saudara dari suaminya sendiri.
__ADS_1
"Oh ya, maaf Kak." Jawab Gilang dan bergegas turun.
'Si_al, kenapa aku terpesona dengan kakak ipar aku sendiri. Gilang, sadar kamu.' Batinnya sambil membuka pintu mobil.
Sedangkan Venza sendiri sudah masuk ke dalam rumah dengan langkah kakinya yang cepat.
Lain lagi dengan Razen, dirinya yang merasa kesal terhadap istrinya, pun memaksakan diri untuk berdiri lewat bantuan dengan alat penyangga yang sudah ia pesan.
Venza yang saat itu baru masuk ke kamar, langsung berlari untuk menangkap tubuh suaminya yang hampir saja jatuh.
"Awas ...!" Teriak Venza sambil berlari ketika hendak menangkap tubuh suaminya.
Dengan sigap, Razen tidak jadi jatuh. Dengan tenaganya yang ekstra telah dimiliki oleh Venza, pun mampu menyangga berat badan suaminya yang terbilang besar.
"Lepaskan! aku tidak butuh bantuan kamu, sana pergi saja bersama Gilang. Dia lelaki yang sempurna daripada aku, yang tidak bisa mengantarkan kamu pergi." Bentak Razen dan menepis tangan istrinya yang memegangi punggung suaminya.
"Kamu ngomong apa, aku tidak mengerti. Aku pergi juga karena mendaftar kuliah, itupun juga orang tuamu yang menyuruhku, dan aku sendiri sudah menolaknya dan memilih untuk merawat kamu. Tapi, ucapan ku tertolak. Lalu, aku harus bagaimana?"
"Mulai besok aku yang akan mengantarkan kamu, dan aku yang akan menjemputmu." Ucap Razen yang entah kenapa mempunyai perubahan besar terhadap dirinya.
"Tapi kan, apa aku tidak merepotkan kamu?"
Razen langsung menatap istrinya dengan tajam, benar-benar merasa di sepelekan, batinnya.
"I-i-iya, aku nurut saja sama kamu." Ucap Venza yang tidak ingin menambah masalah dengan suaminya, lebih memilih pasrah pada suaminya.
"Awas saja kalau kamu dekat-dekat dengan Gilang, kamu akan menerima akibatnya." Kata Razen tak lupa mengancam istrinya.
"I-iya, aku akan menjaga jarak dengannya." Jawab Venza meyakinkan suaminya.
"Sekarang juga, kamu cepetan siapkan makan siang untukku." Perintah Razen pada istrinya.
__ADS_1
Venza mengangguk.
"Baiklah, aku akan menyiapkan makan siang untukmu. Tapi sebelumnya aku mau mengganti bajuku dulu." Jawab Venza dan bergegas untuk mengganti pakaiannya, lantaran merasa risih.
Namun sebelumnya si Venza membantu suaminya untuk duduk di kursi roda. Kemudian, baru pergi mengambil baju ganti.
Selesai itu, Venza bergegas ke dapur mau memasakkan makan siang untuk suaminya. Razen yang sudah seperti detektif, ia mengikuti istrinya ke dapur lewat jalan pintas.
Gilang yang kebetulan tengah berada di dapur sedang mengambil buah di kulkas, lagi-lagi harus bertemu dengan Venza.
"Eh Kakak ipar, mau masak ya Kak?"
"Iya, aku mau menyiapkan makan siang untuk suami." Jawab Venza, tanpa ia sadari oleh keduanya tengah diperhatikan oleh Razen.
"Boleh aku bantu masak? kebetulan aku sedang tidak ada kesibukan, jadi hari ini aku nganggur."
"Loh, katanya mau ke kantor kalau sudah pulang dari kampus?"
"Nanggung Kak, jadi mendingan absen sekalian saja. Oh ya, Kak Razen minta dimasakin apa?"
"Ah ya, aku sampai lupa menanyakannya. Ya uda ya, aku mau tanyakan dulu. Bodoh sekali aku ini, mau masak tapi gak tanya dulu."
Gilang yang mendengarnya, pun tersenyum lebar. Namun, tiba-tiba pandangannya tertuju pada kakaknya yang sudah memperhatikan dirinya dan kakak iparnya.
"Kak Razen. Maaf, tadi aku cuma ngobrol biasa dan tidak ada obrolan yang lebih." Ucap Gilang yang tidak ingin kakaknya murka dan marah.
Saat itu juga, Venza ikutan menoleh dan melihatnya siapa yang sudah memerhatikan dirinya.
"Pergi sekarang juga kamu Gilang, cepat!" Dengan suara bentakan, Razen mengusir adiknya.
"I-iya Kak, ya Kak. Aku minta sama Kak Razen untuk tidak memarahi Kakak ipar, dia tidak bersalah." Jawab Gilang yang tengah mencoba menjelaskan kepada kakaknya agar tidak terjadi salah paham, pikirnya.
__ADS_1
Razen justru menatap tajam pada istrinya. Sedangkan Venza menyimpan rasa takut ketika harus menghadapi suaminya yang tengah emosi.
Gilang yang tidak ingin suasana semakin panas, memilih untuk segera pergi dari dapur. Tetapi tetap saja mengawasi, takutnya kakak ipar yang akan menjadi imbasnya.