Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Merasa takut


__ADS_3

Venza yang tengah berjalan beriringan dengan adik iparnya, merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan.


Tidak terasa juga, rupanya sudah waktunya untuk istirahat dan makan siang.


"Kak Venza, kita mau langsung pulang, atau ada sesuatu yang ingin Kakak inginkan? mumpung lagi keluar, takutnya ada kebutuhan Kakak yang ingin Kak Venza beli." Ucap Gilang di sela-sela tengah berjalan beriringan.


"Sepertinya gak ada, soalnya juga mau beli, beli apa. Untuk kebutuhan kuliah saja sudah disiapkan sama Mama kamu, jadi tidak ada yang ingin aku beli. Soal alat bantu untuk suami juga sudah kamu pesankan, jadi kita pulang aja sepertinya. Kalau mau beli sesuatu juga gak apa-apa, aku tidak masalah jika harus menunggu atau menemani kamu." Jawab Venza dengan sedikit gugup.


Gilang yang mendengarnya, pun tersenyum saat melihat kepolosan kakak iparnya.


"Ya udah kalau gak ada yang mau Kakak beli, kita langsung ke restoran saja ya Kak, kita makan siang dulu. Setelah perut kita sudah diisi, baru deh kita pulang. Soal Nandin gak perlu dipikirkan, nanti juga pulangnya bareng Mama." Ucap Gilang sambil berjalan.


"Apa enggak sebaiknya makan di rumah saja? kasihan kakak kamu makan sendirian di rumah. Bagaimana kalau aku pesankan saja makanannya, aku mau makan di rumah saja."


"Tenang saja, Kak Razen tidak akan marah. Lagian juga di rumah ada pak Erik yang mau menemani Kak Razen makan siang, jadi kakak ipar gak perlu cemas dan kepikiran sama kak Razen." Kata Gilang mencobanya untuk merayu dan meyakinkan kakak iparnya.


"Baiklah, terserah kamu saja." Jawab Venza yang tidak bisa memaksa adik iparnya.

__ADS_1


"Nah, gitu dong. Kakak ipar gak perlu takut, jugaan Kak Razen bisa ngertiin kalau kakak ipar sadang melakukan pendaftaran." Ucap Gilang.


Venza yang tahu statusnya hanya istri kontrak ataupun bayaran, tetap saja merasa tidak tenang ketika harus mengabaikan suaminya.


Tiba-tiba Venza dikagetkan dengan suara dering pada ponselnya. Saat itu juga, Venza langsung merogoh ponselnya, namun rupanya bukan ponsel miliknya yang berdering, melainkan ponsel pemberian dari suaminya.


Venza yang takut dan juga gemetaran, pun langsung merogoh ponsel pemberian suaminya.


Benar saja, rupanya suaminya yang tengah menelpon dirinya. Bukannya langsung diterima panggilan telepon dari suaminya, justru Venza dibuat tercengang ketika melihat nama kontak yang tertera pada nomor ponsel.


Tentu saja, Venza mendadak susah payah ketika hendak menelan ludahnya.


"Kakak ipar, kok gak diangkat telponnya?" tanya Gilang setelah menepuk punggung kakak iparnya.


Venza dibuatnya kaget, dirinya langsung menerima panggilan telepon dari suaminya.


Di seberang telepon, rupanya Razen sudah geram dibuatnya.

__ADS_1


"Kamu itu kencan atau mendaftar kuliah? ha! sekarang juga kamu cepetan pulang, dan kamu harus memasak untukku."


Mendengar suara yang cukup melengking di telinganya, Venza seperti mendapat sengatan listrik dari suaminya.


"I-i-iya, aku akan segera pulang." Jawab Venza dengan perasaan takut ketika mendengar suara suaminya.


Gilang yang mendengar kakak iparnya seperti suara ketakutan, ia langsung memastikannya.


Venza yang ketakutan, dirinya langsung memutuskan sambungan teleponnya. Napasnya yang awalnya biasa-biasa saja, kini mendadak terasa sesak untuk bernapas.


"Kakak ipar kenapa?" tanya Gilang penasaran.


"Aku gak bisa makan di restoran bersamamu, soalnya kakak kamu memintaku untuk segera pulang dan menyuruhku memasakkan makan siang. Jadi, sepertinya aku gak bisa makan di restoran. Kalau kamu tidak bisa mengantarkan aku pulang, aku bisa pulang sendiri naik taksi, tapi ... aku gak ada uang."


"Ya udah kalau Kakak ipar panik, aku akan mengantarkan Kakak pulang. Makan di restorannya lain kali aja juga gak apa-apa, lebih baik sekarang kita pulang."


Venza mengangguk dan merasa tidak enak hati ketika harus mengecewakan adik iparnya. Tapi mau bagaimanapun suami harus diprioritaskan dari pada yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2