Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Tidak terima istrinya di ejek


__ADS_3

Dengan fokus ketika mendengar penjelasan dari seseorang yang akan menerapi Razen, tidak terasa sudah memakan waktu yang cukup lama.


Karena tidak langsung melakukan terapi, cuma sebatas pertanyaan dan lihat bagian yang sakit. Kemudian, seseorang tersebut berpamitan untuk pulang. Sedangkan Razen dan Venza masih duduk di ruang tamu.


"Gimana, kamu sudah siap untuk terapi, 'kan?" tanya Venza ingin memastikannya.


Razen tersenyum mengembang mendengarnya, yakni merasa ada celah kesempatan untuknya sembuh.


"Tentu saja aku sudah siap, karena aku ingin sembuh demi kamu, juga untuk hubungan rumah tangga kita." Jawab Razen meyakinkan istrinya.


Venza tersenyum mengembang ketika mendengar jawaban dari suaminya.


"Oh ya, sudah waktunya jam makan siang, gimana kalau aku ajak kamu keluar. Kita makan siangnya di warung makan aja, bagaimana, mau?"


"Tidak cuma mau, tentu saja aku tidak akan menolak ajakan darimu. Bosen juga berada di dalam rumah, mending juga keluar sambil jalan-jalan. Tapi, gimana denganku? aku sendiri hanya tertunduk pada kursi roda, bagaimana bisa jalan bareng kamu?"


"Tenang aja, jalannya mulus, udah di cor jalannya. Jadi, kamu gak perlu bingung." Jawab Venza.


"Ya kah, siap lah kalau gitu." Ucap Razen tersenyum merekah.


"Kalau begitu aku mau ambil uangnya dulu, kamu tunggu disini sebentar."

__ADS_1


Razen mengangguk tanda mengiyakan. Kemudian, Venza bergegas ke kamar untuk mengambil uang secukupnya untuk membeli makanan di warung makan. Setelah itu, Venza kembali keluar dari kamar.


"Loh, kalian mau kemana?" tanya Bi Darmi saat mendapati Venza bersama Razen seperti hendak pergi.


"Kita berdua mau makan di warung, Bi. Venza udah kangen sama kampung halaman, Bi. Jadi, Venza sengaja mengajak suami keluar sekalian jalan-jalan." Jawab Venza.


"Oh gitu, ya udah gak apa-apa. Tapi ingat loh, suami kamu dilarang makan yang pedas pedas, lambungnya gak kuat kata suami kamu." Ucap Bi Darmi mengingatkan.


"Bibi tau aja, ya uda ya Bi, kita berdua pergi dulu." Timpal Razen ikut bicara.


"Ya, Tuan, silakan." Ucap Bi Darmi.


Kemudian, Venza mengajak suaminya untuk pergi ke warung makan. Sedangkan Pak Erik hanya memantaunya saja.


"Padahal udah siang gini ya, tapi kok anginnya adem gitu. Gak seperti di kota, panas, gerah juga." Ucap Razen saat dirinya masih bisa merasakan hawa dingin dan angin yang sepoi-sepoi.


Venza yang tengah mendorong kursi roda, tak lepas dirinya untuk tersenyum ketika suaminya merasa heran dengan suasana di kampungnya.


"Namanya juga masih kampung, tentunya masih dingin. Beda dengan kota, yang sudah di penuhi gedung gedung tinggi, bahkan sudah banyak apartment. Berbeda sama yang di kampung, bangunan tinggi saja jarang ditemukan, terkecuali ada di kotanya, tetap saja masih kalah padatnya dengan tempat kamu tinggal." Jawab Venza sambil mendorong dan tidak terasa sudah sampai di depan warung makan.


"Venza!"

__ADS_1


Ardo memanggil Venza ketika bertemu dengan cara yang tiba-tiba dan tidak pernah disangka sebelumnya.


"Ardo, kamu masih ada di rumah?" tanya Venza ketika bertemu dengan laki-laki yang tidak pernah bosan mengungkapkan perasaan cintanya.


Razen yang teringat dengan nama Aldo, pun ingatannya kembali dengan perkataan dari istrinya.


'Apakah laki-laki ini yang selalu mengungkapkan perasaan cintanya? tampan sih, tapi kenapa Venza tidak pernah mau menerima cintanya? apakah cinta itu tidak memandang fisik? ah! ngapain juga aku pusing memikirkannya, lagi pula Venza sudah menjadi istriku, untuk apa aku harus takut.' Batin Razen yang mencoba untuk menepis perasaan cemburunya.


"Dia siapa, Ven?" tanya Ardo sambil memperhatikan Razen yang tengah duduk di kursi roda.


Venza justru tersenyum ketika mendapat pertanyaan dari Ardo.


"Halah, Do. Palingan laki-laki ini juga pasiennya, bisa jadi si Venza kerja di yayasan." Timpal ibunya Ardo yang tiba-tiba keluar dari warung makan.


Venza yang tengah diejek oleh ibunya Ardo, pun berusaha untuk tetap tenang. Sedangkan Razen yang mendapati istrinya di hina, rasanya tidak terima, dan ingin sekali memarahinya.


"Ma, tidak baik bicara seperti itu. Mungkin saja laki-laki ini saudaranya Venza, ya 'kan, Ven?"


"Saya suaminya Venza, kenapa? ada masalah dengan Ibu? kami berdua sudah menikah, dan jangan sekali-kali mengejek istri saya. Sekali lagi Ibu mengejek ataupun menghinanya, saya tidak segan-segan melakukan tindakan." Ucap Razen yang akhirnya angkat tangan.


Ardo dan ibunya langsung terkejut ketika mendengar pengakuan dari Razen, yakni mengaku jika Venza adalah istrinya.

__ADS_1


Seketika, ibunya Ardo justru tertawa mendengar ucapan dari Razen.


__ADS_2