
Acara masih berlangsung, para tamu undangan juga semakin padat di waktu menjelang sore hari. Venza yang terlihat cantik dengan penampilannya dan gaun pengantin yang dikenakan, benar-benar terlihat cantik. Banyak para tamu undangan yang pangling dengan Venza.
"Sayang, kamu kenapa? kamu capek? kalau capek, mending kita istirahat dulu."
Razen yang melihat istrinya terlihat lelah, pun langsung menawarkan istrinya untuk istirahat.
"Enggak apa-apa, cuma kepikiran Ersa saja. Semoga saja dia dalam keadaan baik, aku khawatir padanya." Jawab Venza.
"Tenang saja, di rumah sakit ada ibunya, juga keluarganya. Jadi, kamu tidak perlu khawatir. Do'akan saja, semoga saudara tiri kamu dengan kondisi yang baik. Ya udah kalau gitu, kita masuk ke dalam rumah, dan istirahat." Ucap Razen yang tidak ingin kesehatan istrinya menurun.
Venza yang belum juga menjawab, tiba-tiba terdengar kehebohan di pintu masuk untuk para tamu undangan. Venza maupun Razen sama-sama penasaran.
"Kok rame-rame ya, jangan-jangan Ersa-"
"Bukan, jangan berpikiran buruk. Lebih baik kita langsung turun aja, sekalian masuk kedalam rumah." Sambar Razen yang tidak ingin istrinya berpikiran buruk kepada saudara tirinya.
Venza sendiri hanya bisa mengiyakan apa kata suaminya. Karena menyimpan rasa penasaran juga, akhirnya turun dari atas panggung pelaminan dan melihatnya keramaian.
Namun, siapa sangka. Justru pandangan Razen langsung tertuju di pintu masuk, dan melihat siapa orangnya yang paling depan.
"Gilang! Nandin! Mama! Papa! benarkah mereka datang?"
Razen seperti mendapat hoki ketika melihat keluarganya yang datang. Venza juga ikutan menyebutkan satu persatu dari adik iparnya sampai ke ayah mertua.
Senyum mengembang terlihat begitu jelas di kedua sudut bibirnya Venza dan Razen.
Selain itu, kedua orang tuanya dan kedua adiknya, sungguh tidak menyangka ketika melihat Razen sudah berdiri dengan tegak. Juga, terlihat tengah mengenakan baju pengantin. Tentu saja seperti mendapat kejutan yang sangat istimewa dan juga berharga.
"Razen! kakak!" kedua orang tuanya dan juga kedua adiknya sungguh dibuatnya terkejut.
Saat itu juga, mereka memeluknya karena bahagia yang begitu sulit untuk diungkapkan dan digambarkan.
"Kamu sudah sembuh, anak sulungnya Mama sama Papa?"
Razen menga ngangguk.
"Ya, Ma, Pa. Sekarang aku sudah bisa berdiri dan juga berjalan. Ini semua berkat Venza, istri kesayangannya aku, Ma, Pa." Jawab Razen dan langsung merangkul istrinya.
"Loh, bukannya ini hari pernikahannya saudara tirinya istri kamu?"
"Ada masalah sedikit, dan juga insiden yang tidak bisa diselesaikan dalam waktu yang sebentar. Jadi, kami berdua harus menggantikannya." Jawab ayahnya Venza memberi penjelasan.
"Turut prihatin kami sekeluarga, Pak. Semoga masalahnya segera terselesaikan." Ucap ayahnya Razen.
"Terima kasih, Tuan. Mari, ikut kami masuk ke rumah. Tuan sekeluarga pasti lelah dan juga capek karena harus menempuh perjalanan yang cukup jauh." Jawab ayahnya Venza.
Keluarga dari Razen pun bergegas masuk bersama Razen maupun Venza.
__ADS_1
"Kak ipar, cantik banget deh. Aku jadi iri, gimana ya rasanya bersanding di pelaminan?"
Venza justru tersenyum mengembang ketika mendengar pertanyaan dari adik iparnya.
"Selesaikan dulu cita-cita kamu, soal menikah akan ada waktunya. Jadi, jangan kamu sia-siakan waktu luangmu." Jawab Venza yang tak lupa memberi nasehat kecil kepada adik iparnya.
"Tuh dengerin yang dikatakan kakak ipar, kamu mah nikah mulu yang di bahas." Sambar Gilang ikut menimpali.
"Kak Gilang!"
"Nandin, jangan keras-keras, banyak orang, bikin malu aja kamu ini."
Razen pun tak lupa menegur adik perempuannya.
"Ya deh, Kak, iya." Jawab Nantin sambil berjalan beriringan dengan kakak iparnya.
Sampai di dalam rumah, Venza maupun Razen langsung mengganti pakaiannya, lantaran sudah merasa tidak nyaman dan juga gerah. Kemudian, keduanya ikut berkumpul bersama keluarganya setelah mengganti pakaiannya hingga tidak terasa sudah malam menikmati kebersamaan dengan keluarga, meski tidak ada ibu tiri dan saudara tiri.
Ayah venza yang khawatir dengan istrinya dan juga ibu tirinya, pun akhirnya meminta izin untuk melihat kondisi Ersa di rumah sakit.
"Papa mau kemana?" tanya Venza karena penasaran dengan ayahnya yang sudah terlihat rapi.
"Bapak mau pergi ke rumah sakit. Papa ingin melihat kondisinya Ersa." Jawab sang ayah.
Venza yang juga ingin melihat kondisi saudara tirinya, pun sejenak berpikir.
"Pa, Venza ikut." Ucap Venza yang akhirnya ingin ikut ayahnya.
"Tidak perlu, Pak. Biar supir kami yang akan mengantarkan Bapak pergi ke rumah sakit, Razen kalau kamu bersedia, temani ayah mertua kamu dan istri kamu." Timpal ayahnya Razen.
"Tidak perlu, Tuan. Saya bisa ngojek sama tetangga." Jawab ayahnya Venza.
"Tidak apa-apa, Razen akan temani Papa ke rumah sakit bersama Venza." Ucap Razen ikut bicara.
"Ya udah tidak apa-apa, maafkan Bapak yang sudah merepotkan kalian. Untuk keluarga besan, saya pamit sebentar, nanti Darmi yang akan melayani kalian."
"Ya, Pak, silakan." Ucap ayahnya Razen.
Setelah itu, Razen bersama istrinya dan juga ayahnya Venza, kini tengah dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Sampainya di rumah sakit, ayahnya Venza mencari ruang rawat anak tirinya. Setelahnya diberitahu kamar pasien, segera menuju ruang rawatnya Ersa.
Sedangkan yang tengah dirawat, hatinya berkecamuk dengan perasaan dongkol, kecewa, kesal, geram, dan juga merasa iri dengan nasib saudara tirinya, yakni Venza yang ternyata suaminya sudah sembuh dan bisa berjalan. Juga, terlihat sempurna.
"Aku benci sama Venza, Ma. Dia harus ma_ti seperti ibunya. Ersa harus aku lenyap_kan seperti Mama yang sudah membunuh ibunya Venza."
Bagai sambaran petir di malam hari. Tidak hanya ayahnya Venza yang mendengar apa yang sudah diucapkan oleh Ersa dengan suara yang cukup keras, namun Venza dan Razen ikut mendengarkannya. Sungguh apa yang sudah didengarnya adalah sangat mengejutkan.
__ADS_1
"Apa! jadi, kau sudah membunuh ibunya Venza. Benar-benar bia_dab kamu, juga anakmu. Selama ini kamu adalah seorang pembu_nuh."
Ayahnya Venza langsung mencekik leher istrinya, dan Razen mencoba melerai. Namun apa yang terjadi, Ersa langsung turun dari ranjang pasien dan mencoba untuk menyakiti Venza. Kegaduhan di dalam ruangan pasien, pun semakin menjadi. Kemudian satpam dan orang-orang yang ada di sekitar ruangan rawat tersebut segera melihatnya dan memisahkan diantara mereka.
Saat itu juga, polisi datang dan mengamankan semuanya dan membawanya ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
Tidak peduli dengan waktu malam, kasus tetaplah kasus. Mereka berlima tengah dibawa ke kantor polisi. Razen yang tidak terima, pun segera menghubungi keluarganya untuk segera datang ke kantor polisi.
"Iya iya iya! besok pagi kalian semua akan segera diproses. Sekarang sudah malam, kalian masuk ke dalam dan istirahat lah sampai besok pagi." Ucap seorang polisi mengamankan ke lima orang yang dianggapnya tersangka, tentu saja mereka berlima dipisah.
Razen yang tidak tega melihat istrinya, ingin rasanya memberontak. Namun, dirinya langsung mengajukan untuk mengamankan rekaman CCTV untuk dijadikan bahan bukti.
Pak polisi, pun mengiyakan dan segera memprosesnya.
Merasa lega karena ada bukti yang bisa dijadikan alat membantu, Razen sedikit tidak begitu khawatir.
Ayah dari Razen bersama adiknya yang bernama Gilang telah datang, pun dilarang untuk menemui, dan diminta untuk kembali pulang ke rumah. Mau tidak mau, akhirnya terpaksa pulang dan meninggalkan anak dan menantu, juga besannya.
Venza yang tengah duduk dipojokan sendirian, pun teringat dengan ucapan dari Ersa, yakni bahwa ibu tirinya adalah dalang dari pemb_unuhan ibunya. Venza menangis sesenggukan.
Razen yang melihat istrinya tengah menangis, langsung mendekatinya.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Razen yang ikut duduk disebelahnya.
"Aku benar-benar tidak menyangka saja, jika Ibu tiri aku tega memb_unuh ibu kandungku. Padahal aku sudah menganggapnya ibu aku sendiri, meski aku tidak pernah mendapatkan kasih sayangnya. Juga, Ersa yang begitu tega ingin mengikuti jejak ibunya yang juga ingin mele_nyapkan aku." Jawab Venza tertunduk sedih.
Razen yang mengerti kondisi istrinya, langsung memeluknya. Sedangkan sang ayah di tempat yang berbeda.
"Kamu yang sabar, ya. Kita harus memberi pelajaran kepada mereka. Hukum tetap berjalan, dan aku sudah mempunyai bukti yang kuat. Jadi, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan selalu menjagamu, dan selalu berada di dekatmu. Sudah larut malam, sebaiknya kita tidur. Seharian kamu sudah capek. Jadi, istirahat lah." Ucap Razen mencoba untuk menenangkan pikiran istrinya, dan mengajaknya untuk istirahat.
Karena rasa capek dan juga kantuk, Razen dan Anaya segera tidur meski hanya beralaskan tikar. Tidak ada pilihan lain selain menunggu sampai pagi.
Benar saja, Razen dan istrinya terbangun dari tidurnya di waktu pagi hari, itupun dibangunkan, lantaran kecapean.
Setelah diberi sarapan pagi seadanya, Razen bersama istrinya menikmatinya bersama. Juga, ayahnya yang sendirian.
Setelah selesai sarapan pagi, Razen bersama Venza segera untuk dimintai keterangan, juga ayahnya maupun ibu tiri dan saudara tiri.
Saat kelimanya mendapatkan pertanyaan dan dalam pengawasan pemeriksaan, Razen mengingatkan untuk menunjukkan rekaman CCTV.
Setelah ditunjukkan rekaman CCTV atas kebenarannya, Ersa dan ibunya benar-benar geram dibuatnya. Tentu saja, keduanya sama sekali tidak bisa membela diri maupun mencari pembelaan.
Saat itu juga, Ersa dan Ibunya dinyatakan bersalah, dan harus menjalani proses hukum.
Mau tidak mau, hukum tetaplah berjalan sesuai perbuatan yang dilakukannya.
Penyesalan tinggallah penyesalan yang tiada guna, dan keduanya berakhir di balik jeruji besi.
__ADS_1
Kini, Venza dan ayahnya tidak lagi menanggung beban. Juga, Venza telah mendapatkan cinta dan kebahagiaan bersama suaminya.
TAMAT