
Pak Erik yang benar-benar terkejut melihat bosnya sudah berdiri dengan tegak, pun seperti mimpi.
"Tuan, Tuan beneran sudah bisa berdiri?" tanya Pak Erik yang dikejutkan dengan bosnya.
"Ah ya, Pak. Saya sudah bisa berjalan, ini semua berkat istri saya." Jawabnya.
"Gak juga kok, Pak. Mungkin memang hari ini adalah hari keberuntungannya suami saya. Juga, saya tidak melakukan apapun untuk suami saya selain menyemangati dan berdoa untuk kesembuhannya." Sahut Venza ikut menimpali.
"Justru itu, Nona, doa dari istri lah yang menyembuhkan kakinya Tuan Razen. Saya ikut bahagia dengan kabar kesembuhan kakinya Tuan, dan semoga Tuan benar-benar sembuh total." Jawab Pak Erik yang juga ikut merasa bahagia ketika mendapatkan kabar berita soal majikannya.
"Ya udah ya, Pak, saya mau balik ke kamar." Ucap Razen.
"Silakan, Tuan, Nona." Jawab Pak Erik, Venza maupun Razen kembali masuk ke kamar.
__ADS_1
Sedangkan Pak Erik memilih untuk menunggu Bosnya di depan rumah. Takut jika ada sesuatu yang tidak diinginkannya. Begitu juga dengan Bi Darmi, memilih untuk bersiap-siap sebelum kembali ke rumah kakaknya, yang tidak lain Pak Hantoro, ayah Venza.
Di lain tempat, yakni di rumah orang tuanya Venza tengah disibukkan untuk menerima tamu di malam hari sebelum hari pernikahan. Pihak keluarga yang memang ingin menghadiri acara sebelum hari pernikahan, yakni agar bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga.
Semua para tamu keluarga yang jauh tempatnya, kini baru saja sampai di rumah Pak Hantoro.
"Wah wah wah... mewah bener ya, acara pernikahan kau ini, Ersa. Kau benar-benar beruntung hari pernikahan kau sangat mewah, tidak seperti saudara tiri kau itu. Keponakan aku yang satu ini memang pandai lah cari pasangan. Tante doakan, semoga kau bahagia dengan pernikahan kau." Ucap adik dari ibunya Ersa dengan memuji.
"Terima kasih, Tante. Kalau tak kaya, mana mau Ersa menikah. Siapa dulu calon suami Ersa, Tante, kalau bukan juragan tanah. Meski saudara tirinya Ersa menikah dengan lelaki kaya, tapi cac_at dan tak bisa jalan dianya, untuk apa, ya gak, Tante?"
"Siapa dulu lah ibunya, Melani gitu. Untuk apa aku nikahkan putriku dengan lelaki tak sempurna, yang ada si Ersa bakal menderita." Timpal ibunya ikut bicara dengan keluarganya sendiri.
"Ngomong-ngomong, mana saudara tiri kau itu, Tante pingin lihat, macam mana suaminya dia itu, jadi penasaran." Ucap tantenya Ersa yang benar-benar merasa penasaran dengan sosok suaminya Venza.
__ADS_1
Saat itu juga, Venza tengah mendorong kursi roda menuju keramaian dari kerumunan keluarga ibu tirinya, juga keluarga ayahnya sendiri.
Semua yang tengah hadir, kini memperhatikan kedatangan Razen bersama Venza. Diantara mereka ada yang berbisik, ada juga yang ikut simpati dengan keadaan Razen yang tengah duduk di kursi roda.
"Selamat malam semuanya. Maaf, jika saya tidak menyapa satu persatu."
"Malam juga, Nak. Paman dengar, kamu sudah menikah, benarkah?"
"Benar, Paman. Perkenalkan, suami Venza, Razendra namanya."
"Salam kenal, Paman. Saya Razendra, suami Venza." Ucap Razen yang langsung memperkenalkan diri kepada anggota keluarga ayahnya.
Setelah itu, keluarga yang lainnya ikut berkenalan dengan Razen, juga memberi doa yang baik untuk hubungan keduanya, yakni Venza dengan Razendra.
__ADS_1
Tapi tidak untuk keluarga ibu tirinya, semua tengah acuh tak acuh kepada Venza maupun dengan suaminya. Meski begitu, Razen bersama istrinya tidak begitu mempermasalahkannya dan tetap brsikap tenang, sekalipun ada yang mencibir mereka berdua.