Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Mendapat solusi


__ADS_3

Venza mengatur napasnya, kemudian memberanikan diri untuk mengajak suaminya berbicara.


"Aku minta maaf ya, soal apa yang sudah kamu dengar tadi. Tidak seharusnya aku mengajakmu datang kesini, kalau hanya membuatmu emosi." Ucap Venza sambil menunduk dengan posisi duduknya disebelah suaminya.


Razen menoleh, dan memegangi dagu istrinya, lalu menghadapkannya tepat dihadapan dirinya.


"Kamu tidak perlu meminta maaf padaku, seharusnya aku yang menjagamu, bukan kamu yang menjagaku. Maafkan aku yang belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu." Jawab Razen dengan menatapnya serius.


Venza tersenyum tipis.


"Makasih ya, udah mau ngertiin kondisi keluargaku yang seperti kamu lihat tadi. Aku dan Ersa memang selalu berdebat, tapi tetap saja dia saudaraku, meski saudara tiri." Ucap Venza, kemudian melepaskan tangan suaminya yang masih memegangi dagunya.


"Kamu benar-benar wanita yang kuat, juga sabar. Aku salut sama kamu." Jawab Razen merasa mendapat berlian yang begitu berharganya.


Venza kembali tersenyum saat mendengar pujian dari suaminya.


"Kamu tidak perlu keluar dari kamar, apapun yang terjadi di rumah ini. Percayalah sama aku, bahwa aku bisa mengatasinya. Kalau kamu siap mental, aku tidak melarang mu untuk keluar. Sekarang sepertinya sudah sore, juga waktunya mandi. Aku bantu kamu mandi dulu, setelah itu kita makan malam." Ucap Venza, Razen pun mengangguk.


Karena waktunya memang sudah sore, Venza membantu suaminya untuk membersihkan diri. Selesai itu, giliran Venza sendiri yang mandi.

__ADS_1


Razen yang sedari tadi memperhatikan istrinya, tiba-tiba ingatannya tertuju pada mantan kekasihnya yang pernah mengejek kalau dirinya tidak akan pernah bisa mendapatkan seorang istri yang tulus.


Namun, kenyataan yang ia dapatkan, justru lebih dari kata tulus. Razen benar-benar sangat bersyukur karena mempunyai istri yang sangat didambakannya, meski bukan dari golongan orang yang terpandang.


Meski bukan dari golongan terpandang, Razen dapat melihat bahwa istrinya mempunyai kelebihan, yakni kecerdasan. Meski istrinya gagal dalam kuliah, ia mendapat kesempatan untuk melanjutkan kuliahnya sang istri agar tidak ada yang meremehkannya.


Venza yang merasa diperhatikan oleh suaminya, sedikit merasa risih, dan akhirnya mendekatinya.


"Kamu sedang memikirkan apa?" tanya Venza mengagetkan.


Razen sendiri tersadar dari lamunannya.


"Enggak, soalnya kalau kamu terus-terusan mikirin aku, nantinya kamu jadi aneh." Kata Venza sedikit tersenyum tipis dan terlihat ada rasa malu.


Venza sendiri membiasakan untuk tidak terus-terusan canggung ketika dirinya tengah berbicara dengan suaminya.


"Hem, mulai ya sekarang." Ucap Razen.


"Ngobrolnya nanti lagi, aku mau lihat ke dapur dulu, takutnya Bi Darmi belum selesai masak, kan kasihan kalau diburu-buru. Ya udah ya, aku tinggal dulu."

__ADS_1


Razen mengangguk, sedangkan Venza segera bergegas keluar untuk pergi ke dapur.


Karena tidak mempunyai kegiatan, Razen mengamati isi ruang kamar istrinya. Tiba-tiba ia arah pandangannya tertuju pada sebuah bingkai yang ada di dalam lemari kaca yang tembus pandang. Tentu saja si Razen dapat melihat isi didalamnya.


Perlahan ia mendekati lemari tersebut, kemudian ia membukanya dan mengambil bingkai foto.


"Pakai ditulis nama segala, mungkin biar gak lupa kali ya. Lucu juga foto ini, eh tunggu. Bukankah nama Ardo itu teman sekolahnya ya, yang apa itu, oh ya, yang menyukainya. Oh, jadi laki-laki ini yang selalu mengatakan cinta dan selalu ditolak. Sedangkan aku yang tanpa berjuang, aku yang memilikinya. Ternyata jodoh itu datang memang tidak pernah diduga, semoga saja benar, bahwa Venza akan selalu tetap menjadi istriku." Gumamnya sambil memperhatikan foto bersama teman-teman istrinya diwaktu sekolah.


Karena takut ketahuan, Razen langsung mengembalikannya lagi ke dalam lemari. Sedangkan Venza yang baru saja masuk ke dapur, dirinya mendekati Bi Darmi yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.


"Bi, enggak seharusnya Bibi melakukan pekerjaan ini semua. Kan ada Mama, kenapa Bibi melakukannya sendiri?"


"Tidak apa-apa, kapan lagi Bibi bisa datang ke kampung halaman ini, coba, kalau bukan waktu yang seperti ini. Lagian juga di rumah Bibi gak ada orang, Lesa ikut suaminya. Jadi, rumah Bibi kosong. Kalau kamu merasa tidak nyaman tinggal di rumah ini, kamu bisa tinggal di rumah Bibi. Kasihan suami kamu, biar mempunyai waktu istirahat yang cukup. Kamu juga pernah bilang mau mengobati suami kamu di rumah Pak Erdi untuk terapi dan pengobatan herbal." Ucap Bi Darmi yang merasa kasihan dengan keponakannya.


"Ya juga ya, Bi. Tapi kasihan Papa, masa pulang kampung tinggalnya di rumah Bibi, kan kelihatan gak baik untuk dilihat orang, Bi."


"Nanti setelah hari pernikahannya Ersa, kamu bisa tinggal di rumah Bibi." Ucap Bi Darmi memberi solusi kepada keponakannya.


"Venza pikir-pikir dulu ya, Bi. Juga, kasihan Papa. Venza mau minta pendapatnya dari Papa, takutnya nanti menyinggung perasaan." Jawab Venza, Bi Darmi mengangguk.

__ADS_1


Karena belum selesai masak, Venza membantu Bi Darmi untuk menyiapkan makan malam.


__ADS_2