Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Merasa kesal dan juga jengkel


__ADS_3

Venza segera memberikan air minumnya pada suaminya.


"Ini air minumnya. Maaf, jika membuatmu lama menunggu." Ucap Alena sambil menyodorkan air minumnya.


"Tidak apa-apa, sepertinya kamu sudah terbiasa membuat orang menunggu, termasuk menunggu pemilik gelang." Jawab Razen dan langsung minum hingga tandas tak tersisa dalam gelas.


"Maaf."


"Ini, letakkan di meja. Aku mau mandi, kunci pintunya." Perintah Razen dan memutar kursi rodanya menuju kamar mandi saat istrinya tengah mengunci pintu.


Venza yang hendak membantu suaminya mandi, ia meletakkan gelang miliknya di atas meja yang biasa untuk bercermin. Kemudian segera ke kamar mandi.


Razen yang tengah melepaskan kaos oblongnya, membuat Venza merasa gugup kembali.


"Sini, biar aku yang lepaskan." Ucap Venza yang langsung membantu suaminya untuk melepaskan celananya, dan menyisakan celana kolor yang tipis.


Setelah itu, Venza membantu suaminya untuk berpindah tempat yang biasa digunakan untuk duduk ketika mandi.


Dengan hati-hati, Venza membersihkan badan suaminya. Dari memberinya sabun, membantunya untuk membersihkan mukanya dan menyikat gigi, juga termasuk menggosok badannya di area punggung maupun yang lainnya.


Saat itu juga, Razen langsung meraih tangan istrinya. Seketika Venza kaget bukan main, lantaran dirinya tengah melamun.

__ADS_1


"Tidak usah takut, juga gak perlu gemetaran." Ucap Razen yang merasakan gerak tangan istrinya seperti gemetaran.


"I-i-iya. Maaf, jika tidak membuatmu nyaman." Jawab Venza menunduk sambil menggosok lengan suaminya.


Razen yang mendapati istrinya selalu menunduk ketika membantunya mandi, pun tersenyum tipis tanpa sepengetahuan istrinya. Kemudian, Razen mengangkat dagunya dan menatapnya.


Venza semakin gugup dibuatnya. Lebih lagi seumur hidupnya belum pernah dalam satu ruangan bersama lelaki lain, tentu saja pikirannya entah kemana-mana. Juga tidak dapat dipungkiri, suaminya lelaki normal, begitu juga dengan dirinya sendiri.


"Kamu masih gemetaran rupanya, apa masih takut? kamu gak perlu takut, kita suami istri yang sah. Sudah, gak perlu kamu lanjutkan. Sekarang bersihkan dulu badanku, dan ambilkan aku handuk." Ucap Razen dan melepaskan tangannya.


Venza yang semakin gugup saat napas hangat dari suaminya dapat ia rasakan, membuatnya tidak karuan.


Tidak ingin selalu mendapat teguran dari suaminya, dengan cekatan si Venza melakukan tugasnya dalam merawat suaminya.


Setelah itu, Venza membantu suaminya mengenakan pakaiannya dan juga menyisir rambutnya.


"Kapan adikmu akan menikah? aku dengar bentar lagi, benarkah?"


"Aku gak tahu. Kenapa kamu bertanya seperti itu padaku? memangnya kamu tahu dari siapa?"


"Tadi aku menerima panggilan telepon dari ayahmu, katanya satu minggu lagi adikmu menikah. Habisnya tadi kamu ambil minum saja lama banget, akhirnya aku yang menerima telepon dari ayahmu. Aku kira kamu sudah tahu dari awal, rupanya belum." Jawab Razen.

__ADS_1


"Terus, ayahku bilang apa saja?"


"Tidak bilang apa-apa, hanya meminta kita untuk pulang ke kampung halaman mu, itu saja."


"Pulang?"


"Ya, pulang, memangnya kemana?"


"Aku malas menghadiri acara pernikahannya Ersa, untuk apa? dia kan anak emas, palingan juga mau pamer kalau suaminya orang tajir, tampan, sempurna."


"Oh, jadi kamu malu mempunyai suami seperti ku yang ca_cat ini? yang gak bisa berjalan? yang selalu menyusahkan istrinya? baiklah, menikah saja dengan Gilang, dia lebih sempurna. Juga, pernah bilang akan menikahi gadis pemilik gelang mu itu." Ucap Razen yang langsung menyambar sisir di tangan istrinya, dan meletakkannya dengan kasar.


BRAK!


Seketika, Venza serasa jantungan ketika suaminya meletakkan sisir rambut dengan cara menggebrak meja. Kemudian, Razen mendongak dan menatap tajam ketika menatap wajah istrinya.


"Bukan itu maksud aku, kamu jangan salah paham dulu. Aku menikah tidak memandang siapa calon suami ku, sekalipun dia tidak sempurna. Aku hanya merasa bosan dengan kata hinaan yang sering dilontarkan oleh saudara tiriku, bukan tidak menerimamu." Jawab Venza yang merasa salah dengan ucapannya.


Razen hanya mendengus kesal saat istrinya menjelaskan, dirinya masih merasa sakit hati dengan ucapan istrinya.


"Aku minta maaf jika sudah membuatmu marah, dan juga kesal. Dengan jujur, aku tidak ada niat apapun untuk menyinggung perasaan mu. Kalaupun aku mencari lelaki yang sempurna, aku sudah melarikan diri dari pernikahan. Mungkin juga, aku menolak mentah-mentah disaat acara pernikahan dimulai, bahkan aku memilih menikah dengan lelaki yang lain."

__ADS_1


Razen masih diam, bingung harus berkata apa. Mau mengatakan cinta? cemburu? tentu saja dia selalu mempertimbangkan ucapannya sebelum terlontar begitu saja lewat mulutnya.


__ADS_2