Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Kedatangan tamu


__ADS_3

Cukup lama menunggu, Venza membersihkan meja yang ada di kamar saudara sepupunya.


Razen yang bosan harus duduk di tempat tidur, akhirnya mecoba untuk bangkit meski dengan susah payah. Pelan-pelan saat menggunakan alat penyangga, Razen akhirnya bisa melakukannya dan berdiri tanpa bantuan istrinya.


"Aku bisa berdiri. Ya, aku bisa." Gumamnya saat dirinya mampu berdiri sendiri dengan bantuan alat penyangga.


Venza sendiri yang tengah sibuk membereskan meja, tidak mengetahui jika suami tengah berdiri dengan susah payah.


Setelah itu, Razen mencoba untuk mengangkat kakinya dan melangkah mendekati istrinya.


'Aku harus bisa, dan aku tidak boleh lemah dari ucapan setiap orang mengejekku. Juga, aku tidak akan membiarkan istriku terus dihina.' Batin Razen mencoba untuk menyemangati diri sendiri.


Saat dirinya mampu melangkah walau dengan penuh kesulitan, sebisa mungkin untuk tidak jatuh.


Venza pun terkejut saat melihat suaminya yang sudah berdiri di hadapannya.


"Kamu sudah bisa jalan, benarkah?" tanya Venza seperti mimpi saat suaminya mampu berjalan walau hanya menggunakan alat bantu.


Razen tersenyum mengembang saat menatap istrinya.


"Benar, aku sudah bisa jalan. Aku akan buktikan bahwa aku suami kamu yang tidak bisa diremehkan, aku akan sembuh." Jawab Razen dengan senyum merekah.

__ADS_1


Venza tersenyum lebar saat mendengar perkataan suaminya. Dengan beraninya, Razen merentangkan tangan kirinya yakni untuk memeluk istrinya.


Venza yang melihat suaminya merentangkan tangan kirinya, pun langsung mendekat dan menerima pelukan dari suaminya.


Kemudian, Razen memejamkan kedua matanya dan menghembuskan napasnya pelan.


"Terima kasih, kamu begitu sabar menjadi istriku, juga sudah merawat suami kamu ini dengan tulus. Aku berjanji, ketika aku sembuh nanti, aku akan selalu menjagamu. Juga, aku tidak akan membiarkan kamu untuk disakiti oleh siapapun." Ucap Razen sambil mengusap punggung istrinya.


Venza melepaskan pelukan dari suaminya, dan menatapnya dengan lekat.


"Semoga kamu segera sembuh, dan kembali berjalan seperti dulu. Terima kasih sudah mempercayakan aku untuk menjadi istrimu." Jawab Venza dan tersenyum mengembang.


Saat itu juga, keduanya dikagetkan dengan suara ketukan pintu.


"Aku buka dulu pintunya," ucap Venza dan segera membuka pintunya.


"Pak Erik, ada apa, Pak?" tanya Venza.


"Itu, Non, orang yang mau menerapi sudah datang." Jawab pak Erik.


"Ya, Pak. Katakan pada orangnya suruh menunggu sebentar." Ucap Venza.

__ADS_1


"Baik, Nona, permisi." Jawab pak Erik dan bergegas menemui seseorang yang sedang menunggu.


Sedangkan Venza mendekati suaminya.


"Orangnya sudah datang, ayo kita temui." Ucap Venza kepada suaminya.


Razen yang mengerti maksud dari istrinya, pun mengangguk dan segera keluar dari kamar untuk menemui seorang terapi yang telah datang.


Ketika sudah berada di ruang tamu, Venza dan Razen segera duduk. Dengan hati-hati Venza membantu suaminya untuk duduk.


Setelah itu, Venza memperkenalkan suaminya kepada seorang terapi. Selesai memperkenalkan diri, Venza menjelaskan tujuannya untuk kesembuhan suaminya. Begitu juga dengan Razen yang menceritakan awal muka dirinya tidak bisa untuk berjalan, juga sudah berapa lamanya dengan kondisinya yang tidak bisa berjalan.


Ketika semuanya sudah diceritakan, barulah seorang terapi mendapat keluhan dari pasiennya. Kemudian, pelan-pelan mencoba untuk memegangi kakinya yang sakit, juga hal lainnya yang tengah dirasakannya.


"Untung saja belum terlanjur lama, dan ini juga hampir saja kaku. Kalau sampai tidak bisa untuk digerakkan, bisa saja terjadi fatal akibatnya." Ucapnya.


"Terus, apa yang harus dilakukan agar suami saya bisa berjalan lagi, Pak?" tanya Venza penasaran.


"Tetap dilakukan terapi dengan rutin, juga minum obat herbal. Saya akan terus datang ke sini untuk membantunya terapi, tapi cukup lama waktunya, bagaimana? bisa saja memakan waktu satu bulan, dua bulan, bahkan bisa lebih. Kalau lebih dari satu tahun, saya bisa katakan usaha saya gagal. Tapi apa salahnya jika untuk mencobanya." Jawabnya memberi penjelasan.


Venza dan Razen saling menatap satu sama lain, yakni untuk memberi keputusan.

__ADS_1


__ADS_2