Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Siap untuk terapi


__ADS_3

Razen tidak menjawabnya dan memilih nurut apa kata istri. Venza yang tidak ingin ada keributan antara saudara tiri dengan suaminya, mengajak suaminya untuk kembali ke kamarnya.


Sampainya di kamar, Venza membantu suaminya duduk di kursi roda.


"Hatimu itu sebenarnya terbuat dari apa? sampai-sampai kamu tidak merasa bosan dengan sikap saudara tiri kamu itu."


Venza tersenyum mendengar pertanyaan dari suaminya.


"Aku sendiri tidak tahu hatiku ini terbuat dari apa, tapi yang jelas, aku pun mempunyai batas kesabaran, termasuk menghadapi sikap suamiku sendiri. Hanya kamu yang mampu mempertahankan aku untuk menjadi istrimu, kalau kamu sendiri tidak mampu, apalah dayaku." Jawab Venza sambil mengemasi barang-barang miliknya dan milik suami untuk dipindahkan kembali ke dalam koper.


Razen langsung menyeringai sambil menatap istrinya, lalu membuang muka.


"Aku tidak akan mempertahankan kamu, juga tidak akan memaksa kamu untuk menjadi istriku. Aku akan bertahan jika kamu akan tetap bersamaku. Kalau kamu saja tidak mau bertahan, untuk apa aku mempertahankan kamu." Ucap Razen mengembalikan ucapan istrinya dengan sengaja mengerjai istrinya.


"Hem, terserah kamu. Oh ya, kamu tunggu aja disini, aku mau memanggil Bi Darmi sama pak Erik dulu."


"Ya, cepetan."


Venza langsung bergegas keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan pak Erik, juga Bi Darmi.


"Pak Erik, tunggu." Panggil Venza saat melihat pak Erik yang hendak keluar rumah.


"Ya, Non, ada apa?"


"Ini Pak, tolong saya untuk membawakan koper kami ke rumah Bi Darmi. Terus, sekalian panggilkan Bi Darmi kalau kami mau pindah tempat." Jawab Venza.


"Oh. Baik, Nona."

__ADS_1


Setelah itu, Venza segera kembali ke kamarnya.


"Venza, kok buru-buru, ada apa, Nak?"


"Itu, Pa. Venza sama suami mau pindah ke rumahnya Bi Darmi. Soalnya suaminya Venza mau terapi kaki, jadi harus mencari tempat yang kiranya sepi. Tidak apa-apa 'kan, Pa?"


"Bilang aja kalau kamu itu malu punya suami lumpuh, ya 'kan?"


"Mama, tidak baik bicara seperti itu sama Venza. Suami Venza lumpuh juga pilihan Mama, bukankah Mama yang meminta Papa untuk menikahkan Venza dengan Razendra?"


"Ya sih, tapi ya sudahlah, mungkin jodohnya Venza lelaki tidak sempurna." Jawab ibu tirinya Venza dengan entengnya.


Sang ayah sendiri yang mendengarnya, merasa menyesal ketika putrinya dijadikan umpan oleh istri keduanya.


'Kalau saja bukan karena membalas budi, aku tidak sudi menikahi mu, aku pasti sudah menceraikan kamu, Melani.' Batin ayahnya Venza dengan geram.


"Ya udah ya, Pa, Venza mau siap-siap dulu. Soalnya pagi ini mau Venza pertemukan dengan tukang terapinya." Ucap Venza berpamitan, sang ayah pun mengangguk dan mengiyakan.


Venza yang mendapat semangat dari ayahnya, pun tersenyum.


"Makasih ya, Pa. Kalau gitu Venza pamit mau langsung ke rumah Bi Darmi." Jawab Venza dan bergegas kembali ke kamar.


Sedangkan ibu tirinya hanya menyaksikannya dengan ekspresi tidak suka.


Venza yang mendapat izin untuk tinggal di rumah Bi Darmi, pun merasa senang karena tidak melulu mendapat omongan dari ibu tiri maupun saudara tirinya.


Dengan hati-hati saat mendorong kursi roda sampai di rumah Bi Darmi, Venza sama sekali tidak merasa terbebani ketika merawat suaminya yang mempunyai keterbatasan untuk berjalan.

__ADS_1


'Aku kira tidak ada wanita sebaik Venza yang mau merawat suaminya dengan tulus, dan ternyata wanita itu adalah istriku sendiri. Aku beruntung dengan kondisiku yang seperti ini, karena aku bisa mengetahui wanita tulus dan modus.' Batin Razen yang tengah didorong istrinya dengan menggunakan kursi roda.


Sampainya di rumah Bi Darmi, Venza membantu suaminya untuk pindah ke tempat tidur, yakni untuk tidak ketergantungan kursi roda.


"Bi, beneran nih, nanti orang mau menerapi akan datang ke rumah Bibi?" tanya Venza yang sudah tidak sabar untuk bertemu.


"Ya, semalam Bibi sudah datang ke rumahnya, dan katanya nanti sekitar jam sepuluh mau datang. Jadi, Tuan Razen harus siapkan diri dengan baik. Takutnya nanti takut, ataupun was-was."


"Ya, Bi, tenang saja. Saya tidak akan takut, yang terpenting saya berusaha untuk melakukan cara agar kaki ini sembuh, Bi."


"Semoga ya, Tuan. Bibi doakan, semoga kedatangan Tuan ke kampung halamannya Bibi, Tuan mendapat kesembuhan dan bisa jalan lagi."


"Ya, Bi, semoga. Makasih ya, Bi."


"Makasih apanya ya, Tuan?"


"Sudah memper- gak jadi, besok saja."


"Ngomong aja juga gak apa-apa kok, Tuan."


"Lain kali aja, Bi."


"Hem." Venza ikut menyahut, meski hanya berdehem.


Razen tersenyum tipis ketika melihat ekspresi istrinya.


"Ya udah ya, Bibi mau lanjutin kerjaan Bibi. Soalnya besoknya sudah hari hajatannya Nak Ersa, Bibi harus bantu bantu untuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk hari pernikahan." Ucap Bi Darmi berpamitan.

__ADS_1


Razen mengangguk.


Setelah Bi Darmi pergi, kini tinggal Venza dan Razen yang ada di rumahnya Bi Darmi. Sedangkan pak Erik tengah duduk di teras untuk menjaga keamanan majikannya.


__ADS_2