Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Kaget dengan kenyataan


__ADS_3

Ersa yang mendapat makian dari seorang perempuan yang didengar tengah hamil anaknya Ardiando, sungguh diluar dugaan. Begitu juga dengan ibunya yang sama shock seperti Ersa, benar-benar tidak pernah menyangkal jika menantunya adalah seorang pembohong besar.


Ersa yang mengetahui kebenarannya, pun langsung pingsan saat itu juga.


"Ersa! Ersa putriku! Ersa! bangun, Nak. Ersa! bangun."


Ibunya terus memanggil putrinya sambil mengguncangkan tubuhnya, dan berharap sadarkan diri. Namun tetap saja, Ersa masih belum sadarkan diri.


Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Ersa dilarikan ke rumah sakit. Sedangkan pesta pernikahan untuk sementara diganti oleh sosok Venza dengan Razen demi menutupi malunya.


"Pa, apa ini tidak berlebihan? kasihan Ersa, Pa."


Venza berusaha untuk menolak. Mau bagaimanapun, Venza tidak ingin berbahagia di atas penderitaan saudara tirinya.


"Ya, Pa, kami tidak bisa melakukannya." Timpal Razen yang juga tidak enak hati ketika harus menjadi pengganti bersama istrinya.


"Kalau sampai tidak ada pengantinnya, Papa yang malu. Anggap saja, hari ini hari pernikahan kalian. Ayolah tolong Papa, kamu harus menggantikan posisinya Ersa." Jawab sang ayah, Venza menoleh ke arah suaminya yang seolah meminta persetujuan.


Razen yang tidak mempunyai pilihan lain dan dengan terpaksa mengganti posisi bersama sang istri.

__ADS_1


Ada rasa sedih untuk Venza, itu sudah pasti. Pernikahannya saja tidak semegah miliknya, melainkan lebih penuh perhatian ke Ersa dari pada Venza sendiri.


"Baiklah kalau Papa menginginkan kita berdua untuk menjadi pengganti, kita berdua bersedia." Jawab Razen yang akhirnya menerima permintaan ayah mertuanya.


"Kamu serius?" tanya Venza.


Razen mengangguk.


"Ya, sayang, aku serius. Mau bagaimanapun, ini acara milik orang tua kamu. Jadi, jangan menolak." Jawab Razen memberi nasehat kecil kepada istrinya.


Venza yang mendapat persetujuan dari sang suami, pun tidak bisa menolak.


"Baiklah, aku akan menyetujuinya." Ucap Venza yang akhirnya ikut menerima permintaan sang ayah.


Sedangkan di rumah sakit, Ersa tengah dilakukan pemeriksaan. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter pun keluar.


"Bagaimana kondisi putri saya, Dok?" tanya ibunya Ersa penuh khawatir dengan kondisi putrinya.


Takut, jika Ersa akan depresi karena telah menerima kenyataan pahitnya.

__ADS_1


"Mari ikut saya, Nyonya." Jawab Sang Dokter mengajak ibunya Ersa masuk ke dalam.


"Baik, Dok."


Setelah itu, ibunya Ersa bersama sang dokter segera masuk ke dalam ruangan kecil, juga terasa sempit.


Ketika sudah berada di dalam ruangan khusus, ibunya Ersa langsung mendekat putrinya.


"Ersa! bangun, Nak, bangun. Ersa anakku, Ersa! ini Mama, sayang." Panggil ibunya berulang-ulang dan berharap putrinya baik-baik saja kondisinya.


Seketika, Ersa terbangun dari pingsannya, dan langsung memeluk ibunya.


"Ma! Ersa takut." Ucap Ersa dengan gugup, juga was was.


"Kamu tidak perlu takut, sayang. Semuanya baik-baik saja, percayalah sama Mama." Jawab ibunya yang berusaha untuk menenangkan hatinya.


"Bagaimana kondisi putri saya yang sebenarnya, Dok? tolong, jangan sampai putri saya menjadi kusam."


"Selamat ya, Nyonya. Putri Nyonya si Nona Ersa tengah hamil, usia kandungannya memasuki empat bulan.

__ADS_1


"Enggak! enggak, Ma. Ersa gak mau anak ini lahir, Ma. Juga, Ersa gak ingin hamil." Sahut Eesa dengan geram.


Ersa yang tidak ingin menerima kehadirannya janin yang ada didalam rahimnya, berkali-kali menyiksa dirinya sendiri.


__ADS_2