
Setelah pulang dari warung, Venza bersama suaminya pergi ke rumahnya Ibu Restum karena sudah janji untuk datang ke rumahnya.
Sambil menikmati angin sepoi sepoi dibawah pohon pohon yang begitu rindang saat hendak ke rumah ibu Restum, Razen merasa sangat berbeda dengan suasana di kota. Tentu saja lebih adem dan tidak bising dari suara kendaraan.
"Ternyata tempatnya adem juga ya, keknya suasananya damai." Ucap Razen sambil menikmati pemandangan selama menuju rumah ibu Restum.
"Ya, namanya juga di desa, suasana masih asri dan juga tidak banyak polusinya." Jawab Venza sambil mendorong kursi rodanya, dan tidak terasa sudah sampai di halaman rumahnya ibu Restum dan Pak Tejo.
"Ah ya, aku sampai lupa tadi, alat untuk penyangga badan kamu ketinggalan, tadi aku lupa membawanya." Ucap Venza saat teringat jika suaminya sudah bisa menggunakan alat penyangga.
"Tidak apa-apa, jugaan rumah Ibu Restum tidak ada yang susah untuk dilewati kursi roda." Jawabnya.
"Ya juga sih, soalnya rumahnya masih model jaman dulu, jadi mudah untuk dilewati kursi roda." Ucap Venza yang masih berada di depan rumah.
Ibu Restum yang seperti mendengar suara yang tidak asing di telinganya, langsung keluar untuk melihatnya.
"Nak Venza, Nak Razen, sudah datang kalian, Nak? ayo masuk, Ibu sama Bapak udah menunggu dari tadi loh, ayo." Ucap ibu Restum dengan ramah dan langsung mengajak Venza dan Razen untuk segera masuk ke rumahnya.
Saat sudah berada di dalam, sepasang matanya Razen telah mengamati isi dalam ruangan tersebut.
'Meski usianya sudah tidak lagi muda, ternyata beliau sangat rajin. Meski dengan rumah yang sangat sederhana, namun pemiliknya sangat rajin untuk merawat rumah yang sudah tua ini.' Batin Razen yang begitu kagum dengan pemilik rumah.
__ADS_1
"Perkenalkan, ini suami Ibu, namanya Pak Tejo." Ucap Ibu Restum memperkenalkan suaminya dihadapan Razendra.
"Saya Razen, Pak."
"Salam kenal ya, cah bagus. Maaf ya, rumah Bapak seperti ini, sudah tua rumahnya, sama seperti Bapak. Oh ya, mau minum apa, teh, kopi, atau wedang jahe."
"Tidak usah repot-repot, Pak." Jawab Razen berusaha untuk bersikap ramah.
"Maaf, Bu. Venza gak bisa lama-lama, takutnya nanti Papa nyariin. Tidak apa-apa 'kan, Bu?"
"Ya, tidak apa-apa. Oh ya, tadi 'kan ibu sudah nawarin kamu buah mangga. Bagaimana kalau kita metik dulu, atau gak, kamu disini aja, nanti biar Bapak sama ibu yang ambil buah mangganya di belakang rumah."
"Enggak enggak, Bu. Venza ikut, juga mau ngenalin suami sama suasana di belakang rumah Ibu Restum."
"Ya, Bu." Jawab Venza dan langsung mendorong kursi rodanya lewat samping rumahnya ibu Restum.
Saat sudah berada di belakang rumah, Venza maupun Razen dibuatnya terkejut saat melihat semua pohon mangga miliknya ibu Restum dan pak Tejo berbuah sangat lebat, tentu saja membuat jiwa suka manjat dari sosok Venza meronta ronta karena ingin memanjat pohon mangganya.
"Bu, Venza manjat ya, kangen soalnya, udah lama gak panjat pohon mangganya Ibu Restum." Ucap Venza yang sudah keluar jiwa manjat pohonnya yang meronta ronta.
Razen yang mendapati tingkah aneh dari istrinya, pun langsung melotot saat istrinya meminta izin untuk memanjat pohon mangga.
__ADS_1
"Enggak enggak enggak, aku enggak izinin kamu manjat. Kamu ini gimana sih, kamu itu perempuan, gak pantas manjat pohon. Nanti kalau kamu jatuh gimana? suami kamu ini sudah tidak bisa jalan, jadi jangan ikut ikutan tidak bisa jalan, siapa nanti yang mau merawat suami kami ini? hem."
Venza nyengir kuda ketika suaminya melarang untuk memanjat pohon mangga.
"Tenang aja, aku udah ahlinya. Percayakan saja sama istrimu ini, oke my husband." Jawab Venza dengan percaya dirinya, juga sambil menepuk bagian dadanya yang seolah baik-baik saja.
"Enggak, aku enggak izinin kamu manjat pohon. 'Kan ada kayu itu, ngapain pakai manjat segala. Sekali enggak, tetap aja enggak aku izinin, titik." Ucap Razen yang tetap bersikukuh.
Venza pun juga begitu, sama saja tetap bersikukuh memanjat pohon mangga. Razen yang sudah pasrah, akhirnya tidak bisa melarang istrinya.
"Kalau suami udah ngelarang, jangan ngeyel." Ucap Ibu Restum ikut menimpali, tetap saja si Venza bandel dan nekad untuk manjat pohon mangga.
Karena sama sekali tidak bisa dibujuk, akhirnya membiarkan Venza manjat pohon mangga. Sampai di atas pohon, dengan girangnya Venza memetik buah mangga begitu banyak.
Namun, siapa sangka jika yang diinjak ternyata tidak bisa menahan berat badannya. Nahas, kayu yang diinjak Venza rupanya patah.
"Aaaaaaa!" teriak Venza yang sudah bergelantungan dengan tangan yang satu, sedangkan tangan yang satunya lepas.
Razen yang begitu terkejut dengan istrinya yang sudah menggelantung dengan tangan satu, membuat Razen serasa jantungnya mau copot.
Nahas, tangan Venza tidak mampu menahannya dan akhirnya tangannya lepas begitu saja.
__ADS_1
"Aaaaaaa!" teriak Venza sangat melengking.
Entah seperti mendapat keajaiban dari mana, tiba-tiba Razen langsung berdiri dengan reflek dan langsung menangkap tubuh istrinya yang jatuh dari pohon mangga.