Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Ejekan


__ADS_3

Selesai menyiapkan makan malam bersama Bi Darmi, Venza segera masuk ke kamarnya untuk mengajak suaminya makan malam bersama keluarganya, juga Pak Erik sebagai orang kepercayaan keluarga Pratama yang diperintahkan untuk mengawasi Razendra Pratama ikut sarapan pagi bersama keluarga majikannya.


“Dari mana saja, kamu? sampai-sampai lupa dengan suami kamu sendiri."


Dengan ketus, Razen sedikit marah dengan istrinya, lantaran dirinya serasa diabaikan di rumah mertuanya.


Venza yang mendengar ucapan dari suaminya yang kedengaran kesal, justru tersenyum melihat ekspresinya.


"Maaf, tadi aku sedang membantu Bi Darmi menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga. Juga, sekalian mau mengajak kamu untuk sarapan bersama keluargaku. Kalau kamu tidak mau, biar aku ambilkan sarapannya." Jawab Venza, dan berjalan menuju kamar mandi.


"Gak perlu kamu ambilkan, aku akan ikut sarapan pagi bersama anggota keluargamu." Ucap Razen yang masih kedengaran jengkel, sedangkan Venza sendiri tidak meresponnya.


"Baiklah, ayo kita keluar. Oh ya, hampir saja aku lupa. Tadi aku sudah memikirkannya terlebih dahulu. Bahwa aku ada sebuah pilihan untuk kamu, kamu mau?"


"Pilihan, pilihan apa memangnya?" tanya Razen penasaran.

__ADS_1


"Kamu mau tinggal di rumah ini, atau di rumahnya Bi Darmi, gimana?"


"Kalau kamu gak keberatan, aku mau tinggal di rumah Bi Darmi saja. Jugaan, di sini panas, otakku mau meledak rasanya. Apalagi menghadapi ibu mertua kamu, juga saudara tiri kamu itu, benar-benar menyebalkan." Jawab Razen memberi pilihan.


"Ya udah kalau maunya kamu tinggal di rumah Bi Darmi untuk sementara, aku akan meminta pak Erik untuk memindahkan kopernya ke rumahnya Bi Darmi, tapi kita sarapan pagi terlebih dahulu." Ucap Venza.


Setelah memberi tawaran kepada suaminya, pun ada rasa sedikit lega saat semuanya dapat diatasi. Venza yang tidak ada lagi beban yang rumit, langsung segera keluar dari kamarnya bersama sang suami.


Saat tengah berkumpul di ruang makan, semua menikmati sarapan pagi bersama.Satupun tidak ada yang bersuara, hanya suara sendok yang beradu.


"Tidak apa-apa kok, Pak. Setiap daerah atau tempat tinggal pasti mempunyai perbedaan antara yang satu dan yang lainnya." Jawab Razen menikmati sarapan paginya.


"Jangan sungkan sungkan tinggal di rumah kami, ini juga rumah mu. Kalau membutuhkan sesuatu, kamu tinggal bilang saja." Ucap ayah mertua, Razen pun mengangguk.


"Ya, Pa. Terima kasih banyak." Jawab Razen berusaha bersikap santun kepada ayah mertuanya.

__ADS_1


Selesai sarapan semua kembali ke aktivitasnya masing-masing.


"Bisa gak? kalau gak bisa, aku ambilkan kursi rodanya."


Venza yang khawatir dengan suaminya karena belum terbiasa mengenakan alat bantu penyangga, seperti kesulitan untuk melangkahkan kakinya.


"Duh, kasihan sekali suami kamu, Ven. Pasti setiap harinya kamu kecapean ya, sedih sekali menjadi istrinya. Dapat suami orang kaya sih kaya, tapi hidupmu seperti pembantu. Benar-benar kasihan aku melihatmu, duh duh duh...." Ejek Ersa ketika melihat Venza tengah membantu istrinya berjalan menggunakan alat penyangga.


Seketika, Venza langsung menoleh dan menatap tajam pada saudara tirinya.


"Kamu bilang apa tadi tentangku? kasihan, kamu bilang? aku gak butuh kasihan darimu, maupun yang lainnya. Justru aku merasa beruntung mempunyai suami yang jauh lebih baik dari lelaki sempurna lainnya." Sahut Venza dengan berani.


"Sombong! lihat nih aku, punya suami tampan, tajir juga ya."


"Diam! kamu. Aku memang tidak sempurna, bukan berarti istriku yang menjadi cacian dan hinaan lewat mulutmu yang busuk itu." Bentak Razen yang sudah geram dengan Ersa yang begitu kasar atas ucapannya.

__ADS_1


"Sudah, jangan ikutan meladeni Ersa, nanti kamu yang akan terpancing emosinya. Dia memang begitu, ayo kembali ke kamar, kita akan siap-siap pindah ke rumahnya Bi Darmi." Ucap Venza yang tidak ingin suasana menjadi gaduh, pikirnya.


__ADS_2