
Gilang yang sempat melihat kakaknya tengah dilayani oleh istrinya dengan telaten, ada rasa iri ketika Kakaknya begitu beruntung mempunyai istri yang baik dan juga perhatian.
"Mungkinkah aku bisa mempunyai istri seperti kakak ipar? rasanya sangat sulit untuk aku temukan. Kebanyakan wanita sama saja, hanya seribu satu yang seperti istrinya Kak Razen. Aku yakin jika Kak Razen tidak lama lagi bakal jatuh cinta, karena sikap istrinya yang jauh beda dengan mantan kekasihnya." Gumam Gilang saat memperhatikan kakaknya yang tidak lagi sendirian.
Venza yang tengah membereskan mejanya, tanpa disadari jika sedari tadi tengah di perhatikan oleh adik iparnya. Begitu juga dengan Razen sendiri yang tidak menyadarinya.
"Biar Bibi saja yang membereskan mejanya, Tuan dan Nona lebih baik kembali ke kamar. Soalnya ini sudah jam istirahat dan juga jadwalnya Tuan Razen meminum obat." Ucap Bi Darmi yang baru saja datang untuk membereskan meja.
"Tapi Bi,"
"Tidak ada tapi tapian, ini semua sudah menjadi tanggung jawabnya asisten rumah maupun pelayan rumah. Nona dan Tuan segera kembali ke kamar dan beristirahat." Kata Bi Darmi.
Bi Darmi yang tahu sifat keponakannya susah untuk di bilangin, akhirnya jalan satu-satunya yaitu memberi kode padanya.
Venza yang tidak ingin menambah masalah, pun mengiyakan.
"Ayo, antar aku ke kamar. Ini sudah waktunya untuk istirahat, juga waktunya untukku minum obat dengan rutin." Timpal Razen ikut berkomentar.
__ADS_1
Venza hanya mengangguk dan mendorong kursi roda dan bergegas menuju kamar.
Bi Darmi yang melihatnya, pun tersenyum mengembang.
"Mereka berdua sangat serasi, semoga saja keduanya sama-sama jatuh cinta dan mengakui akan perasaannya. Juga, semoga Tuan Razen segera sembuh, biar Venza mendapatkan kebahagiaan yang lebih sempurna dan tidak lagi selalu direndahkan oleh orang orang, termasuk ibu tirinya yang jahat." Gumam Bi Darmi tak lepas mendoakan kebahagiaan untuk keponakannya.
Venza yang baru saja masuk ke kamar, pun membantu suaminya untuk minum obat.
"Ini obatnya diminum, setelah ini istirahat lah." Ucap Venza sambil menuangkan air dalam gelas.
Kemudian, Venza memberikannya pada suami setelah memberinya obat.
"Mau ngapain? mendingan kamu istirahat saja, aku melarang mu untuk melakukan apapun." Jawab Razen dengan suara yang ketus.
Saat itu juga, terdengar suara ketukan pintu kamar.
"Aku mau buka dulu pintunya, tunggu sebentar." Ucap Venza.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya. Itu lihat, nanti pintunya akan terbuka sendiri." Jawab Razen dan meraih remot yang ada di deketnya.
Kemudian, Razen menekan tombol tersebut dan menunjukkannya pada siang istri. Pintu pun terbuka dengan sendirinya.
Saat itu juga, Gilang rupanya yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Masuklah," perintah Razen kepada adiknya.
Dengan membawa sesuatu yang ada ditangannya, Gilang dengan hati-hati mendekati kakaknya, juga kakak iparnya.
"Maaf Kak, jika aku sudah mengganggu jam istirahatnya Kakak. Aku hanya mau ngasih ini kepada Kakak ipar, ini buku-buku untuk kuliah. Juga, ini laptopnya untuk Kakak ipar. Jangan salah tanggap dulu, ini pengiriman dari Mama. Kebetulan juga aku yang menerimanya. Jadi, sekalian aja aku kasihkan ke Kakak ipar." Ucap Gilang sambil menunjukkan sesuatu yang ia bawa.
"Oh, letakan saja di atas meja. Terima kasih sudah membawakan sampai ke kamar. Lain kali kamu cukup pakai telepon rumah, biar istriku yang akan mengambilnya. Mulai besok aku melarang mu untuk masuk ke kamarku, paham." Jawab Razen yang mulai sensitif terhadap adiknya sendiri.
"Baik, aku tidak akan mengulanginya lagi. Kalau begitu, aku permisi Kak Razen, Kakak ipar, permisi." Ucap Gilang berpamitan.
Venza hanya bisa menganggukkan kepalanya, dan tidak berani menjawab, takutnya sang suami akan kembali marah, pikirnya.
__ADS_1
Gilang sendiri dapat memahami jika kakaknya telah dalam fase cemburu akut, pikirnya. Meski itu hanya sebuah tebakan, Gilang dapat menebaknya.