
Razen langsung mematikan laptopnya dan meletakkan di atas nakas. Kemudian kembali menoleh pada istrinya.
"Kenapa bisa begitu, apa karena kamu masih kepikiran yang tadi? soal aku dan Gilang, benarkah?"
Venza langsung menoleh, keduanya saling menatap satu sama lain.
"Selamat malam, aku tidur duluan." Jawab Venza dan langsung hendak berbaring.
Naas, Razen sendiri langsung menahan tangan istrinya yang hendak berbaring.
"Duduklah seperti semula, aku ingin membicarakannya padamu." Perintah Razen meminta istrinya untuk membenarkan posisi duduknya seperti semula.
Saat itu juga, Venza langsung duduk seperti semula.
"Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Venza sambil menatap suaminya.
__ADS_1
"Tadi aku dan Gilang memang membicarakan kamu, yaitu soal gelang yang dia dapatkan." Jawab Razen dan diam sejenak.
"Terus?"
"Aku tidak memaksa kamu untuk menjalani hubungan pernikahan kita ini. Aku tahu, Gilang yang mendapatkan gelang mu itu. Juga, dia pernah berharap untuk memiliki siapa pemilik gelang itu, rupanya kamu pemiliknya." Jawab Razen kembali untuk diam sejenak dan mengatur napasnya.
"Terus apa lagi?" tanya Venza yang masih menatap suami.
"Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, terserah kamu. Aku hanya menyampaikan apa yang pernah diucapkan oleh adikku, itu saja." Jawab Razen, dan memalingkan wajahnya dengan menatap lurus ke depan.
"Awalnya aku memang tidak menginginkan pernikahan ini, karena aku sadar diri kalau aku bukan lelaki sempurna. Aku tahu, kebutuhan seorang istri bukan hanya dalam materi, tetapi perhatian. Sedangkan aku, aku tidak bisa memberi perhatian. Tentu saja, aku banyak minusnya meski aku bisa memberi istriku dengan banyaknya materi." Jawab Razen yang sama sekali tidak menoleh.
"Memangnya sebuah perhatian itu harus lewat kesempurnaan? tidak, 'kan?"
"Aku tidak tahu, karena yang aku tahu butuh fisik yang normal untuk memberi perhatian pada pasangannya. Sedangkan aku apa? yang ada aku hanya menjadi beban dan selalu merepotkan. Untuk berdiri saja aku masih kesulitan, apa lagi untuk berjalan."
__ADS_1
"Jalani saja hubungan pernikahan kita ini bagai air tenang yang mengalir, karena aku tidak memaksa kamu untuk menjadi sempurna bisa berjalan. Aku juga butuh belajar bagaimana caranya menghormati suami dengan keadaan seperti apapun itu."
"Jadi?"
"Aku tidak peduli siapa yang sudah menemukan gelangku, dan aku hanya bisa mengucapkan terimakasih pada seseorang yang sudah menemukannya. Karena jodoh itu bukan dari yang kita inginkan, tetapi jodoh itu kejutan yang tidak pernah kita sangka." Jawab Venza dan tersenyum tipis pada suaminya.
Razen yang mendengarnya, pun seperti tidak percaya.
"Sudah malam, lebih baik kita istirahat. Soalnya besok kita akan bersiap-siap berangkat ke kampung halaman ku, agar kita tidak kecapean saat menghadiri acara pernikahan saudara tiri ku. Tenang saja, ada Bi Darmi yang akan ikut pulang bersama kita." Ucap Venza dan langsung berbaring.
Razen tersenyum mendengar ucapan dari istrinya, setidaknya dirinya ada kesempatan untuk mendekati istrinya.
Dengan perasaannya yang lega, akhirnya Razen bisa tidur dengan tenang. Meski keduanya masih sama-sama terasa canggung, dan belum seakrab hubungan pertemanan, setidaknya dirinya tidak merasa harus bersaing dengan adik laki-lakinya sendiri.
Begitu juga dengan Venza, sama halnya merasa tenang karena tidak menjadi bahan kecurigaan suaminya sendiri.
__ADS_1
Venza yang tidak ingin bangun kesiangan, langsung memejamkan kedua matanya agar terlelap dari tidurnya.