
Tidak lama kemudian, akhirnya sampai juga dihalaman rumah.
Nandini yang tengah membantu kakak iparnya turun dari mobil, Gilang pun sama halnya membantu kakaknya untuk turun dari mobil dengan sangat hati-hati untuk duduk di kursi rodanya.
Venza yang melihat kondisi suaminya yang sangat memprihatinkan, merasa kasihan. Namun apa dayanya, dirinya sendiri juga kesulitan berjalan karena baju pengantinnya.
Sampainya di dalam rumah, tepatnya di ruang tamu. Saat itu juga kedua orang tuanya Venza langsung berpamitan pulang dengan alasan ada hal penting mengenai pernikahan saudara tirinya Venza.
Tuan Garen dan istrinya yang tidak mungkin memaksa untuk tinggal semalam pun, tidak mempunyai hak atas kemauannya yang ingin buru-buru pulang dengan alasan yang penting.
"Tunggu sebentar, asisten saya sedang mengambilkan sesuatu." Ucap ayah mertuanya Venza.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, seseorang yang sudah diperintahkan segera datang membawa sesuatu sebagai bingkisan berharga untuk kedua orang tuanya Venza.
"Ini bingkisan spesial untuk kalian, semoga menyukainya." Ucap Tuan Garen sambil menyodorkan sesuatu yang terbungkus rapi kepada ayahnya Venza.
"Terima kasih banyak, Tuan. Maaf, jika hadirnya putri kami berada dalam rumah ini tengah membuat keluarga Tuan tidak nyaman. Saya titipkan Venza kepada Tuan dan Nyonya. Jika berbuat salah, saya tidak melarang untuk memberi nasehat atau pelajaran padanya. Saya serahkan semuanya pada Tuan." Jawab ayahnya Venza.
Sedangkan Venza tengah duduk bersebelahan dengan adik iparnya. Berbeda dengan Raden, yang sudah masuk ke kamarnya lebih dulu bersama Gilang adiknya.
"Kami pasti akan bertanggung jawab atas putri kalian. Venza sudah menjadi bagian keluarga kami, dan kami akan berusaha membuatnya bahagia dan tidak akan membebaninya." Ucap Tuan Garen meyakinkan.
Tidak ada pilihan lain selain doa yang baik untuk dirinya, juga untuk suaminya.
__ADS_1
Setelah tidak ada yang dibicarakan, ayahnya Venza maupun ibu tirinya bergegas untuk berpamitan. Kemudian, mereka semua bangkit dari posisinya.
Ingin rasanya menangis, namun tidak kuasa untuk ia lakukan ketika harus berpisah dengan ayahnya. Meskipun pernah memaksa untuk menikah, tetap ada rasa penyesalan setelah melihat putrinya menikah dengan lelaki yang bukan pilihannya.
"Papa pamit pulang, jaga diri kamu baik-baik di rumah ini. Jika ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman atau ada masalah, hubungi Papa. Jangan kamu pendam sendiri, bisa juga untuk berkeluh kesah dengan Bi Darmi. Papa hanya bisa mendoakan kamu dari kejauhan, semoga kamu bahagia bersama suami kamu. Juga, semoga suami kamu segera sembuh." Ucap ayahnya di hadapan putrinya.
Venza tidak dapat memungkirinya dan akhirnya meneteskan air mata perpisahan dengan ayahnya.
"Darmi, aku titipkan Venza sama kamu." Ucap ayahnya Venza pada adik perempuannya yang bekerja sebagai asisten di rumah besannya.
"Ya Bang, aku akan menjaga Venza dengan baik. Abang tidak perlu khawatir." Jawab Bi Darmi.
__ADS_1
Kemudian, ibu tirinya yang jago akting pun dengan pura-pura bersedih di hadapan anak tirinya. Juga, seolah-olah kehilangan anak tirinya.
Tuan Garen dan istrinya yang dapat menangkap ekspresi dari ibu tirinya Venza, pun tidak begitu mempercayainya. Secara sudah mengetahui lewat obrolan berada di dalam mobil selama dalam perjalanan menuju kota.