
Setelah cukup untuk bicara, Venza membantu suaminya menggunakan alat bantu untuk jalan.
"Hati-hati, jangan kamu paksakan jika kamu merasa sakit pada kakimu." Ucap Venza pada suaminya.
"Aku tidak merasa sakit, kaki kiri masih bisa untuk menahannya. Lepaskan tanganmu, aku mau mencobanya. Aku cukup awasi aku." Jawab Razen meminta istrinya untuk tidak membantunya.
"Kamu serius, ya udah aku akan mengawasi kamu." Ucap Venza sambil berjaga-jaga, takutnya sang suami akan jatuh.
Razen yang tengah konsentrasi dengan langkah kakinya yang teramat sulit, tetap berusaha untuk bisa melangkah meski sangatlah lamban.
Sedangkan di bawah pohon mangga, ada sosok Gilang yang tengah memperhatikan kakaknya yang sedang dibantu latihan berjalan menggunakan alat penyangga.
"Beruntung sekali Kak Razen, mempunyai istri yang begitu perhatian. Sungguh aku iri melihatnya, andai saja aku bernasib sebaik Kak Razen, tentu saja aku akan bahagia." Gumamnya sambil memperhatikan kakak laki-lakinya dan kakak iparnya.
"Kamu kenapa, Nak? apakah kamu ingin segera menikah?" tanya ibunya mengagetkan Gilang yang tengah asik memperhatikan sepasang suami-istri.
Gilang langsung menoleh pada ibunya.
"Mama, ngagetin aja."
__ADS_1
"Kalau kamu sudah ada calonnya, kenalkan sama Mama." Ucap ibunya.
Gilang tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Gilang belum punya calon, Ma. Gilang juga gak tahu, kapan anaknya Mama ini akan menikah." Jawab Gilang.
"Itu apa yang ditangan kamu?" tanya ibunya saat melihat ada sesuatu yang ada ditangan putranya.
"Oh, ini Gelang punya seseorang. Tapi, Gilang gak tahu orangnya, Ma. Soalnya waktu dulu itu sama-sama pakai masker, Gilang gak sengaja menabrak, dan gelangnya nyangkut di kancing baju Gilang." Jawab Gilang menjelaskan.
"Jangan-jangan kamu sedang menunggu pemiliknya. Coba sini Mama lihat, keknya cantik banget gelangnya." Kata ibunya meminta gelang yang ada pada putranya.
Dengan fokus, melihatnya dengan cara diangkat ke atas. Tentu saja, dapat dilihat sangat jelas.
"Gelangnya sangat cantik, dan ini juga cukup berkelas. Mama doakan semoga pemiliknya segera dipertemukan denganmu, juga belum bersuami." Ucap ibunya sedikit meledek.
"Mama ada-ada saja, udah kek cerita-cerita di novel aja Mama ini." Jawab Razen sambil menerimanya kembali gelangnya.
"Namanya jodoh kita gak pernah tahu, termasuk istri untuk kakak kamu. Lihatlah, mereka sangat serasi. Juga, terlihat jelas kalau Venza sangat tulus merawat kakak kamu." Ucap ibunya sambil menunjuk pada Razen dan Venza.
__ADS_1
"Ya Ma, mereka sangat serasi. Beruntung sekali ya Ma, Kak Razen punya istri baik gitu. Sangat berbeda sifatnya dengan Leoni, untung saja gagal pernikahannya."
"Hus. Gak baik bicara seperti, mungkin kakak kamu memang tidak berjodoh dengan Leoni. Jadi, berprasangka baik saja. Ya udah yuk kita masuk, biarin kakak kamu ditemani istrinya." Ucap ibunya dan mengajaknya untuk masuk ke rumah.
"Ya, Ma." Jawab Gilang dan segera masuk kedalam rumah bersama ibunya.
Sedangkan Venza masih dengan kesabarannya membantu sang suami belajar berjalan meski hanya menggunakan alat penyangga.
"Kita istirahat dulu, nanti kita lanjutkan lagi kalau masih bersedia." Ucap Venza mengajak suaminya untuk istirahat.
"Ya, nanti kalau aku berminat. Sekarang ini aku mau istirahat sebentar." Jawab Razen.
"Baiklah, aku akan ambil air minum dulu di dapur. Kamu tunggu saja di sini." Ucap Venza, Razen hanya mengangguk.
"Oh ya, sekalian buahnya." Pinta Razen kepada istrinya untuk ambilkan buah.
"Baiklah, tunggu sebentar." Jawab Venza dan bergegas untuk mengambilkan buah dan air minum.
"Aw! maaf, maaf banget. Maaf, aku benar-benar tidak sengaja." Pekik Venza dan meminta maaf saat dirinya menabrak adik iparnya tanpa sengaja saat mau masuk ke dapur.
__ADS_1