
Melani yang statusnya sebagai ibu tirinya Venza, langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri adik dari suaminya.
"Darmi, akhirnya kamu datang juga. Mbak kira kamu gak akan datang, hampir was was sih tadi. Tapi sekarang udah lega, soalnya kamu sudah datang tepat waktu. Ya udah yuk, ayo kita sarapan bareng. Kebetulan kami sekeluarga sedang sarapan, ayo ikut kami sarapan."
"Makasih banyak Mbak, tadi saya sudah sarapan bareng supirnya majikan di warung makan. Jugaan saya gak bisa lama-lama disini, soalnya majikan meminta saya untuk tidak berlama-lama menjemput Venza, sekaligus Bang Hantoro diminta untuk ikut andil menikahkan Venza, dan juga penyerahan uang tunainya." Jawab Bi Darmi yang juga memperjelas pesan dari majikan laki-lakinya.
"Ya sudah kalau begitu, kita akan segera bersiap-siap." Kata ayahnya Venza.
Ersa yang sempat mendengar obrolan, dirinya langsung ikut menimbrung.
"Kita mau ke kota nih, Ma?"
"Kamu di rumah saja, pernikahan Venza hanya sederhana. Jadi, percuma juga jika mau ikut, yang ada nanti kamu akan capek. Mendingan kamu di rumah aja, nanti Mama bawakan uang banyak untuk kamu. Sudah sana lanjutin sarapan mu." Jawab ibunya yang melarang putrinya ikut.
Venza yang dapat menangkap ucapan dari ibu tirinya, pun terasa geram dan juga kesal.
__ADS_1
"Sudah jangan emosi, kamu akan aman bersama Bibi." Ucap Bi Darmi berbisik yang berusaha menahan keponakannya itu.
Setelah itu, Venza maupun orang tuanya segera bersiap-siap. Bi Darmi yang tidak lupa membawakan baju ganti untuk keponakannya, pun segera mengambilnya di dalam mobil.
"Bi Darmi mau kemana?" tanya Venza yang melihat Bibinya hendak keluar rumah.
"Mau ambil baju ganti buat kamu, Nak. Tunggu sebentar ya, Bibi ambilkan dulu di mobil." Jawab Bi Darmi yang segera mengambilkan bajunya.
"Percuma aja pakai baju mewah, kalau ternyata suaminya lumpuh. Kasihan sekali nasibmu, menikah sama orang kaya tapi lumpuh. Contoh nih aku, yang sebentar lagi mau menikah dengan juragan tanah. Kemana-mana tidak ada yang ngomong, emang kamu, cih."
"Sudah sudah, ayo bibi temani kamu untuk mengganti baju. Kamu tidak perlu meladeni Ersa, yang ada kamu itu hanya akan membuang-buang waktumu saja." Ucap Bi Darmi yang langsung menarik tangan Venza masuk ke kamarnya.
Saat sudah berada di kamar, Venza dibantu Bi Darmi mengganti pakaiannya.
"Memangnya ini gak berlebihan ya Bi? aku kan gak biasa pakai baju yang seperti ini."
__ADS_1
"Kata siapa berlebihan, baju ini sangat cantik untuk kamu. Bibi yakin kalau Tuan Razen pasti tidak akan menolak." Jawab Bi Darmi sambil membenarkan pakaiannya.
"Bi, sebenarnya aku gak bisa."
"Kenapa? apa karena kamu takut dengan kondisinya saat ini? memang sih Tuan Razen tidak bisa berjalan, tapi dia orangnya baik, ya meski sedikit dingin. Tapi sebenarnya dia baik, asal kita bersikap baik. Percayalah sama Bibi, kamu akan aman dari ibu tiri kamu." Ucap Bi Darmi menjelaskan.
"Tapi Bi, bukan itu masalahnya. Yang jadi masalah itu, aku takut mengecewakan majikannya Bi Darmi, hanya itu."
"Tenang saja, kamu nanti akan menandatangani kontrak. Anggap saja kamu bekerja dengan majikannya Bibi."
"Dari pada kamu dijual sama ibu tiri kamu sama anaknya Pak Jali untuk menebus hutang ayahmu, pilih mana? kalau kamu menikah dengan anak majikannya Bibi, setidaknya hidupmu akan aman, karena ada Bibi yang satu rumah denganmu." Ucap Bi Darmi mencoba untuk menasehati.
"Kenapa bukan Ersa saja sih Bi? kenapa mesti aku yang selalu ketiban sial."
"Kamu itu tidak ketiban sial, justru ketiban durian runtuh. Nanti kamu hanya menjaga suami kamu, tabungan bulanan kamu juga akan terus menambah. Juga, kamu bisa melanjut kuliahmu. Jadi, ketika suami kamu menceraikan kamu, kamu pulang tidak dengan tangan kosong. Tenang saja, Bibi yang akan urus semuanya." Ucap Bi Darmi mencoba untuk meyakinkan.
__ADS_1
Venza yang tidak bisa berbuat apa-apa, dirinya hanya bisa pasrah, meski hati kecilnya menolak.