
Pak Erik yang melihat keanehan pada diri bosnya, pun ikut senang. Pasalnya, sesuatu yang diminta lain dari pada yang lain.
"Kalau begitu saya akan memesankan pesanan yang diinginkan Tuan Razen. Saya permisi dulu, Tuan." Ucap Pak Erik.
"Ya, cepetan." Jawab Razen.
Sedangkan di lain tempat, yakni di kampus, Alena tengah ditemani kedua adik iparnya untuk mendaftar kuliah.
"Nan," panggil Venza sambil mengisi formulir.
"Ya Kak, ada apa?"
"Kakak kok minder ya, soalnya usia Kakak paling tua keknya. Mendingan gak usah aja apa ya, Nan."
"Gak usah gimana maksudnya Kakak?"
"Gak usah kuliah, fokus merawat suami saja."
"Enggak boleh gitu, Kakak harus kuliah. Soalnya kalau Kak Venza gak kuliah, nanti yang nemani suami Kakak di kantor, siapa?"
"Kan cuma nemenin, masa harus kuliah."
"Bukan begitu, maksudnya nemani Kakak ikut membantu Kak Razen mengurus kantor." Jawab Nandin menjelaskan.
"Gitu ya, ya udah deh, Kakak akan kuliah. Jugaan ilmunya juga buat Kakak, kenapa dianggurin."
"Nah, gitu dong. Ya udah ya, aku mau ke toilet bentar. Tapi nanti, nunggu Kak Gilang datang, baru deh aku tinggalin Kakak."
__ADS_1
Tidak menunggu lama, Gilang datang dengan membawa tiga botol air mineral.
"Tuh Kak Gilang udah datang. Ya udah ya Kak, aku ke toilet sebentar." Ucap Nandini sambil menunjuk ke arah Gilang, kakak keduanya.
"Mau kemana kamu?" tanya Gilang.
"Ke toilet bentar, Kak Gilang temani Kakak ipar dulu ya." Jawab Nandini sambil memegangi perutnya.
"Awas kalau bohong, palingan juga mau ke kantin kamunya."
"Enggak dong Kak, aku serius kebelet." Jawab Nandini yang langsung meninggalkan Kakaknya.
Kini Venza tengah ditemani adik ipar laki-laki.
"Ini Kak, air minumnya. Silakan diminum, takut haus." Ucap Gilang sambil menyodorkan satu botol air mineral.
"Kakak tidak merepotkan, justru ini sudah menjadi tanggung jawabku menggantikan Kak Razen. Oh ya, udah selesai atau belum? atau masih ada yang belum mengerti, katakan saja Kak, gak perlu sungkan."
"Sudah semua kok, dan gak ada yang sulit. Oh ya, memangnya kamu gak ke kantor?"
"Nanti agak siangan gak apa-apa, buat absen."
"Enak ya jadi Bos itu, atau malah tambah pusing."
"Kalau pusing mah, itu sudah jelas. Oh ya Kak, silakan diminum."
"Ya, makasih." Jawab Venza dan meraih botol mineral yang ada di hadapannya dan segera minum.
__ADS_1
"Kak Venza gak keberatan kan, untuk kuliah?"
"Enggak kok. Sebenarnya dulu aku sudah kuliah, tapi mogok, padahal kurang satu semester lagi. Tapi--
"Gak perlu diceritakan juga gak apa-apa kok, itu privasi Kakak."
"Ya, makasih."
"Ekhem! ngobrolnya serius amat, awas ya kalau Kak Gilang pendekatan sama Kak Venza, bakal kena razia nanti sama aku."
Gilang langsung menoleh pada Nandini, dan menyentilnya.
"Aw! sakit, tau." Pekik Nandin sambil meringis dan mengusap keningnya yang baru aja mendapat sentil dari kakak laki-lakinya.
"Kalau ngomong itu dikasih rem, blong kan jadinya."
"Ya maaf, jugaan tadi itu cuma becanda. Kak Gilang aja yang terlalu serius, makanya buruan nikah. Salah sendiri disuruh nikah jawabnya entar entar, nanti keburu di enter sama aku gimana? kalau Kakak gak nikah nikah, aku kapan gilirannya? hem."
"Dah ngomongnya? dan buat Kakak ipar, gak perlu menanggapi serius omongannya Nandin, kadang bikin jengkel dia."
Nandin hanya nyengir kuda.
Saat itu juga, ponselnya Nandini berdering dan segera menerima panggilan telepon.
"Apa! serius Lu? ok dah, aku akan segera meluncur." Jawab Nandin lewat sambungan telepon, dan langsung diputus.
Gilang hanya mengernyit saat mendengar suara adiknya yang melengking.
__ADS_1