Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Merasa kecewa


__ADS_3

Ketika keduanya sama-sama kaget saat tabrakan, Venza maupun Gilang sama-sama berjongkok. Naas, gelang milik Gilang yang jatuh ke lantai lebih dulu diambil oleh Venza.


Betapa terkejutnya si Venza saat melihat gelang yang ada ditangannya dengan bandul yang sangat tidak asing.


"Kak-kak-kamu dapat gelang ini dari mana?" tanya Venza sambil mengamati gelang yang ada ditangannya itu.


"Aku mendapatkannya dari seseorang yang dulu pernah menabrak ku, tanpa disengaja ada gelang yang tertinggal dikancing baju kemejaku. Saat itu perempuan yang menabrak ku memakai masker, sepertinya masih anak kuliahan." Jawab Gilang dengan ingatannya di masa lalu.


Saat itu juga, Venza langsung mendongak dan menatap wajah adik iparnya.


"Kamu serius?" tanya Venza untuk memastikannya.


Gilang menganggukkan kepalanya.


"Aku serius, kamu kenal sama pemiliknya?" tanya Gilang balik bertanya karena dirinya juga ingin sekali mengetahui pemiliknya.


Tanpa disadari oleh keduanya, Ibunya dan Razen tengah mendengarkan obrolan keduanya, lantaran Razen yang tidak sabar menunggu istrinya dan meminta bantuan asisten rumah untuk membantu dirinya pindah ke kursi roda dan mengantarkan sampai dalam rumah.

__ADS_1


Tidak menunggu lama, Venza mengeluarkan bandul kalung miliknya dan menyatukan gelangnya yang ada kunci pembuka liontin miliknya Venza.


"Akulah pemiliknya, aku pemilik gelang ini." Jawab Venza yang tiba-tiba bibirnya terasa kelu saat mengatakan bahwa dirinya pemilik gelang tersebut.


Tidak hanya itu saja, Venza juga menunjukkan namanya yang ada didalam liontin miliknya.


"Jad-jadi gelang ini milikmu? ambillah, ini bukan milikku, tetapi milikmu." Ucap Gilang yang merasa kecewa ketika mengetahui siapa pemilik gelang tersebut.


Padahal Gilang menginginkan siapa pemilik gelang itu untuk menjadi kekasihnya, namun kenyataan berkata lain jika dirinya harus merelakan pemilik gelang menjadi istrinya sang kakak.


Razen yang sudah mendengarnya, pun teringat akan ucapan adik laki-lakinya saat menceritakan gelang itu, yakni akan menikahinya jika belum mempunyai kekasih. Namun, kenyataannya gelang itu milik istrinya sendiri.


Razen yang tidak ingin merusak suasana adiknya bersama istrinya, pun memilih pergi dan kembali ke kamarnya.


"Aw!" pekik Razen saat kursi rodanya menabrak kursi yang ada di ruang makan.


Saat itu juga, Venza maupun Gilang, juga ibunya dibuatnya kaget.

__ADS_1


Dengan reflek, Venza langsung berdiri dan berjalan cepat untuk mengejar suaminya yang menabrak kursi.


"Maaf, aku sampai lupa untuk mengambilkan air minum untukmu. Maaf, aku akan ambilkan." Ucap Venza merasa bersalah karena sudah meninggalkan suaminya di taman dengan lama menunggu.


"Tidak perlu, aku sudah tidak haus.Selesaikan dulu masalahmu dengan Gilang, jangan menggangguku." Jawab Razen dan melajukan kursi rodanya untuk menghindari istrinya.


Namun sayangnya, Razen tidak bisa melakukannya karena tertahan oleh istrinya.


"Aku akan mengantarkan kamu sampai kamar."


"Tidak perlu," kata Razen yang tetap menolak.


Namun tetap saja si Venza tidak menggubris ucapan suaminya, dan tetap mendorong kursi rodanya.


Sedangkan Gilang yang hendak melangkahkan kakinya untuk mendekati kakaknya, pun langsung dihalangi oleh ibunya.


"Biarkan kakakmu masuk ke kamar bareng istrinya, jangan kamu halangi dan juga jangan membuat masalah." Ucap ibunya mencoba untuk mengingatkan putra keduanya.

__ADS_1


Gilang yang merasa keberatan, pun tidak bisa berbuat apa-apa, lantaran yang menjadi suami Venza adalah kakak kandungnya sendiri.


__ADS_2