
Venza yang tubuhnya ditangkap oleh suaminya, seperti mimpi. Secara, Venza yang langsung melingkarkan kedua tangannya tepat di tengkuk leher suaminya.
Saat itu juga, Razen langsung menurunkan istrinya. Tidak hanya Venza saja yang terkejut, Ibu Restum sama pak Tejo ikut terkejut ketika melihat Razen bisa berdiri.
"Kak-kamu bisa berdiri?" tanya Venza yang langsung memeriksa kondisi suaminya di bagian kakinya.
Bahkan, Razen sendiri ikut-ikutan heran dengan kakinya yang mendadak bisa berdiri, juga lebih herannya lagi bisa menangkap tubuh istrinya yang jatuh dari pohon mangga. Entah kebetulan, atau memang mendapatkan keajaiban yang benar-benar di luar nalar. Mau heran juga sudah menjadi kenyataan, pikir Razen maupun Venza, juga ibu Restum sama pak Tejo.
"Ya, aku bisa berdiri." Jawabnya sambil mencoba untuk mengangkat kakinya dan melangkah ke depan untuk berjalan dari satu langkah ke langkah kaki yang berikutnya.
"Eh! iya, benar. Aku bisa berjalan, beneran, aku bisa berjalan." Sambungnya lagi sambil melangkahkan kakinya, juga balik lagi mendekati istrinya dan langsung memeluk, serta mengangkat tubuh istrinya.
__ADS_1
Setelah itu, Razen baru yakin jika dirinya bisa berjalan dengan normal. Begitu juga dengan Ibu Restum dan pak Tejo sangat senang melihat kesembuhan suaminya Venza.
"Ya, kamu bisa berjalan." Ucap Venza tersenyum senang melihatnya.
"Syukurlah, akhirnya kamu bisa berjalan, Nak. Ibu ikut senang melihatmu sudah bisa berjalan." Timpal ibu Restum ikut senang.
"Bapak juga ikut senang, akhirnya Nak Razen bisa berjalan dan sembuh." Ucap pak Tejo ikut menimpali dan juga merasa senang ketika suaminya Venza bisa kembali berjalan layaknya orang normal.
"Hari ini mungkin memang hari keberuntungan kamu sama Nak Venza. Ibu dan Bapak ikut senang melihatnya, apa sih yang tidak mungkin menjadi mungkin." Kata ibu Restum.
Venza dan Razen tersenyum bahagia.
__ADS_1
Karena harus kembali ke rumah dan takut keluarga mencari, Venza dan Razen pamit pulang dengan membawa buah mangga satu plastik besar dipangku oleh Venza yang kini duduk di kursi roda. Sedangkan Razen yang gantian mendorong kursi rodanya.
"Udah deh, mendingan aku turun saja. Nanti kalau kaki kamu sakit lagi, gimana?"
"Enggak, enggak akan sakit. Sudahlah, mendingan kamu diam aja. Jugaan sebentar lagi sampai di rumah Bi Darmi, kamunya jangan banyak protes." Jawab Razen yang tetap bersikukuh mendorong kursi roda.
Sampainya di depan rumah Bi Darmi, Razen merasa lega dan ingin secepatnya memberi kabar bahagia kepada keluarganya yang ada di kota.
"Sini, biar aku yang bawain buah mangganya. Kamu yang dorong kursi rodanya. Ini berat, biar aku aja yang bawa. Setelah ini, buatkan aku jus mangga, oke."
Venza mengangguk dan mengiyakan. Saat sudah berada di dalam rumah, Venza segera membuatkan jus mangga untuk suaminya. Sedangkan Razen tengah menghubungi keluarganya yang ada di kota.
__ADS_1
"Gilang kemana, lagi. Mama juga, Papa juga. Gak ada satu pun yang mau angkat telepon. Apa iya, mereka beneran mau datang ke sini? coba aku telepon si Nandin, sapa tahu aja dia mau angkat telepon." Gumamnya yang berkali-kali tidak mendapat jawaban ketika menghubungi keluarganya yang ada di kota.