
Karena tidak ada jawaban ketika menghubungi keluarganya yang ada di kota, Razen memilih untuk menemani istrinya yang sedang membuatkan jus untuk didirinya.
"Ini, jus mangga yang kamu minta. Maaf, aku tidak mencampurkan gula di dalamnya. Itu murni mangga dan air es sedikit, bagaimana, kamu suka?"
Razen langsung menerima satu gelas jus mangga buatan istrinya, dan langsung meminumnya.
"Wow! seger banget jus mangganya. Punya kamu mana?"
"Aku gak begitu suka dengan jus buah, dan aku lebih suka langsung makan buahnya." Jawab Venza yang sudah mengupas buah mangganya di piring.
Razen yang juga ingin menikmati buah mangga yang ada di piring, pun mengambilnya. Lalu, ia membedakan antara jus buah mangga dan mangga tanpa di jus.
"Ternyata lebih kerasa buah mangga tanpa di jus, ya. Pantas saja, kamu lebih menyukai buah mangga ini. Oh ya, besok hari pernikahan adik tiri kamu, 'kan?"
Venza mengangguk dan terlihat terpaksa untuk tersenyum.
"Ya, besok hari pernikahannya Ersa." Jawabnya tidak bersemangat.
"Kamu kenapa, Ven?" tanya Razen yang tiba-tiba merasa aneh dengan istrinya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, sudah waktunya istirahat, lebih baik kamu istirahat. Aku mau beres-beres rumah Bi Darmi." Jawab Venza beralasan, meski ada sesuatu yang ia sembunyikan.
Seketika, Razen langsung meraih tangan istrinya yang hendak pergi dari hadapannya, dan akhirnya Venza berada di dekapan suaminya.
"Kamu kenapa mendadak bersedih begitu, Ven? apa ada sesuatu yang kamu pendam? katakan saja padaku, aku siap mendengar keluh kesah mu."
Venza berusaha melepaskan diri dari suaminya, namun tenaganya lebih kuat suaminya ketimbang dirinya sendiri.
"Lepaskan, aku mau beres-beres rumah." Ucap Venza berusaha untuk melepaskannya.
"Katakan padaku, kamu kenapa mendadak murung dan tidak bersemangat gini? apa karena aku bisa berjalan, terus kamu ingat dengan surat perjanjian sebelum kita menikah? lupakan, aku sudah janji pada diriku sendiri, kalau aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Aku akan menjagamu dan membahagiakan kamu dengan segenap jiwa dan ragaku."
"Terus, apa?"
"Lepaskan dulu, aku ingin duduk." Jawab Venza sambil menyingkirkan tangan suaminya, Razen pun melepaskannya.
Kemudian, Venza maupun Razen duduk bersebelahan di sofa.
"Aku hanya merindukan ibuku, hanya itu saja." Ucapnya sambil melamun.
__ADS_1
Razen langsung memeluk istrinya.
"Apa karena pernikahannya Ersa?" tanya sang suami sambil memeluk istrinya.
Venza langsung merenggangkan pelukan dari suaminya, dan menatapnya.
"Aku tahu posisi kamu dimata ibu tiri kamu, dan saudara tiri kamu. Tapi, setidaknya ayah kamu sudah memihak dirimu. Sepertinya juga, ayah kamu mulai terbuka hatinya untukmu. Lalu, apa yang kamu pikirkan?"
"Aku hanya kangen ibu. Seandainya Ibuku selamat, aku tidak akan mempunyai ibu tiri yang kejam seperti ibunya Ersa. Juga, mungkin saja aku tidak akan dijadikan penebus hutang, dan-"
Tiba-tiba ucapannya terhenti begitu saja, dan seperti tidak mampu untuk menatap wajah suaminya. Kemudian, Venza langsung menunduk.
Razen yang mengerti akan suasana hati istrinya, dirinya sama sekali tidak mempermasalahkannya.
"Maaf, aku bukan bermaksud untuk membahas pernikahan kita. Aku hanya meluapkan kekesalanku soal ibu tiriku. Aku hanya merasa kesal, karena aku selalu di abaikan. Bahkan, aku harus bekerja keras untuk menyambung hidup keluargaku. Dan aku, aku harus memutuskan cita-citaku dari kecil, hanya itu."
Razen yang mendengar keluh kesah dari istrinya, langsung memeluknya kembali.
"Aku tidak akan merampas cita cita kamu, dan aku akan mewujudkannya. Izinkan aku untuk menjadi suami kamu seperti yang kamu harapkan. Juga, biarkan aku saja yang akan membahagiakan kamu." Ucap Razen sambil memeluk istrinya.
__ADS_1
Kemudian, Venza membalas pelukan dari suaminya.