Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Sampai di tempat tujuan


__ADS_3

Selama perjalanan menuju kampung halaman keluarga dari orang tuanya Venza, pun akhirnya sampai juga tepat di depan rumahnya yang begitu klasik dengan model rumah adat yang terlihat elegan.


Ayahnya Venza yang mendengar suara mobil di depan rumahnya, beliau segera keluar untuk melihat siapa tamunya.


Senyum merekah saat melihat adik perempuan yang turun dari mobil, tentu saja dapat mengetahui siapa yang datang.


Dengan buru-buru, ayahnya Venza berlarian untuk menghampiri putrinya yang baru saja sampai di halaman rumahnya.


Ersa dan ibunya yang penasaran karena ingin tahu, juga ikutan segera keluar dan melihat siapa orangnya yang datang.


Sedangkan Venza tengah membantu suaminya untuk turun dari mobil dibantu oleh ayahnya Venza dan Pak Erik selaku supir pribadi serta orang kepercayaan keluarga Pratama.


Ersa yang tengah melihat suami Venza yang susah payah untuk turun dari mobil, pun hanya memperhatikannya dari kejauhan, tepatnya di ambang pintu bersama ibunya.


"Jadi, beneran ya, Ma. Suami Venza gak bisa jalan dengan normal, duh kasihan sekali nasibnya."


"Makanya, jadi perempuan itu jangan bodoh seperti Venza. Cari suami tuh yang kaya raya dan juga tampan, jangan kek Venza, tampan sih tampan, tapi ca_cat, buat apa? palingan juga kita yang akan memanfaatkan kesempatan emas untuk meraup untung." Jawab ibunya yang masih berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan orang-orang yang tengah sibuk mengeluarkan barang-barang bawaan dari kota.


"Mama benar-benar hebat, bisa memanfaatkan kebodohannya Venza. Jadi, aku gak pusing pusing amat mikirin acara pernikahan. Uang dari Rendi bisa aku simpan, dan menikahnya pakai uang dari kompensasi Venza, lumayan irit kan, Ma?"

__ADS_1


"Betul sekali, anak kesayangan Mama ini jauh lebih pintar daripada Venza. Sudah sana, kamu pura pura temui Venza. Mama mau ganti baju dulu, bau asem soalnya." Ucap Ibunya Ersa.


Kemudian, Ersa segera keluar dari rumah untuk menghampiri Venza.


"Hei Venza, akhirnya kamu pulang juga ke rumah. Dia siapa? suami kamu mana?" sapa Ersa tanpa ada rasa takut.


"Dia suamiku, kenapa? bukannya kamu sudah tahu dari Mama atau Papa soal siapa suamiku, kenapa mesti bertanya lagi?"


"Ups, jangan ngegas dong. Ya aku kan cuma tanya, takutnya salah. Maaf ya, aku gak tahu kalau kamu suaminya saudara tiri aku. Aku kira sih, pasien baru dari kota." Ucap Ersa kepada Venza dan suaminya.


"Ersa, jaga ucapan mu." Ucap ayahnya Venza dengan tegas.


Ayahnya Venza segera masuk dan tidak peduli dengan sikap Ersa.


Juga dengan Venza sendiri sama sekali tidak memperdulikannya, dan memilih untuk mengajak suaminya masuk kedalam rumah dengan membawa tasnya. Sedangkan yang mendorong kursi rodanya yang tidak lain ayahnya sendiri.


Razen yang tadi mendengar olokan dari Ersa, pun begitu geram. Namun, sebisa mungkin untuk bisa menahan emosinya. Kedua tangannya sudah mengepal kuat, tetapi dirinya bisa apa? Razen hanya bisa menahan kekesalannya saat dirinya seolah mendapat ejekan dari Ersa. Razen menelan ludahnya dengan kasar saat hendak masuk kedalam rumah bersama ayah mertuanya.


"Sini, aku bantuin kamu bawain barang-barang mu." Ucap Ersa sambil meraih tas bawaannya.

__ADS_1


"Gak perlu, aku bisa membawanya, lagi pula isinya gak berat." Jawab Venza sambil menepis tangan Ersa.


"Sombong, mentang-mentang tinggal di kota sudah belagu." Ucap Ersa mendengus kesal sambil mengikutinya dari belakang.


Venza sama sekali tidak menanggapinya, baginya percuma saja jika harus melayani omongan dari Ersa, yang ada hanyalah memancing emosinya sendiri dan membuang-buang waktunya saja, pikir Venza sambil berjalan masuk kedalam rumah.


"Rupanya kalian sudah datang, Mama sangat senang dengan kedatangan kalian. Ayo masuk, maaf jika rumah orang tuanya Venza tidak semegah milikmu." Ucap Ibu tirinya Venza ketika menyambut kedatangan Venza dan Razen.


"Tidak apa-apa, yang terpenting nyaman untuk dijadikan tempat tinggal sementara." Jawab Razen sedikit terdengar seperti menahan kesal, lantaran teringat dengan ucapan Ersa ketika berada di depan rumah.


"Tentu saja nyaman, soalnya masih asri di kampung sini. Mama yakin kalau kamu akan betah tinggal di kampung." Ucap Ibu mertua yang statusnya ibu tirinya sang istri.


Sedangkan Bi Darmi yang paham seperti apa adik iparnya itu, pun hanya membatinnya saja.


"Permisi Mbak, Bang Toro, Tuan Razen harus istirahat. Soalnya tadi habis melakukan perjalanan jauh, dan jam istirahat tidak boleh diabaikan. Ini semua sudah menjadi perintah dari Tuan Garen untuk menjaga kesehatan Tuan Razen, juga istrinya, yakni Venza." Ucap Bi Darmi yang tidak ingin kesehatan majikannya menurun.


Ibu tirinya Venza yang juga tidak ingin kehilangan kesempatan emas untuk maraup untung lewat anak tirinya, pun mengizinkannya untuk istirahat. Meski sebenarnya ingin rasanya memberi tugas kepada Venza untuk memijat badannya, namun niatnya pun gagal.


Sudah menjadi kebiasaan ibu tirinya Venza yang selalu mendapat pijatan dari anak tirinya sendiri, pun kini harus menerima kedatangannya dengan tangan yang hampa.

__ADS_1


__ADS_2