Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Tidak ada pilihan lainnya


__ADS_3

Selesai buang air kecil, Razen dibantu istrinya duduk di tempat yang sudah dikhususkan untuknya membersihkan diri. Setelah itu, ia segera mencuci muka dan juga sikat gigi.


"Aku mau mandi, dan aku minta sama kamu untuk panggilkan pak Erik sekarang juga." Perintah Razen sambil menatap istrinya.


Venza yang mendapat perintah dari suaminya, sejenak diam dan berpikir. Lebih lagi sudah menandatangani surat perjanjian dengan ayah mertua, yakni untuk merawat suaminya dengan baik.


"Kenapa diam? buruan panggilkan pak Erik. Apa iya, kamu mau membantuku mandi? oh, jangan jangan kamu mulai tertarik denganku, ngaku aja."


"Jangan kepedean, saya gak tertarik sama sekali dengan kamu. Baiklah, aku akan panggilkan pak Erik sekarang juga." Jawab Venza yang merasa geram, lantas seolah dirinya mudah tertarik dengan laki-laki.


Venza yang tidak ingin berdebat dengan suaminya, ia langsung keluar dari kamar dan memanggil pak Erik.


"Venza, kok buru-buru, ada apa Nak?" tanya ibu mertua saat memergoki menantunya yang terlihat terburu-buru.


"Venza disuruh panggil pak Erik, Ma." Jawab Venza sedikit gugup.


"Panggil pak Erik? memangnya kenapa dengan Razen, Nak? apa dia berulah? menyakiti kamu? apa dia marah marah?" tanya ibu mertua memberi banyak pertanyaan.


"Enggak ada apa-apa kok, Ma. Juga, gak berulah. Cuma minta bantuin mandi, itu aja sih Ma. Soalnya tadi bilang gak mau dibantuin mandi sama Venza. Jadi, meminta Venza untik panggilkan pak Erik untuk bantuin mandi."


"Oh, ya udah panggilkan aja pak Eriknya. Ada kok di belakang rumah, tadi lagi bantuin Bi Darmi mengganti selang penyiraman bunga. Tenang aja, nanti Pak Erik akan memberi jawaban kepada Razen. Kamu yang sabar ya, kalau Razen terkadang bersikap kasar sama kamu. Maafkan Mama yang sudah merepotkan kamu."


"Tidak apa-apa kok Ma, Venza tidak merasa direpotkan. Ini memang sudah menjadi pilihan Venza, sedikitpun tidak ada beban. Venza bisa memaklumi nya kok Ma, jugaan kita belum saling mengenal, mungkin juga tidak mudah untuk akrab. Ya udah ya Ma, Venza mau panggil pak Erik dulu."


"Makasih ya Nak Venza, kami sekeluarga sangat beruntung karena mempunyai menantu seperti mu, yang mau menerima pernikahan dengan putra Mama. Ya udah kalau mau panggil pak Erik, silakan."


"Ya Ma, Venza tinggal dulu ya Ma, permisi." Jawab Venza tetap dengan sikap yang santun.


Karena tidak mau suaminya bertambah marah, Venza segera bergegas pergi ke belakang untuk memanggil pak Erik. Setelah itu, Venza mengajak pak Erik untuk ikut dengannya ke kamar suami.

__ADS_1


"Permisi Tuan, kata Nona Venza, Tuan memanggil saya."


"Benar Pak, saya mau minta bantuan sama Pak Erik untuk membantu saya mandi seperti biasanya. Soalnya saya tidak ingin dibantu istri saya, dengan alasan saya tidak tertarik dengannya." Jawab Razen sambil melirik ke arah istrinya.


Venza yang sadar diri atas pernikahannya yang hanya sebatas seperti jual beli, hanya bisa diam meski itu lumayan sakit untuk didengar.


Pak Erik justru tersenyum mendengarnya.


"Maaf Tuan, saya sudah tidak diizinkan lagi membantu Tuan untuk beraktivitas apapun, termasuk membantu Tuan Razen mandi. Jadi, semua yang biasa saya lakukan, sekarang sudah digantikan oleh Nona Venza dengan surat tertulis di atas hitam dan putih." Ucap Pak Erik yang menjelaskan dengan detail.


Razen yang mendengarnya, pun sangat terkejut.


"Pak Erik bilang apa tadi? digantikan dia?" tanya Razen dan menoleh ke arah istri.


Pak Erik menganggukkan kepalanya dan juga tersenyum.


"Benar, Tuan. Sekarang tugas saya sudah selesai, dan sudah digantikan oleh Nona Venza. Maafkan saya, Tuan. Semua ini Tuan Garen yang membuat keputusan ini, dan saya tidak bisa menolaknya." Jawab Pak Erik setengah menunduk.


"Sekarang juga pak Erik segera keluar, menyebalkan seperti Papa." Ucap Razen yang langsung mengusir pak Erik.


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi." Jawab Pak Erik dan bergegas keluar dari kamar majikannya setelah berpamitan.


Saat itu juga, pandangan Razen tertuju pada istrinya.


"Puas kamu sekarang? cepat kamu bantu aku mandi, awas saja kalau tidak bersih. Aku bakal beri hukuman sama kamu, paham. Satu lagi, tutup kedua matamu itu saat memandikanku."


"Tutup mata?" tanya Venza sambil berpikir bagaimana jadinya ketika memandikan seseorang dengan kedua matanya yang tertutup.


"Ya lah, tutup matamu itu. Aku tidak sudi berbagi pemandangan denganmu, yang ada kamu akan tergila-gila denganku." Jawab Razen dengan geram.

__ADS_1


Venza yang tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya menurutinya.


"Baiklah, aku akan menuruti permintaan kamu. Tunggu sebentar, aku akan ambilkan kain kecilnya." Ucap Venza dan mencoba mencari kain yang bisa ia gunakan untuk menutup kedua matanya agar tidak bisa melihat suaminya ketika bertel_anjang dada.


Setelah menemukan kain kecil, Venza segera masuk ke kamar mandi lagi. Kemudian, ia menutup kedua matanya sesuai perintah dari suaminya.


Razen yang sudah memastikan istrinya tidak dapat melihat, langsung meraih tangannya dan meminta untuk melepaskan bajunya, juga celana panjang yang menyisakan celana dal_amnya saja.


Setelah itu, Razen menutupnya dengan handuk.


'Ini bagaimana konsepnya? aku yang tak bisa melihat, dan suamiku yang tidak bisa jalan. Haruskah akan terus begini? benar-benar diluar nalar ku.' Batin Venza yang penuh keheranan atas permintaan dari suaminya.


"Ini sabun mandinya, awas saja kalau kamu mengambil kesempatan dariku. Aku bisa menghukum mu, paham."


"Makanya itu, jangan menyuruh ku untuk menutup kedua mataku ini. Kalau ditutupin seperti ini, yang ada aku akan menjadi penasaran." Jawab Venza yang justru balik menakuti istrinya.


Sejenak Razen mencoba untuk mencerna perkataan dari istrinya. Kemudian, ia praktek sendiri dengan cara memejamkan kedua matanya dan sambil menggosok dada bidangnya.


Seketika, Razen baru menyadarinya. Justru akan mudah terangsang saat matanya tertutup dan pikirannya yang bekerja.


Saat itu juga, Razen langsung berubah pikiran.


"Buka penutup mata kamu itu, dan lanjutkan tugasmu. Awas juga kalau kamu sampai kurang ajar denganku, aku bisa memberimu hukuman yang lebih." Perintah Razen yang tidak lupa untuk memberi ancaman kepada istrinya.


Venza yang diminta untuk melepaskan penutup kedua matanya, pun merasa lega.


"Ya, aku akan melepaskannya." Jawab Venza dan melepaskan kain penutup matanya.


Setelah itu, Venza melanjutkan untuk membantu suaminya membersihkan diri. Sebenarnya sangat gugup, namun mau bagaimana lagi, Venza sama sekali tidak mempunyai pilihan lain, dan pastinya sesuai kontrak perjanjian dengan ayah mertuanya.

__ADS_1


Begitu juga dengan Razen, dengan kondisinya yang cukup memprihatinkan, dirinya sendiri tidak berbuat apa-apa selain menerima kenyataan yang ada.


Rasa sakit yang masih membekas dalam ingatannya saat kekasihnya dengan terang-terangan memutuskan dirinya dengan alasan malu mempunyai pacar yang lumpuh, membuat Razen hilang semangatnya.


__ADS_2