Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Ketahuan


__ADS_3

Selesai makan, semua kembali ke kamarnya masing-masing, kecuali Gilang yang memilih duduk santai di ruang keluarga sambil menonton televisi.


"Kak Gilang, ngapain duduk di situ, biasanya sibuk di ruang kerja."


"Biarin aja, suka-suka Kakak dong. Kamu anak kecil mendingan diam, sana pergi jangan cerewet." Jawab Gilang tanpa menoleh pada adiknya, pandangannya fokus pada layar televisi.


"Enak aja ngatain anak kecil, aku tuh udah besar, ih! Kakak ini selalu ngatain aku anak kecil."


"Nandin, masuk ke kamar. Jangan mengganggu kakakmu Gilang, sana kembali ke kamarmu." Perintah Razen sebagai anak tertua.


"Ya deh ya, siap Bos." Jawab Nandin yang akhirnya masuk ke kamarnya.


Kini, tinggallah Gilang, Razen, dan Venza.


"Kamu masuk aja ke kamar, aku mau nonton televisi bareng Gilang. Tidak perlu kamu khawatir, nanti aku bisa minta tolong Gilang atau pak Erik untuk mengantarkan aku ke kamar. Jadi, istirahat lah di kamar." Perintah Razen pada istrinya.

__ADS_1


Venza yang tidak bisa melakukan penolakan, pun mengiyakan.


"Baik, aku duluan." Jawab Venza dan berpamitan masuk ke kamar.


Razen mengangguk, kemudian ia duduk di dekat adik laki-lakinya. Sedangkan kedua orang tuanya tidak lagi di rumah karena ada keperluan di luar.


Razen yang sudah duduk di dekat adiknya, mencoba untuk mengatur napasnya. Sedangkan Gilang masih fokus menonton televisi. Tanpa disadari, bahwa yang ia tonton sama dengan kisah dirinya bersama kakaknya. Hanya saja terbalik dalam posisi mereka berdua, yang mengalami sakit-sakitan yakni adiknya. Sedangkan dalam kenyataan, sang kakak lah yang mengalami sakit yang membuatnya tidak bisa berjalan.


Gilang langsung mematikan televisinya saat pihak perempuan lebih memilih suaminya yang sakit-sakitan.


"Kenapa dimatiin?" tanya Razen membuka suara.


"Pingin nonton televisi bareng kamu, gak boleh?"


"Boleh kok, aku gak ngelarang." Jawab Gilang, bahkan ia sampai lupa mematikan televisi.

__ADS_1


"Kalau boleh kenapa dimatiin?" tanya Razen sambil memperhatikan adiknya.


Gilang langsung menoleh dan keduanya saling menatap.


"Kamu marah ya sama Kakak? jujur saja, Kakak tahu kok, dari tadi kamu memperhatikan Venza."


"Enggak, siapa yang marah, aku gak marah. Aku cuma senang saja melihat Kakak mendapatkan perhatian dari istri Kakak, itu aja sih. Kalau untuk marah, marah yang bagaimana? Kak Razen gak perlu pikiran aneh-aneh." Jawab Gilang beralasan.


"Kamu suka kan, sama Venza? kamu kesal juga sama kenyataan, karena pemilik gelang itu menjadi istrinya Kakak." Ucap Razen yang langsung membicarakan pokok intinya.


"Suka? Kak Razen jangan mengada-ngada. Rasa kecewa itu pasti ada pada diriku, tapi gak mungkin juga aku merebut istri Kakak. Lagi pula istrinya Kakak belum tentu mau denganku. Jadi, Kak Razen tidak perlu membahasnya."


"Bagaimana Kakak tidak membahasnya? kamu sendiri lebih banyak diam sekarang, juga sering memperhatikan Venza. Kalau kamu menyukainya, Kakak akan melepaskannya untuk mu. Tapi ada syaratnya, jangan sakiti hatinya, dan jangan ..."


Seketika, Razen mengarahkan pandangannya dibawah anak tangga, dan begitu jelas melihat istrinya yang tengah berdiri sendirian.

__ADS_1


Saat itu juga, Gilang ikutan mengedarkan pandangannya di bawah anak tangga. Terkejut, itu sudah pasti.


Venza langsung berjalan mendekati dua lelaki kakak-beradik yang sedang duduk bersama di ruang keluarga. Razen maupun Gilang dibuatnya bingung harus mengatakannya apa.


__ADS_2